
Pada konferensi teknologi GTC baru-baru ini, Nvidia – raksasa chip – memberikan kesan yang kuat ketika mengumumkan platform chip AI baru bernama Blackwell Ultra. Platform ini merupakan peningkatan dari lini chip Blackwell yang sudah terkenal, tetapi kali ini, Nvidia memiliki ambisi yang lebih jelas: membantu AI tidak hanya merespons, tetapi juga bernalar seperti manusia. Menurut deskripsi Nvidia sendiri, Blackwell Ultra menyediakan daya komputasi yang unggul, memungkinkan model AI untuk menganalisis permintaan kompleks, memecahnya menjadi beberapa langkah, dan mempertimbangkan berbagai opsi, sesuatu yang sebelumnya hanya dapat dilakukan oleh manusia.
"Penalaran adalah langkah selanjutnya dalam AI yang melampaui peran chatbot dan memasuki dunia nyata," ujar CEO Nvidia, Jensen Huang. Untuk menunjukkan hal ini, Nvidia membandingkan waktu respons dari sebuah kueri yang kompleks: model AI R1 DeepSeek (sebuah startup AI Tiongkok) membutuhkan waktu 90 detik untuk diproses pada chip Hopper lama, sementara Blackwell Ultra hanya membutuhkan waktu 10 detik. Perbedaan performa ini tidak hanya mempercepat proses, tetapi juga membuka kemungkinan pemikiran yang lebih cepat dan mendalam bagi mesin.
"Model AI kini mulai berperilaku seperti manusia sungguhan, menganalisis dan berpikir sebelum merespons. Ini merupakan titik balik yang sangat besar," ujar Arun Chandrasekaran, pakar dari firma riset Gartner.
Perusahaan lain juga ikut serta dalam persaingan ini, bukan hanya Nvidia atau DeepSeek. Google telah mengintegrasikan kemampuan inferensi ke dalam keluarga model Gemini terbarunya, sementara Anthropic telah merilis Claude 3.7 Sonnet – sebuah model AI yang menggabungkan model penalaran "hibrida" (kombinasi berbagai metode inferensi dalam sistem AI atau dalam proses berpikir manusia). AI ini mampu merencanakan, melakukan banyak tugas sekaligus, dan bahkan membuat keputusan, yang sebelumnya hanya mungkin dilakukan oleh otak manusia.
Meskipun AI menunjukkan kemampuan yang luar biasa, para teknolog dan pemikir masih terus memperdebatkan pendekatan dan arah pengembangan AI agar benar-benar menjadi penggerak kemajuan sosial. Salah satu poin kuncinya adalah kemampuan untuk mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan selama transisi menuju era "AI berpikir". Bukan hal baru lagi bahwa model bahasa besar (LLM) seperti ChatGPT dapat memahami konteks, membuat penjelasan multidimensi, dan membangun respons cerdas. Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah: Pemikiran seperti apa yang akan dipelajari AI? Dan bagaimana manusia akan mengendalikan AI agar tidak dimanipulasi, bias, atau dieksploitasi?
Hoffman secara khusus menekankan peran manusia dalam melatih dan memandu AI. Ia mendesak para pengembang untuk transparan tentang prinsip-prinsip yang mereka gunakan dalam melatih model mereka. "Jika Anda mengembangkan AI yang menentang nilai-nilai progresif seperti kesetaraan atau keberagaman, Anda perlu menjelaskan dengan jelas mengapa Anda memilih pendekatan tersebut. Jika Anda ingin AI mencerminkan beragam sudut pandang, beri tahu pengguna ketika jutaan orang tidak setuju dengan Anda. Hal itu membantu pengguna memahami apa yang mereka gunakan." Ideologi ini mempromosikan kebebasan informasi dan kesadaran sosial, alih-alih membiarkan AI menjadi alat untuk memperkuat "gelembung ideologis" yang telah menyebabkan perpecahan di media sosial saat ini.
Selain perdebatan etika dan filosofis, tantangan lain terletak pada mendidik dan mempersiapkan generasi muda. Di dunia di mana AI semakin mendominasi banyak bidang, bagaimana kita bisa menghindari tersingkir? Jawabannya, menurut banyak ahli, bukanlah berusaha melawan AI, melainkan memperkuat kemampuan kita sendiri melalui AI.
Hoffman bercerita bahwa ia menggunakan AI untuk membantunya menulis buku, mulai dari meriset dan menganalisis argumen hingga menyarankan ungkapan yang lebih menarik. Menurutnya, ini bukan pengganti penulis, melainkan semacam "bekerja dengan mitra mesin". Ibarat seorang jurnalis memiliki asisten pribadi untuk meriset, mensintesis, dan memberi saran, tetapi pemilihan dan pengambilan keputusan tetap menjadi tanggung jawab manusia.
AI juga dapat menjadi alat untuk menyamakan kesempatan bagi mereka yang memiliki akses terbatas terhadap pengetahuan. Siswa di daerah pedesaan dapat menggunakan ChatGPT untuk berlatih menulis esai, belajar bahasa asing, dan mencari pengetahuan khusus yang sebelumnya membutuhkan tutor atau perpustakaan besar. Dengan akses yang tepat, AI dapat mempersempit kesenjangan pendidikan, keterampilan, dan pendapatan antarkelas sosial.
Namun, untuk mencapai hal tersebut, pengembang teknologi dan pemerintah perlu memiliki strategi yang jelas untuk melatih keterampilan digital, memastikan akses yang adil terhadap AI, dan mencegah risiko penyalahgunaan teknologi. Kebijakan perlu disertai dengan pedoman etika, regulasi teknis, dan perangkat kontrol yang efektif yang tidak menghambat inovasi.
[iklan_2]
Sumber: https://daidoanket.vn/ai-dang-tien-gan-hon-toi-tri-tue-con-nguoi-10302558.html






Komentar (0)