Untuk mengatasi kelemahan yang ditimbulkan akibat lemahnya kedudukan konsumen dalam hubungannya dengan badan usaha dan perseorangan dalam bertransaksi, maka Rancangan Undang-Undang Perlindungan Hak Konsumen (perubahan) telah diserap dan disempurnakan, dengan demikian menegaskan bahwa perlindungan hak konsumen merupakan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat dan perlindungan konsumen merupakan wujud perlindungan hak konstitusional setiap warga negara.
Anggota Komite Tetap Majelis Nasional, Ketua Komite Sains , Teknologi, dan Lingkungan Majelis Nasional, Le Quang Huy, menyampaikan laporan yang menjelaskan, menerima, dan merevisi rancangan Undang-Undang Perlindungan Hak Konsumen (yang telah diamandemen). (Foto: DUY LINH).
Sesuai agenda Sidang ke-5, pada pagi hari tanggal 26 Mei, Majelis Nasional membahas sejumlah isi RUU Perlindungan Hak Konsumen (perubahan) di ruang sidang dengan berbagai pendapat. Sebelum pembahasan, Majelis Nasional mendengarkan laporan penjelasan, penerimaan, dan revisi RUU yang disampaikan oleh anggota Komite Tetap Majelis Nasional, Ketua Komite Sains, Teknologi, dan Lingkungan Majelis Nasional, Le Quang Huy.
Langkah demi langkah membentuk inisiatif konsumen
Saat menyampaikan Laporan tentang penjelasan, penerimaan dan revisi rancangan Undang-Undang tentang Perlindungan Hak Konsumen (perubahan), Ketua Komite Sains, Teknologi dan Lingkungan Hidup Le Quang Huy mengatakan bahwa rancangan Undang-Undang tersebut, setelah diterima dan direvisi menurut pendapat para deputi Majelis Nasional pada Sidang ke-4 dan pendapat delegasi Majelis Nasional dan lembaga terkait, telah memenuhi sudut pandang, tujuan dan persyaratan yang ditetapkan saat mengubah Undang-Undang tersebut.
Secara khusus, Undang-Undang Perlindungan Hak Konsumen ditetapkan sebagai peraturan perundang-undangan umum dalam sistem dokumen hukum perlindungan hak konsumen, dan menjadi acuan serta dasar acuan dalam proses penyusunan atau pelaksanaan dokumen hukum lain yang terkait dengan perlindungan hak konsumen.
Undang-Undang tersebut menegaskan bahwa perlindungan hak konsumen merupakan tanggung jawab bersama seluruh lapisan masyarakat dan perlindungan konsumen merupakan upaya melindungi hak konstitusional setiap warga negara; mengatasi kelemahan akibat lemahnya kedudukan konsumen dalam hubungan dengan badan usaha dan perseorangan dalam bertransaksi; membekali konsumen dengan pengetahuan dan keterampilan secara bertahap sehingga terbentuklah inisiatif konsumen.
Selain itu, Undang-Undang ini bertujuan untuk memastikan keseimbangan dalam transaksi perdata antara konsumen dan organisasi bisnis dan produksi serta individu, melindungi hak dan kepentingan konsumen yang sah, dan pada saat yang sama memastikan hak dan kepentingan yang sah dari organisasi bisnis dan individu yang sah; memperkuat perlindungan hak-hak konsumen dalam transaksi dunia maya dan lintas batas.
Terkait hak dan kewajiban konsumen, Ketua Komisi Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Lingkungan Hidup menyampaikan bahwa dengan memperhatikan pendapat anggota DPR, dalam Rancangan Undang-Undang ini telah ditambahkan ketentuan pada Pasal 4 Ayat 10 yang menyatakan bahwa konsumen dalam menggunakan pelayanan publik berhak memperoleh perlindungan hukum sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini dan peraturan perundang-undangan lainnya yang terkait.
Delegasi yang menghadiri pertemuan pada pagi hari tanggal 26 Mei. (Foto: DUY LINH).
Sementara itu, untuk mencegah penyediaan jasa yang tidak menjamin mutu, RUU ini menambahkan Pasal 36 tentang tanggung jawab badan usaha dan perseorangan dalam penyediaan jasa (termasuk jasa publik) yang tidak sesuai dengan konten yang terdaftar, yang diberitahukan, yang diumumkan, atau yang dikontrakkan.
Selain itu, RUU ini juga menambahkan Pasal 5 tentang kewajiban konsumen, khususnya: “Memastikan penyediaan informasi yang akurat dan lengkap terkait transaksi antara konsumen dengan badan usaha dan perorangan. Bertanggung jawab atas penyediaan informasi yang tidak akurat atau tidak lengkap sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”
Perlindungan konsumen dalam transaksi tertentu
Beberapa pendapat menyarankan perlu adanya kejelasan isi dan solusi untuk melindungi hak konsumen dalam bertransaksi di dunia maya, guna menjamin hak-hak yang sah bagi para pihak yang terlibat, antara penjual dan pembeli.
Menurut Ketua Komisi Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Lingkungan Hidup, Rancangan Undang-Undang tersebut memuat banyak ketentuan khusus tentang perlindungan hak konsumen dalam transaksi antara konsumen dengan badan usaha dan perseorangan pelaku usaha di dunia maya, seperti pengaturan tentang transaksi di dunia maya, transaksi di platform digital, pengaturan tentang tanggung jawab umum badan usaha dan perseorangan pelaku usaha di dunia maya, tanggung jawab khusus badan usaha yang mendirikan dan menyelenggarakan platform digital perantara, pengesahan identitas badan usaha dan perseorangan pelaku usaha barang dan jasa di platform digital, dan lain sebagainya.
Suasana sidang Majelis Nasional pada pagi hari tanggal 26 Mei. (Foto: DUY LINH).
Selain itu, Bab II RUU tersebut juga memuat ketentuan mengenai tanggung jawab perlindungan informasi konsumen, penyelesaian dan pemutusan kontrak, penerimaan dan penanganan pengaduan, tanggung jawab terhadap produk dan barang cacat, pelayanan yang tidak menjamin mutu, tidak sesuai dengan yang diumumkan, dan sebagainya.
Selain itu, konten ini juga diatur dalam undang-undang tentang perdagangan elektronik (e-commerce) serta peraturan perundang-undangan terkait lainnya.
Terkait dengan kegiatan organisasi kemasyarakatan untuk perlindungan hak konsumen, dalam RUU ini banyak diatur ketentuan yang memungkinkan organisasi kemasyarakatan ikut serta dalam perlindungan hak konsumen (termasuk Ikatan Perlindungan Konsumen), seperti mewakili konsumen dalam mengajukan gugatan hukum apabila diminta dan diberi kuasa, atau mengajukan gugatan hukum sendiri untuk melindungi hak konsumen demi kepentingan umum.
Sementara itu, Rancangan Undang-Undang tersebut telah mengatur secara khusus mengenai kegiatan Perkumpulan dalam rangka turut serta melindungi hak-hak konsumen dan secara jelas mengklasifikasi jenis-jenis organisasi kemasyarakatan agar memiliki landasan dalam melaksanakan tugas yang diberikan Negara, dukungan dana, dan syarat-syarat lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Terkait penyelesaian sengketa di pengadilan, Panitia Tetap Majelis Nasional memilih opsi mengatur secara jelas penerapan prosedur yang disederhanakan untuk menyelesaikan perkara perdata tentang perlindungan hak konsumen.
Bersamaan dengan itu, untuk memastikan bahwa transaksi senilai 100 juta VND atau lebih tetap dapat menerapkan prosedur sederhana sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Perdata, RUU ini diubah dengan arahan agar perkara perdata perlindungan hak konsumen diselesaikan menurut prosedur sederhana sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Hukum Acara Perdata apabila memenuhi ketentuan Pasal 317 Ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Perdata atau apabila memenuhi sejumlah syarat khusus yang ditentukan dalam RUU ini.
| Rancangan Undang-Undang ini telah meninjau, menyesuaikan, dan menyempurnakan peraturan untuk memastikan keseimbangan kepentingan organisasi bisnis dan individu dalam hubungannya dengan konsumen. |
Di samping itu, dengan menyerap pendapat para deputi Majelis Nasional, rancangan Undang-Undang tersebut telah meninjau, menyesuaikan, dan menyempurnakan peraturan untuk memastikan keseimbangan kepentingan organisasi bisnis dan individu dalam hubungan mereka dengan konsumen.
Rancangan Undang-Undang Perlindungan Hak Konsumen (perubahan) setelah diserap dan direvisi meliputi 7 Bab, 79 Pasal; mengubah dan melengkapi 63 Pasal (termasuk Pasal yang dihapus, dipindahkan menjadi Pasal lain, dan melengkapi 2 Pasal), mempertahankan 16 Pasal dan melengkapi Klausul 5 Pasal 317 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Perdata untuk menjamin konsistensi dan sinkronisasi sistem hukum terkait perlindungan hak konsumen.
Sesuai perkiraan, setelah dibahas oleh Majelis Perwakilan Rakyat di aula pagi ini, Rancangan Undang-Undang Perlindungan Hak Konsumen (perubahan) akan segera diputuskan dan disahkan dalam rapat pada sore hari tanggal 20 Juni.
Menurut: nhandan.vn
[iklan_2]
Tautan sumber






Komentar (0)