![]() |
Sepanjang sejarah dunia , terdapat tokoh-tokoh yang muncul sebagai simbol kekuasaan sekaligus kompleksitas budaya – salah satunya adalah Sultan Suleiman I dari Kekaisaran Ottoman.
Buku "Suleiman Agung - Zaman Keemasan Kekaisaran Ottoman" karya André Clot, yang diterbitkan oleh Bachvietbooks, merupakan jendela berharga untuk memahami gambaran cemerlang namun kontradiktif dari era kejayaan ini.
Bagi banyak pembaca, sejarah dunia Islam, khususnya Kekaisaran Ottoman, pendahulu Republik Turki saat ini, mungkin masih menjadi celah pengetahuan. Oleh karena itu, penerbitan buku ini tidak hanya mengisi kesenjangan pengetahuan tersebut tetapi juga menawarkan kesempatan untuk menjelajahi sebuah kekaisaran yang pernah meliputi Timur Tengah, Afrika Utara, dan sebagian Eropa, dengan budaya yang beragam termasuk Arab, Yunani, Slavia, dan, tentu saja, Turki.
![]() |
Kitab Agung Suleiman . Foto: BBB . |
Suleiman bukan hanya seorang penakluk yang brilian, tetapi juga seorang pembuat undang-undang, pelindung seni, dan pendiri periode paling makmur Kekaisaran Ottoman. Menariknya, namanya – “Suleiman” – dipilih secara acak dari halaman-halaman Al-Quran.
Dan seolah-olah takdir telah menetapkan masa depan yang cemerlang bagi pangeran yang baru lahir, nama Suleiman dipilih, yang merupakan transliterasi bahasa Arab dari Solomon – raja terkenal dalam Talmud Yahudi, yang dikaitkan dengan kebijaksanaan luar biasa dan kekuasaan tertinggi.
Dunia Barat pada Abad Pertengahan menganugerahi Suleiman I gelar "Yang Agung," yang berarti megah, indah, cemerlang, dan mulia—istilah yang dapat diterjemahkan secara singkat ke dalam bahasa Vietnam sebagai "Agung." Ini adalah kata yang mengungkapkan kombinasi kekaguman dan ketakutan. Di bawah pemerintahannya, tentara Ottoman meluas hingga ke Eropa Tengah, mengalahkan Kerajaan Hongaria dan mengepung Wina, jantung Eropa. Sementara itu, di pihak lawan, Kaisar Charles V—yang berkuasa atas Kekaisaran Romawi Suci, Spanyol, dan wilayah Eropa Barat—menjadi saingan terbesar dalam bentrokan antara peradaban Islam dan Kristen.
Lebih dari sekadar menggambarkan seorang raja, buku ini memperluas perspektifnya tentang seluruh sistem kekaisaran: dari hukum, budaya, dan seni hingga kehidupan istana. Salah satu hal yang sangat menarik adalah enam belas lampiran terperinci di akhir buku, yang membantu pembaca lebih memahami struktur sosial, sistem administrasi, dan bahkan anekdot mengejutkan tentang Suleiman dan istananya.
Salah satu ciri paling mencolok dari Kekaisaran Ottoman adalah sistem Haremnya, yang dulunya dianggap terlepas dari politik , tetapi di bawah pemerintahan Suleiman, sistem ini menjadi pusat kekuasaan yang sesungguhnya.
Istilah "Harem" kini banyak digunakan dalam manga dan anime Jepang. Ini adalah istilah slang dalam bahasa Inggris yang berarti sekelompok wanita yang berbagi suami, tetapi asalnya dari era Ottoman sebagai "harem kekaisaran." Buku The Great Suleiman akan memberi Anda banyak informasi menarik tentang segala hal yang berkaitan dengan "Harem," terutama bagaimana harem akhirnya menjadi tak terpisahkan dari istana kekaisaran dan sangat terlibat dalam urusan politik Kekaisaran Ottoman, menjadi pusat kekuasaan politik dan budaya di dalam istana.
Selain itu, unsur yang sama mengejutkannya adalah hukum "pembunuhan saudara"—yang mengizinkan raja untuk membunuh saudara-saudaranya sendiri dan keturunan mereka untuk memastikan penyatuan kekuasaan. Ini terdengar brutal, tetapi dianggap sebagai tindakan yang diperlukan untuk menjaga ketertiban dalam dinasti yang dilanda konflik internal.
Aspek unik lainnya adalah penggunaan budak oleh Kekaisaran Ottoman. Alih-alih memperlakukan mereka sebagai kelas yang lebih rendah, kekaisaran melatih orang-orang Kristen yang ditawan, terutama selama masa perang, untuk menjadi pejabat, tentara, dan bahkan penasihat dekat raja.
Dua tokoh paling terkemuka adalah Wazir Agung Ibrahim dan Permaisuri Hürrem Sultan – keduanya dulunya adalah budak sebelum menjadi tokoh paling berpengaruh di istana. Fleksibilitas dan "keterbukaan" yang tak terduga ini memungkinkan kekaisaran Islam yang tampaknya konservatif untuk memiliki sistem kepegawaian yang sangat efektif.
Tidak mungkin untuk tidak menyebutkan detail "mengejutkan" lainnya: angkatan laut Ottoman menggunakan bajak laut sebagai kekuatan resmi. Hal ini membuat mereka ditakuti sekaligus dihormati karena keberanian mereka dalam mengorganisir dan memanfaatkan kekuatan maritim.
Bahasa Ottoman juga merupakan perpaduan yang menarik: bahasa Turki berpadu dengan bahasa Arab dan Persia, menciptakan sistem bahasa yang dikenal sebagai Turkisme Ottoman – mencerminkan pertukaran budaya yang mendalam di wilayah tersebut. Untuk membantu pembaca agar tidak kewalahan, buku ini menyertakan glosarium di bagian akhir, yang sangat berguna bagi pemula.
Jika Anda menyukai sejarah, terutama kisah-kisah epik tentang kekaisaran dan raja-raja yang agung, maka *Suleiman Agung - Zaman Keemasan Kekaisaran Ottoman* adalah buku yang wajib dibaca. Buku ini tidak hanya memberikan pengetahuan tetapi juga memicu refleksi tentang kekuasaan, keadilan, iman, dan nasib mereka yang terjebak dalam mesin sejarah.
Sumber: https://znews.vn/de-che-hoi-giao-post1554326.html













Komentar (0)