
Bitcoin, mata uang kripto terbesar di dunia , turun lebih dari 2%, diperdagangkan sekitar $68.460, menghapus keuntungan hari sebelumnya ketika melampaui $70.000. Ether juga turun sekitar 2,8%.
Alasan utamanya adalah ketakutan yang timbul dari ultimatum yang dikeluarkan oleh Presiden AS Donald Trump kepada Iran mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz – jalur perdagangan minyak yang sangat penting. Ketegangan geopolitik tidak hanya menyebabkan Bitcoin jatuh tetapi juga mendorong harga minyak mentah Brent naik sebesar 50% sejak Februari 2026, memberikan tekanan signifikan pada sentimen investor global. Bersamaan dengan mata uang kripto, indeks saham AS dan kontrak berjangka S&P 500 juga mengalami penurunan secara bersamaan.
Rachael Lucas, seorang ahli di BTC Markets, percaya bahwa Bitcoin masih memiliki tren penurunan dalam jangka pendek dan menengah. Pasar saat ini berada dalam kondisi "tunggu dan lihat": pembeli kurang percaya diri untuk mempertahankan momentum kenaikan, sementara penjual kurang memiliki kekuatan untuk menciptakan penurunan tajam. Meskipun demikian, Bitcoin tetap relatif stabil karena tekanan jual dari institusi menunjukkan tanda-tanda mereda. ETF Bitcoin spot yang terdaftar di AS mencatat arus masuk bersih sebesar $471,3 juta pada tanggal 6 April, setelah $22,3 juta pada minggu sebelumnya. Sejak awal Maret 2026, harga Bitcoin sebagian besar berfluktuasi antara $65.000 dan $75.000.
Menurut pakar Lucas, masa depan bitcoin akan bergantung pada dua faktor kunci: gencatan senjata yang menurunkan harga minyak di bawah $100 per barel dan pengesahan Undang-Undang Transparansi Pasar Aset Digital (Digital Asset Market Transparency Act) oleh AS pada akhir April 2026 – sebuah tonggak hukum penting untuk membuka aliran modal dari investor besar.
Sumber: https://vtv.vn/bitcoin-roi-moc-70000-usd-100260407175109547.htm











Komentar (0)