
Guncangan harga minyak tahun 2022 setelah konflik Rusia-Ukraina, krisis gas Eropa, atau gelombang panas berkepanjangan yang menekan sistem energi global telah menunjukkan bahwa energi bukan hanya "pembuluh darah" perekonomian , tetapi juga faktor yang terkait erat dengan keamanan nasional, stabilitas sosial, dan daya saing internasional. Oleh karena itu, banyak negara ekonomi besar telah menerapkan strategi jangka panjang untuk mendiversifikasi sumber pasokan, meningkatkan cadangan strategis, dan mendorong transisi ke energi terbarukan—arah yang dianggap sebagai kunci untuk memastikan ketahanan energi berkelanjutan di era baru.
Cadangan - garis pertahanan pertama
Salah satu pelajaran terbesar dari krisis energi di masa lalu adalah bahwa ketergantungan yang berlebihan pada satu sumber pasokan dapat berubah menjadi "kerentanan strategis". Oleh karena itu, banyak negara berfokus pada diversifikasi sumber energi mereka, membangun cadangan strategis, dan memperkuat infrastruktur impor.
Di AS, pemerintah telah berinvestasi besar-besaran dalam Cadangan Minyak Strategis (SPR), yang saat ini merupakan cadangan terbesar di dunia dengan kapasitas lebih dari 700 juta barel. Selama lonjakan harga minyak tahun 2022, AS melepas lebih dari 180 juta barel untuk menstabilkan pasar dan mengurangi tekanan inflasi. Di saat yang sama, AS telah memperluas jaringan pasokan gas alam cair (LNG), mendorong ekspor ke Eropa dan Asia untuk meningkatkan fleksibilitas rantai pasokan.
Jepang, salah satu negara pengimpor energi terbesar dunia, telah lama menganggap diversifikasi sumber impornya sebagai kunci untuk menjamin ketahanan energi. Negara ini mempertahankan cadangan minyak nasional yang cukup untuk penggunaan lebih dari 160 hari, sembari meningkatkan impor LNG dari mitra-mitra seperti Australia, Amerika Serikat, dan Qatar untuk mengurangi risiko geopolitik. Jepang juga terus berinvestasi dalam proyek-proyek energi hidrogen dan amonia – sumber energi alternatif yang diharapkan dapat terwujud dalam jangka panjang.
Di Korea Selatan, strategi "tiga cabang" yang terdiri dari perluasan cadangan minyak dan gas, pembangunan fasilitas penyimpanan LNG modern, dan penguatan hubungan energi dengan Timur Tengah, Amerika Serikat, dan Asia Tenggara telah membantu negara tersebut menjaga stabilitas pasokan. Korea Selatan telah membangun sistem cadangan minyak strategis hingga sekitar 140 juta barel, sembari memberikan perhatian khusus pada pengembangan teknologi penyimpanan energi (ESS) untuk meningkatkan kemampuannya dalam merespons gangguan pasokan.
Titik balik energi terbarukan
Jika cadangan strategis merupakan "perisai" terhadap guncangan jangka pendek, maka energi terbarukan merupakan solusi jangka panjang untuk masalah ketahanan energi berkelanjutan. Krisis gas Eropa tahun 2022–2023 dengan jelas menunjukkan bahwa negara-negara dengan pangsa energi terbarukan yang lebih tinggi lebih mampu menahan fluktuasi pasokan.
Selama dekade terakhir, AS telah menggandakan kapasitas tenaga angin dan suryanya, menjadikan energi terbarukan mencapai lebih dari 20% produksi listrik nasional. Undang-Undang Pengurangan Inflasi (IRA) tahun 2022 – paket dukungan energi hijau terbesar dalam sejarah negara ini – telah memberikan dorongan yang kuat, memacu investasi ratusan miliar dolar dalam penyimpanan baterai, kendaraan listrik, dan hidrogen.
Jepang menargetkan energi terbarukan menyumbang setidaknya 36–38% dari total pembangkit listriknya pada tahun 2030, dengan fokus pada tenaga angin dan surya lepas pantai. Pemerintah juga sedang mempromosikan program "Masyarakat Hidrogen", yang meletakkan dasar bagi komersialisasi hidrogen hijau dalam transportasi dan industri berat.
Korea Selatan telah memilih jalur "Net-Zero 2050" dengan strategi yang berfokus pada energi angin lepas pantai dan penyimpanan baterai skala besar. Pemerintah menargetkan pengurangan emisi sebesar 40% pada tahun 2030 dibandingkan dengan tingkat emisi tahun 2018, sekaligus memperluas investasi dalam infrastruktur transmisi untuk menghubungkan wilayah-wilayah penghasil energi terbarukan.
Pelajaran dari Eropa

Krisis energi yang dialami Eropa setelah Rusia menghentikan pasokan gas pada tahun 2022 merupakan pengingat nyata akan risiko ketergantungan. Selama bertahun-tahun, lebih dari 40% gas Uni Eropa berasal dari Rusia. Ketika konflik pecah di Ukraina, ketergantungan ini menjadi "titik kritis strategis", yang mendorong harga energi ke rekor tertinggi dan memberikan tekanan luar biasa pada perekonomian.
Namun, Uni Eropa telah merespons dengan cepat melalui serangkaian langkah drastis. Program REPowerEU diluncurkan dengan tujuan mengurangi impor gas dari Rusia hingga dua pertiga hanya dalam satu tahun. Negara-negara anggota telah meningkatkan impor LNG dari AS, Qatar, dan Norwegia, serta memperluas fasilitas penyimpanan untuk memastikan cadangan gas untuk musim dingin. Eropa juga telah mempercepat proyek energi terbarukan, dengan kapasitas pembangkit listrik tenaga angin dan surya baru yang diperkirakan akan mencapai rekor tertinggi pada tahun 2023.
Akibatnya, pada akhir tahun 2023, pangsa gas Rusia dalam total impor Uni Eropa akan turun di bawah 15%, yang menunjukkan efektivitas kebijakan diversifikasi pasokan. Pelajaran dari Eropa menunjukkan bahwa kombinasi cadangan strategis, diversifikasi mitra, dan investasi dalam energi bersih merupakan kunci untuk meningkatkan ketahanan sistem energi.
Lebih dari sekedar energi
Ketahanan energi kini bukan lagi sekadar isu teknis atau ekonomi. Ketahanan energi telah menjadi bagian inti dari strategi keseluruhan setiap negara—terkait dengan tujuan keamanan nasional, pembangunan berkelanjutan, dan posisi geopolitik. Dalam konteks dunia yang memasuki era transisi hijau, penguasaan teknologi energi baru, pembangunan rantai pasokan yang fleksibel, dan pemeliharaan swasembada pasokan akan menentukan tidak hanya stabilitas domestik, tetapi juga daya saing dan pengaruh di kancah internasional.
Masa depan ketahanan energi akan dibentuk oleh pilar-pilar utama seperti energi terbarukan, hidrogen hijau, penyimpanan baterai generasi mendatang, dan jaringan pintar. Di saat yang sama, persaingan untuk mengamankan pasokan akan bersifat global dan membutuhkan kerja sama yang lebih erat antarnegara. Inisiatif seperti Aliansi Hidrogen antara Jepang, Korea Selatan, dan Eropa, atau upaya terkoordinasi untuk berbagi LNG antara AS dan Uni Eropa, menunjukkan bahwa energi sedang menjadi "front" strategis baru dalam diplomasi dan aliansi internasional.
Para analis mengatakan bahwa dalam dekade mendatang, energi tidak hanya akan menjadi "bahan bakar" bagi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tolok ukur kemampuan setiap negara untuk merespons fluktuasi dan beradaptasi. Siapa pun yang pertama kali merombak sistem energi akan memiliki keuntungan tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga dalam hal posisi strategis dalam tatanan global.
Sumber: https://baotintuc.vn/kinh-te/buoc-ngoat-chien-luoc-cho-nang-luong-viet-nam-bai-cuoi-thuoc-do-nang-luc-ung-pho-truoc-bien-dong-20251014075158050.htm






Komentar (0)