
Konsumen berbelanja di sebuah supermarket di California, AS. (Foto: THX/TTXVN)
Menurut perkiraan terbaru dari National Retail Federation (NRF), penjualan selama musim liburan tahun ini (1 November-31 Desember) diperkirakan akan melampaui angka $1 triliun untuk pertama kalinya, tumbuh 3,7-4,2% dibandingkan tahun lalu. Angka yang mengesankan ini muncul di tengah keyakinan konsumen yang sangat rendah.
Mark Mathews, kepala ekonom di NRF, mengatakan konsumen masih sangat khawatir tentang inflasi dan tren harga. Ia menunjukkan bahwa, tanpa memperhitungkan periode pascapandemi, terakhir kali kepercayaan konsumen serendah ini terjadi pada awal 1980-an. Namun, ia juga mencatat bahwa fakta yang mengejutkan selama beberapa tahun terakhir adalah konsumen terus berbelanja secara intensif, terlepas dari penilaian mereka terhadap situasi secara keseluruhan.
Ekonomi terbesar di dunia ini masih menghadapi banyak tantangan. Dampak penutupan pemerintah selama 43 hari, yang menyebabkan ratusan ribu pegawai federal kehilangan gaji, telah menurunkan permintaan untuk sementara waktu, meskipun situasi diperkirakan akan pulih dengan cepat. Selain itu, kebijakan tarif pemerintah yang fluktuatif juga dapat memengaruhi beberapa produk.
Namun, para ahli yakin bahwa persaingan yang ketat di pasar akan menjadi kunci untuk menjaga harga tetap terkendali. Presiden NRF, Matt Shay, mengatakan para peritel mengambil "pendekatan proaktif dan agresif" untuk menghindari beban biaya yang dibebankan kepada konsumen. Persaingan, terutama dalam transaksi daring, akan membantu pembeli menghindari kenaikan harga yang signifikan.
E-commerce terus menjadi pendorong utama musim belanja liburan. Penjualan online diperkirakan mencapai $253,4 miliar, naik 5,3% dari tahun ke tahun, menurut Adobe Analytics. Selama periode puncak 10 hari dari Black Friday hingga Cyber Week, pengeluaran harian dapat mencapai rekor $5 miliar.
Namun, di balik angka keseluruhan yang mengesankan ini, terdapat gambaran pengeluaran pribadi yang lebih hati-hati. Sebuah survei dari Conference Board menemukan bahwa warga Amerika berencana untuk menghabiskan rata-rata $990 pada musim liburan ini, turun 6,9% dibandingkan tahun 2024. Stephanie Guichard, ekonom senior di Conference Board, mengatakan konsumen menunjukkan tren "moderasi" setelah bertahun-tahun berhemat akibat inflasi. Mereka lebih fokus membeli barang-barang penting sebagai hadiah daripada barang mewah. Tren "beli sekarang, bayar nanti" juga semakin berkembang, memungkinkan orang untuk mencicil pembayaran.
Musim liburan ini juga menyaksikan munculnya teknologi belanja baru. Chatbot kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT dan Gemini menjadi alat yang ampuh untuk membantu pengguna menemukan produk dan penawaran terbaik. Data dari Adobe menunjukkan bahwa lalu lintas ke situs ritel dari sumber AI meningkat 1.200% pada bulan Oktober dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dan pengguna ini melakukan pembelian dengan tingkat 16% lebih tinggi.
Selain itu, "perdagangan sosial", yaitu penjualan langsung kepada konsumen di platform media sosial, juga merupakan tren yang patut diperhatikan. Toko-toko, melalui influencer media sosial (KOL), sering kali menawarkan kode diskon menarik, yang secara efektif mendorong penjualan.
Dalam hal barang-barang populer, para ahli memprediksi Nintendo Switch 2 dan iPhone 17 terbaru akan menjadi produk teknologi yang paling diminati. Selain itu, dengan ketidakpastian ekonomi yang menyebabkan orang-orang kurang bergerak, peralatan rumah tangga dan perlengkapan perbaikan rumah juga akan menjadi pilihan populer di keranjang belanja orang Amerika pada musim liburan ini.
Sumber: https://vtv.vn/chi-tieu-mua-le-hoi-cuoi-nam-tai-my-co-the-dat-ky-luc-100251125102703815.htm






Komentar (0)