Seluruh pameran dibagi menjadi 7 area utama, yang disusun seperti studio film mini: Memori Sinematik, Studio Film Digital (Produksi Virtual), Transformasi Metaverse, area tampilan poster dan kostum, Motion Capture, adegan VR (Realitas Virtual), dan area check-in video 360.
Begitu memasuki Cinema Memory, pengunjung merasa seperti "kembali ke masa lalu" dengan tiga perangkat khas yang menjadi "saksi" sinema Vietnam. Kamera film plastik 35mm Konvas pernah merekam jutaan meter film dokumenter yang berharga, termasuk gambar-gambar tentara kita yang menembak jatuh sebuah pesawat B52 selama kampanye " Dien Bien Phu di udara".

Kamera Mitchell—simbol teknologi sinema tahun 1960-an, yang pernah digunakan oleh Hollywood—mencerminkan aspirasi awal sinema Vietnam untuk mencapai standar internasional. Selain itu, proyektor film yang menggunakan lampu busur (lampu batu bara) dengan sumber cahaya lebih dari 3.000 derajat Celcius pernah membuat penonton berdecak kagum di tahun 70-an ketika sinema semakin dekat dengan masyarakat umum.

Ruang teknologi sinema baru ini menghadirkan pengalaman modern dan inovatif. Produksi Virtual memungkinkan para aktor ditempatkan dalam adegan 3D, berinteraksi langsung di ruang virtual. Dengan dukungan lengan robot yang tersinkronisasi antara kamera virtual dan nyata, teknologi ini membantu menciptakan sudut pengambilan gambar yang presisi dan spektakuler. Banyak anak muda yang datang ke sini tak kuasa menyembunyikan kegembiraan mereka saat pertama kali "berperan" di studio virtual, merasa seperti menjadi aktor utama sebuah film blockbuster.

Di area Transformasi Metaverse, sistem yang terdiri dari 81 kamera memindai setiap detail, gestur, dan emosi secara sinkron untuk "mengubah" pengunjung menjadi karakter 3D yang hidup. Generasi Z dengan antusias berdatangan dan berbagi pengalaman "virtual namun nyata" ini di media sosial, menjadikan tempat ini sebagai tempat "tren" yang banyak orang ajak untuk menikmatinya.

Motion Capture merekam setiap gerakan tubuh dengan akurasi 97% dan langsung mereproduksinya pada karakter 3D. Banyak anak muda yang mencoba menari mengikuti musik populer di TikTok, lalu tertawa terbahak-bahak saat melihat karakter 3D mereka menari dengan sama lincahnya.

Sementara itu, ranah VR (Virtual Reality) adalah tempat di mana banyak kelompok anak muda menghabiskan waktu paling banyak untuk merasakan pengalaman. Dengan kacamata VR, penonton tidak hanya dapat mengamati tetapi juga "masuk ke dalam" adegan film, berinteraksi, dan "bersantai" layaknya karakter sungguhan. Banyak orang juga menyiarkan langsung pengalaman mereka untuk dibagikan dengan teman-teman, membuat suasana di ranah ini selalu semarak.

Selain itu, area "check-in" video 360 derajat menarik banyak anak muda yang gemar membuat konten. Dengan sudut pengambilan gambar panorama, hanya dalam beberapa detik, setiap orang memiliki klip "kehidupan virtual" untuk diunggah di Facebook, TikTok, atau Instagram.

Area pameran ini tidak hanya membangkitkan kenangan akan sinema masa lalu, tetapi juga menghadirkan pengalaman teknologi canggih, tempat kaum muda dapat bebas bereksplorasi, berinteraksi, dan menciptakan tren. Ini sungguh merupakan "tempat pertemuan" yang menarik, menunjukkan kemajuan pesat sinema Vietnam dalam perjalanan integrasi dan kreativitas.
Sumber: https://nhandan.vn/dau-an-cong-nghe-tai-khong-gian-dien-anh-cua-trien-lam-thanh-tuu-dat-nuoc-80-nam-hanh-trinh-doc-lap-tu-do-hanh-phuc-post904272.html
Komentar (0)