Vietnam.vn - Nền tảng quảng bá Việt Nam

Membentuk citra Kota Ho Chi Minh sebagai "kota metropolitan".

Skala Kota Ho Chi Minh setelah penggabungan tersebut menuntut penataan ulang merek kota yang jelas, koheren, dan menarik.

Việt NamViệt Nam28/04/2026

Skala Kota Ho Chi Minh setelah penggabungan membuka peluang luar biasa, sekaligus menciptakan kebutuhan mendesak untuk memposisikan kembali citra kota ini secara jelas, koheren, dan meyakinkan di benak warganya dan komunitas internasional.

Penggabungan administratif dengan Binh Duong dan Ba ​​Ria - Vung Tau pada tahun 2025 telah membawa Kota Ho Chi Minh ke fase pembangunan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bukan lagi sebuah kota tunggal, Kota Ho Chi Minh kini menjadi megakota multipolar, yang menggabungkan kekuatan keuangan, industri, logistik, inovasi, budaya, dan ekonomi maritim.

Secara administratif, setelah penggabungan, Kota Ho Chi Minh menjadi kota terbesar di negara ini, dengan luas lebih dari 6.700 km², populasi lebih dari 14 juta jiwa, dan menyumbang hampir 25% dari PDB nasional. Namun, menurut Profesor Madya Giannina Warren (Kepala Senior Komunikasi Profesional, Universitas RMIT), penggabungan bukan hanya masalah teknis berupa penataan ulang batas wilayah, konsolidasi anggaran, atau restrukturisasi aparatur administrasi. Pada tingkat yang lebih dalam, ini adalah proses mendefinisikan kembali ruang hidup, pusat kekuatan ekonomi, dan simbol pembangunan.

Menurut Profesor Madya Warren, kota dinilai bukan hanya berdasarkan ukuran atau tingkat pertumbuhannya, tetapi juga berdasarkan "apa yang diwakilinya." Pada akhirnya, sebuah kota adalah "sistem yang dipersepsikan," yang ada dalam persepsi, emosi, dan kepercayaan masyarakat. Keputusan penduduk, investor, wisatawan, dan talenta internasional didasarkan pada data serta identitas, nilai, dan cerita yang disampaikan oleh suatu tempat.

Kawasan perumahan dan gedung-gedung tinggi di Kota Ho Chi Minh Kota Ho Chi Minh saat ini meliputi area seluas lebih dari 6.700 km² dan memiliki populasi lebih dari 14 juta jiwa. (Gambar: Pexels)

Selama beberapa dekade, Kota Ho Chi Minh, Binh Duong, dan Ba ​​Ria - Vung Tau berkembang dengan identitas yang relatif berbeda. Kota Ho Chi Minh dikenal sebagai "jantung" komersial dan jasa yang dinamis; Binh Duong sebagai "mesin" industri negara; dan Ba ​​Ria - Vung Tau sebagai gerbang penting dan ekonomi maritim. Penggabungan ini telah mengkonsolidasikan wilayah-wilayah ini di bawah satu nama, menciptakan potensi sinergis yang signifikan, tetapi juga menimbulkan pertanyaan sulit: Apa sebenarnya yang diwakili oleh Kota Ho Chi Minh saat ini?

“Peningkatan skala dan kompleksitas tidak secara otomatis berarti identitas perkotaan akan terbentuk. Sebaliknya, tanpa posisi yang jelas, kota-kota besar berisiko menjadi hambar, sulit diidentifikasi, sulit diingat, dan bahkan lebih sulit dipercaya, terutama bagi mereka yang tidak tinggal di sana,” kata Profesor Madya Warren.

Selama sekian lama, citra Kota Ho Chi Minh terutama dikaitkan dengan pesan-pesan pariwisata yang dinamis, muda, dan penuh semangat. Deskripsi ini cocok untuk kota yang sedang mengalami transformasi, tetapi kehilangan dampaknya ketika kota tersebut berupaya menjadi pusat keuangan, logistik, dan pendidikan internasional.

Penggabungan pada tahun 2025 membuat masalah ini menjadi semakin mendesak. “Sebuah kota metropolitan dengan berbagai peran, mulai dari industri, keuangan, logistik hingga budaya dan inovasi, akan kesulitan menyampaikan pesan yang jelas tanpa kerangka ideologis yang menyatukan. Skalanya yang sangat besar memang signifikan, tetapi makna hanya muncul ketika kota tersebut tahu bagaimana menceritakan kisahnya sendiri,” kata Profesor Madya Warren.

Menurut Dr. Bui Quoc Liem, seorang dosen Komunikasi Profesional di Universitas RMIT, keragaman fungsional membutuhkan cara berpikir baru tentang identitas kota. Alih-alih mencari slogan yang ringkas untuk setiap konteks, Kota Ho Chi Minh perlu membangun arsitektur merek berdasarkan "narasi besar" yang umum.

Narasi ini harus menjelaskan mengapa berbagai ruang terhubung secara organik, semuanya berupaya menuju masa depan bersama. Jika area yang digabungkan hanya terasa sebagai "perpanjangan administratif," kohesi sosial dan konsensus akan sulit dicapai. Sebaliknya, identitas inklusif yang menghormati peran yang berbeda akan membantu kota mengirimkan pesan yang konsisten dan kredibel.

Associate Professor Giannina Warren dan Dr. Bui Quoc Liem Profesor Madya Giannina Warren (kiri) dan Dr. Bui Quoc Liem (Foto: RMIT)

Menurut Dr. Liem, konsep branding kota sering disalahpahami. Banyak orang masih percaya bahwa branding hanya tentang mendesain logo, menulis slogan, atau melaksanakan kampanye promosi. Padahal, dalam konteks merger, branding lebih dekat dengan koordinasi strategis daripada sekadar komunikasi.

"Narasi yang jelas membantu lembaga pemerintah, bisnis, dan masyarakat untuk melihat ke arah yang sama: mulai dari memprioritaskan investasi infrastruktur dan membentuk strategi untuk menarik modal, hingga kebijakan untuk mempertahankan dan menarik talenta. Pencitraan merek menjadi 'kompas' untuk pembangunan, bukan sekadar fasad dekoratif," katanya.

Para pemimpin Kota Ho Chi Minh mulai menyadari keterkaitan ini dalam membangun strategi merek jangka panjang, yang selaras dengan visi pembangunan sosial-ekonomi kota untuk tahun 2030 dan 2045. Lebih penting lagi, semakin banyak pengakuan bahwa pencitraan merek terkait erat dengan reformasi kelembagaan, kualitas tata kelola, dan pengalaman hidup warganya. Kota yang "terbuka" membutuhkan prosedur administrasi yang efisien. Tempat yang "layak huni" membutuhkan infrastruktur dan layanan publik yang efisien. Pusat keuangan internasional membutuhkan konsistensi, transparansi, dan kapasitas tata kelola yang tinggi.

Menurut para ahli RMIT, biaya penundaan reposisi merek sangat nyata. Komunikasi akan menjadi terfragmentasi dan kurang fokus. Masyarakat di wilayah yang baru bergabung mungkin merasa asing dengan "kisah kota" tersebut. Mitra internasional mungkin melihat potensinya, tetapi akan kesulitan memahami esensi dan arah pembangunan. Dan kesempatan untuk menjadikan Kota Ho Chi Minh sebagai megakota terkemuka di Asia Tenggara mungkin akan hilang begitu saja.

Transformasi administratif telah selesai. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kota ini dapat menceritakan kisah baru, yang cukup jelas untuk dipahami dunia dan cukup meyakinkan bagi warganya untuk mempercayainya. Tantangan di depan bukanlah membangun narasi yang dipaksakan, tetapi mengartikulasikan secara koheren dan meyakinkan apa yang dimiliki kota ini: sebuah wilayah perkotaan yang menghubungkan industri dengan inovasi, pelabuhan dengan keuangan, budaya dengan peluang, dan kekuatan lokal dengan aspirasi global.

Sumber: https://www.rmit.edu.vn/vi/tin-tuc/tat-ca-tin-tuc/2026/apr/dinh-hinh-thuong-hieu-sieu-do-thi-tp-ho-chi-minh


Komentar (0)

Silakan tinggalkan komentar untuk berbagi perasaan Anda!

Dalam kategori yang sama

Dari penulis yang sama

Warisan

Angka

Bisnis

Berita Terkini

Sistem Politik

Lokal

Produk

Happy Vietnam
Tanah air, tempat yang damai

Tanah air, tempat yang damai

Kolega

Kolega

Đến với biển đảo của Tổ quốc

Đến với biển đảo của Tổ quốc