Tet – saat jalanan dipenuhi cahaya dan bunga, toko-toko buka hingga larut malam, dan kerumunan orang bergegas menikmati kemeriahan musim semi – tiba-tiba aku melambat di tengah hiruk pikuk musim semi dan menyadari bahwa Tet sekarang begitu berlimpah!

Perayaan Tahun Baru tradisional, dengan persembahan makanan dan hadiahnya, tidak lagi terbatas hanya pada beberapa hidangan tradisional tetapi telah menjadi beragam, menampilkan menu mulai dari masakan Asia hingga Eropa. Di luar kelimpahan materi, Tet (Tahun Baru Imlek) saat ini juga kaya akan kehidupan spiritual. Program seni musim semi direncanakan dengan cermat, festival Tahun Baru diselenggarakan dengan baik, dan ruang budaya komunitas yang semarak ada di mana-mana. Pada Malam Tahun Baru, kembang api menerangi langit dari daerah pedesaan hingga kota, membawa serta kegembiraan sebuah bangsa yang sedang mengalami transformasi yang dahsyat.
Bagi banyak keluarga, Tet (Tahun Baru Imlek) tidak lagi terbatas di rumah sendiri tetapi meluas ke perjalanan musim semi dan liburan yang menyenangkan. Beberapa memilih untuk pulang kampung untuk reuni keluarga, yang lain pergi ke pegunungan, laut, atau bahkan ke luar negeri untuk merayakan tahun baru dengan cara yang berbeda.
Bahkan bagi kaum miskin dan kurang mampu, Tết bukan lagi hanya tentang mengkhawatirkan makanan dan pakaian, tetapi mereka dapat berpikir lebih dari sekadar kebutuhan dasar.

Di tengah kelimpahan ini, kenangan akan perayaan Tet di masa lalu muncul kembali dengan lebih jelas. Saya lahir di akhir tahun 1980-an, ketika negara telah melewati era penjatahan dan memasuki periode reformasi, tetapi gema dari masa-masa sulit itu masih terasa dalam gaya hidup setiap keluarga.
Masa kecilku bukanlah tentang mengantre di subuh untuk membeli beras seperti kakak-kakakku, tetapi tetap dipenuhi dengan tahun-tahun ketika ibuku harus dengan hati-hati menabung setiap sen dari gajinya, dan ayahku bekerja keras di ladang sepulang kerja untuk meningkatkan kualitas makanan kami.

Pada masa itu, Tết merupakan sebuah proses persiapan yang panjang. Keluarga harus menabung untuk membeli sekantong beras ketan berkualitas baik, satu kilogram daging perut babi segar, beberapa ratus gram kacang hijau, dan beberapa bungkus manisan jahe. Dan dekorasi rumah yang tak tergantikan termasuk potret Presiden Ho Chi Minh, taplak meja bermotif merak, dan beberapa tangkai bunga plastik berwarna-warni...
Semuanya direncanakan dan dihitung dengan cermat. Tidak ada kemewahan untuk membuat dekorasi yang rumit, tetapi cukup untuk merasakan perbedaan antara hari-hari biasa dan Tet (Tahun Baru Imlek).
Anak-anak menantikan Tet karena mereka mendapatkan pakaian baru dan uang keberuntungan; orang dewasa menantikan Tet karena ini adalah salah satu waktu langka dalam setahun ketika segala sesuatu menjadi lebih "berlimpah." Keluarga saya memiliki lima saudara kandung, dan meskipun mengalami kesulitan, ibu saya selalu berusaha menyediakan pakaian baru untuk kami masing-masing.
Pakaian yang kami beli di pasar Tet dilipat rapi dan disimpan di lemari, sambil kami tak sabar menunggu pagi hari pertama Tet untuk memakainya.

Panci berisi kue ketan (bánh chưng) menyala terang sepanjang malam, seluruh keluarga berkumpul di sekelilingnya untuk menyaksikan api. Pada malam-malam itu, saat menyaksikan kue-kue tersebut, saya teringat mata ayah saya ketika ia menceritakan era subsidi. Ia berbicara tentang kupon jatah, tentang hari-hari ketika kompleks apartemen berbagi setiap kilogram beras, setiap botol kecap ikan; tentang kesulitan yang memperdalam ikatan komunitas, persahabatan, dan kekompakan di antara rekan kerja. Kekurangan materiil tampaknya semakin memperkaya nilai-nilai spiritual.
Di Tahun Baru Imlek kali ini, dengan meja makan yang penuh dengan hidangan lezat dan makanan bukan lagi menjadi perhatian utama, banyak anak muda mungkin sulit membayangkan mengapa generasi sebelumnya selalu menghargai setiap butir nasi ketan, setiap potong daging.
Mungkin mereka tidak menyadari bahwa kakek-nenek dan orang tua mereka hidup di masa-masa ketika sekadar memiliki cukup makanan adalah sebuah mimpi. Tetapi dari fondasi yang sulit itulah proses reformasi dapat berakar, memungkinkan negara ini secara bertahap berubah menjadi seperti sekarang ini.

Saat berjalan menyusuri jalanan yang ramai di awal tahun baru, saya menyadari bahwa saya termasuk dalam generasi istimewa, lahir setelah titik balik sejarah dan tumbuh bersamaan dengan transformasi negara ini.
Kita tidak lagi mengenal kupon jatah, tetapi kita masih memahami nilai menabung dan berbagi. Kita tidak lagi khawatir tidak cukup makan setiap hari, tetapi kita selalu menyadari bahwa kelimpahan hari ini diperoleh melalui keringat dan pengorbanan diam-diam generasi sebelumnya.
Di hari raya Tet kali ini, di tengah alunan musik musim semi yang meriah dan warna-warna cerah bunga aprikot dan persik, kenangan akan Tet di era subsidi masih terasa hangat. Ini mengingatkan kita untuk bersyukur atas masa kini, bersyukur atas perjalanan perubahan yang terus dilalui negara ini, dan bersyukur atas generasi-generasi yang diam-diam menanggung kesulitan sehingga musim semi saat ini menjadi lebih lengkap.
Sumber: https://baohatinh.vn/don-tet-nay-nho-tet-thoi-bao-cap-post306081.html









Komentar (0)