.jpeg)
Acara ini bertujuan untuk menemukan solusi praktis untuk memanfaatkan sumber daya warisan secara efektif, berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi ibu kota.
Dengan sejarah lebih dari seribu tahun, Hanoi saat ini merupakan kota dengan kekayaan warisan budaya terpadat di negara ini: 6.489 peninggalan sejarah dan budaya, hampir 1.800 warisan budaya tak benda, 351 pusaka nasional, serta sistem museum, pengrajin, dan lebih dari 1.300 desa kerajinan tradisional. Kota ini juga memiliki 6 warisan yang diakui UNESCO dan 22 peninggalan nasional khusus. Hal ini merupakan fondasi penting bagi Hanoi untuk mengembangkan industri budaya di era digital.
Dalam beberapa tahun terakhir, Hanoi telah aktif mempromosikan acara budaya dan kreatif internasional seperti Festival Desain Kreatif, Pameran Seni Digital, Festival Ao Dai, dan Festival Kuliner Hanoi. Kegiatan-kegiatan ini telah berkontribusi dalam meningkatkan citra ibu kota; menurut majalah Time Out (Inggris), Hanoi menempati peringkat ke-9 dalam 20 destinasi budaya teratas di dunia pada tahun 2025.

Berbicara di seminar tersebut, Direktur Departemen Kebudayaan dan Olahraga Hanoi Bach Lien Huong menekankan bahwa budaya saat ini tidak hanya menjadi sumber spiritual tetapi juga menjadi kapasitas kompetitif nasional.
Ia percaya bahwa Hanoi memiliki tanggung jawab untuk menjadi model pengembangan budaya di era digital, tempat bertemunya kreativitas, kecerdasan, dan aspirasi Vietnam.
Pada seminar tersebut, Associate Professor Dr. Khu Hanh Phu (Tiongkok) berbagi pengalaman dalam mengembangkan industri budaya yang terkait dengan warisan di daerah pedesaan, terutama dalam memodernisasi kerajinan tangan, menerapkan teknologi 3D dan menarik kaum muda untuk kembali memulai bisnis.

Menyumbang pendapatnya pada diskusi tersebut, Dr. Tran Thi Thuy (Institut Penelitian Asia-Pasifik) menunjukkan banyak hambatan di Hanoi seperti kurangnya kesadaran akan peran industri budaya, kurangnya model yang sesuai dengan karakteristik lokal, dan infrastruktur teknologi serta data warisan yang tersebar.
Dari sana, ia mengusulkan agar Hanoi perlu mempromosikan pelatihan tentang eksploitasi warisan, membangun serangkaian indikator untuk mengukur kontribusi ekonomi sektor budaya, dan mengembangkan basis data digital tentang warisan.
Diskusi berlangsung dalam konteks Pemerintah yang baru saja menyetujui Strategi Pengembangan Industri Budaya hingga 2030, dengan target pertumbuhan 10% per tahun dan kontribusi 7% terhadap PDB. Pendapat yang disampaikan dalam diskusi ini diharapkan dapat membantu Hanoi memanfaatkan sumber daya warisan secara efektif, mendorong industri budaya menjadi kekuatan pendorong baru bagi pembangunan ekonomi dan sosial ibu kota.
Sumber: https://congluan.vn/ha-noi-tim-giai-phap-bien-di-san-van-hoa-thanh-tai-san-phat-trien-kinh-te-10319774.html






Komentar (0)