
Saya akan selalu mengingat nasihatnya.
Pada musim semi tahun 1966, ketika perang perlawanan terhadap AS memasuki fase paling intensnya, tugas untuk memastikan penyeberangan sungai bagi pasukan tempur dan peralatan menjadi sangat penting. Pada saat itu, Resimen 239 - pendahulu Brigade 239 saat ini - ditugaskan untuk berlatih membangun jembatan ponton di atas Sungai Merah di terminal feri Me So, untuk memfasilitasi pergerakan rudal, artileri anti-pesawat, dan pasukan tempur.
Hanya dalam 90 menit, jembatan sepanjang 560 meter itu menghubungkan kedua tepi Sungai Merah. Pekerjaan memasang patok dan membentangkan pagar selesai ketika keributan terjadi, dan semua orang berlari kembali ke ujung jembatan sambil berteriak: "Paman Ho telah tiba! Paman Ho telah tiba!" Itu adalah kehormatan besar bagi Resimen. Para prajurit, terharu, bersorak dan mengikuti Paman Ho ke tengah jembatan. Dia berkata: "Jangan berisik; kita harus menjaga kerahasiaan sepenuhnya."

Presiden dengan teliti menanyakan jumlah orang dan waktu yang dibutuhkan untuk membangun jembatan tersebut. Kemudian, beliau memberi semangat dan memuji pencapaian unit tersebut dan memberi instruksi kepada mereka: "Tugas kalian sangat berat, tetapi sangat mulia. Kalian perlu berusaha lebih keras, melakukan yang lebih baik lagi; setiap hari, bekerjalah sedikit lebih cepat, tiga menit, lima menit, secara bertahap mempersingkat waktu, semakin singkat semakin baik. Kalian akan semakin terampil dalam membangun jembatan; dengan melakukan itu, kita akan segera mengalahkan musuh Amerika yang menyerang."
Enam puluh tahun telah berlalu, tetapi nasihat Paman Ho dari masa itu tetap berharga seperti sebelumnya, menjadi sumber motivasi spiritual yang hebat bagi generasi perwira dan prajurit Brigade 239 saat ini untuk terus berjuang, berlatih, dan dengan sangat baik memenuhi semua tugas yang diberikan.
Saat ini, di monumen peringatan di dermaga Me So, dupa wangi masih dipersembahkan dengan penuh hormat oleh para perwira dan prajurit setiap kali mereka kembali ke kampung halaman mereka. Ini bukan sekadar ritual rasa syukur, tetapi juga pertemuan spiritual antara generasi masa kini dan tradisi mulia leluhur mereka.
Di tengah prosesi hening yang mempersembahkan dupa sebagai tanda peringatan, banyak perwira muda terharu saat mendengar kisah masa lalu. Mereka memahami bahwa di balik jembatan ponton yang menghubungkan kedua tepi sungai terdapat keberanian, kecerdasan, dan kesetiaan mutlak kepada Tanah Air dari para prajurit teknik Vietnam.
Ubahlah rasa bangga menjadi motivasi untuk bertindak.
Lebih dari 60 tahun telah berlalu, namun ajaran Presiden Ho Chi Minh tetap hadir dalam setiap latihan, setiap gerakan simulasi, dan dalam tekad yang tak tergoyahkan dari para perwira dan prajurit Brigade 239 untuk mengatasi kesulitan.

Dalam beberapa tahun terakhir, unit ini terus berinovasi dalam konten dan metode pelatihannya, dengan fokus pada pendekatan "mendasar, praktis, dan solid" yang sangat sesuai dengan persyaratan misi sebenarnya. Rencana penyeberangan sungai, pergerakan pasukan, dan penanganan situasi kompleks secara teratur dipraktikkan dengan intensitas tinggi. Terlepas dari kondisi cuaca, para insinyur tempur tetap gigih dalam pelatihan mereka untuk menguasai peralatan, meningkatkan mobilitas, dan menjaga kesiapan tempur.
Para perwira dan prajurit unit ini tidak hanya unggul dalam pelatihan mereka, tetapi mereka juga aktif berpartisipasi dalam penanggulangan bencana, operasi penyelamatan, dan membantu masyarakat menstabilkan kehidupan mereka setiap kali terjadi banjir. Di daerah yang paling sulit dan berbahaya, citra prajurit teknik yang menantang derasnya air, membangun jembatan, dan membuka jalan selalu meninggalkan kesan yang indah pada masyarakat.
Yang paling berharga adalah semangat belajar dari dan mengikuti ajaran Paman Ho telah menjadi ciri budaya yang abadi di seluruh unit. Dari perwira senior hingga prajurit muda, semua orang menganggap menumbuhkan keteguhan politik , rasa tanggung jawab, dan kemauan untuk mengatasi kesulitan sebagai persyaratan yang melekat pada seorang prajurit revolusioner.
Kolonel Pham Van Huynh, Komandan Brigade 239, pernah menegaskan bahwa setiap perwira dan prajurit di unit tersebut selalu membawa rasa bangga dan syukur yang mendalam kepada Presiden Ho Chi Minh yang tercinta; sehingga mengubah perasaan sakral itu menjadi motivasi untuk menyelesaikan tugas dengan sukses dan membangun unit yang kuat, komprehensif, "teladan dan luar biasa".
Semangat itu telah diwujudkan melalui banyak hasil yang luar biasa. Brigade ini secara konsisten meraih gelar "Unit Kemenangan," menerima pujian dan penghargaan dari berbagai tingkatan dalam berbagai gerakan tel exemplary dan misi besar. Namun bagi para prajurit teknik di sini, penghargaan terbesar tetaplah kelanjutan yang layak dari tradisi kepahlawanan Resimen Teknik Song Thao di masa lalu.
Di dunia yang serba cepat saat ini, ketika negara memasuki fase pembangunan baru dengan peluang dan tantangan yang saling terkait, kata-kata Paman Ho di Dermaga Me So tetap sangat relevan. Kata-kata itu berfungsi sebagai pengingat akan semangat tanggung jawab, kemauan untuk berinovasi, aspirasi untuk unggul, dan tekad untuk memenuhi tugas kita dalam segala keadaan.
Sungai Merah masih mengalir, sarat dengan lumpur merah, menjadi saksi sejarah. Dan di sepanjang sungai itu, para prajurit teknik dari Brigade 239 terus menuliskan kisah epik tentang kesetiaan, tekad untuk mengatasi kesulitan, dan keyakinan yang teguh pada Partai, Tanah Air, dan rakyat.
Sumber: https://hanoimoi.vn/khac-ghi-loi-bac-ben-dong-song-lich-su-750604.html











Komentar (0)