Saya pun tidak terkecuali. Mungkin sebagian karena usia, dan sebagian lagi karena tekanan hidup yang tak terlihat, saya menyadari diri saya menjadi lebih mudah marah dan kehilangan kesabaran karena hal-hal sepele. Ada kalanya saya tidak lagi mengenali diri saya yang dulu, melainkan diri saya yang sekarang terburu-buru, stres, dan selalu kewalahan oleh derasnya informasi setiap menit, setiap detik.

Lalu, saya memutuskan untuk belajar kaligrafi. Awalnya, hanya untuk mengisi waktu luang, untuk mencari sesuatu yang bisa menenangkan saya. Tapi jauh di lubuk hati, mungkin saya mencoba menjauhkan diri dari kebisingan, untuk menemukan kembali sedikit kedamaian yang tanpa sengaja telah hilang.

Melihatku membawa pulang banyak barang, suami dan anak-anakku cemberut, campuran antara terkejut dan geli. Ada kertas merah, tinta, kuas… semuanya asing bagi rutinitas keluarga kami. Salah satu dari mereka bahkan menggoda:

"Bu, apakah Ibu berencana menjadi seorang kaligrafer tradisional?"

Suami saya hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, seolah menganggap itu hanya ketertarikan sesaat yang akan cepat berlalu.

Malam itu, setelah semua orang tertidur, aku dengan tenang meletakkan alat tulis yang baru kubeli di atas meja. Cahaya kuning hangat menyinari kertas putih bersih, dan semuanya menjadi sunyi senyap. Aku mengambil pena, merasa sedikit canggung. Tanganku belum terbiasa, tinta tidak mengalir lancar, dan setiap goresan yang kutulis terasa kikuk dan ragu-ragu. Tetapi justru di saat-saat tenang itulah aku merasakan sesuatu yang sangat berbeda; hatiku terasa tenang.

Belajar kaligrafi: Menemukan kembali jati diri di era digital . Foto: THUY DUONG

Selama seminggu berikutnya, setiap malam saya mengulangi tugas yang sama: menggiling tinta, membentangkan kertas, memegang kuas, dan berlatih menulis. Halaman-halaman yang sudah selesai tergeletak berserakan, goresannya tidak rata, tinta kadang gelap, kadang terang, dan tangan saya kadang-kadang sedikit gemetar setiap kali saya menulis. Ada kalanya saya menulis ulang sebuah karakter hingga dua puluh kali tanpa hasil yang memuaskan, dan perasaan putus asa pun muncul. Tetapi kemudian saya menyadari sesuatu yang lebih dalam dalam belajar kaligrafi. Karakter kaligrafi yang saya tulis adalah kesempatan bagi saya untuk menumbuhkan kesabaran.

Kemudian suatu hari, saya berhasil menulis dengan lebih rapi. Saya mengambil foto dan membagikannya di Facebook. Teman-teman saya menyemangati dan memuji saya, yang memberi saya motivasi lebih untuk terus melanjutkan.

Siang itu, ketika saya sedang berjuang untuk menulis kata "Tâm" (hati/pikiran), telepon saya tiba-tiba berdering.

"Halo, Bu...", sebuah suara yang familiar terdengar dari ujung telepon.

Ya, saya mendengarkan.

- Menurutku tulisan tanganmu sangat indah, aku ingin meminta beberapa tulisanmu. Apakah kamu bersedia membagikannya denganku?

Aku terdiam sejenak. Pertanyaan itu sungguh mengejutkan. Aku menunduk melihat kertas di depanku. Sesaat aku ragu, tetapi kemudian dengan tenang aku menjawab:

Ya, saya bersedia.

- Tulisan tanganmu indah sekali, aku sangat menyukainya…

Aku tersenyum, tetapi perasaan aneh muncul di dalam diriku. Cantik? Mungkin dia hanya melihat permukaannya saja, sementara aku tahu betul betapa belum matangnya setiap goresan tulisan tangannya.

"Kata apa yang kamu suka?" tanyaku.

Ada keheningan beberapa detik di ujung telepon, lalu suara itu melambat, seolah-olah mencurahkan isi hatinya:

"Akhir-akhir ini aku mudah marah, saudari... tolong tuliskan kata 'Kesabaran' untukku, agar setiap kali aku melihatnya, aku harus bersabar... dan kata 'Kedamaian'... Aku berdoa agar keluargaku selalu damai."

Aku terdiam.

Tiba-tiba, goresan pena di depan mataku bukan lagi sekadar latihan. Setiap huruf kini membawa sebuah harapan, sebuah kepercayaan yang dipercayakan kepadaku oleh orang lain. Hatiku sedikit bergetar saat menyadari tanggung jawab di balik goresan yang kutulis.

Setelah panggilan telepon itu, aku duduk di sana cukup lama. Aku mengambil beberapa lembar kertas baru dan menggiling tinta lebih perlahan dari biasanya. Saat aku mulai menulis kata "Kesabaran," hatiku menjadi tenang. Dengan setiap goresan yang panjang, setiap jeda, aku seolah mengingatkan diriku sendiri: Bukan hanya orang yang meminta kaligrafi yang perlu belajar kesabaran, tetapi aku juga.

Ketika saya sampai pada kata "Damai," tiba-tiba saya merasa lebih ringan. Goresan-goresan itu melembut, melambat, seolah membawa berkah yang sunyi. Saya tidak tahu apakah tulisan tangan saya cukup indah, tetapi saya tahu saya menulis dengan sepenuh hati.

Saat saya mulai menulis, tiba-tiba saya menyadari bahwa kaligrafi adalah sebuah perjalanan untuk menemukan keindahan yang sempurna dan juga perjalanan untuk belajar bagaimana meningkatkan diri. Seperti saya, mereka yang mencari kaligrafi juga mencintai keindahan dan mencari jangkar spiritual, sebuah pengingat lembut di tengah hiruk pikuk kehidupan.

Saya masih pemula, dan masih banyak yang harus dipelajari. Tetapi sejak saat itu, saya bertekad untuk terus menulis guna meningkatkan tulisan tangan saya, menenangkan pikiran, dan menjadi lebih teguh dalam menghadapi gejolak kehidupan.

Hal itu menjauhkan saya dari arus informasi, memungkinkan saya untuk memperlambat langkah, menghindari perasaan frustrasi, mudah tersinggung, atau marah tanpa alasan. Hal itu memungkinkan saya untuk kembali menjadi diri sendiri, dengan mimpi-mimpi polos dan semangat muda untuk berusaha menjadi pribadi yang lebih baik yang telah tertanam dalam pikiran saya.

Saya rasa itu juga merupakan cara untuk menjadi orang yang berbudaya di era digital.

    Sumber: https://www.qdnd.vn/van-hoa/van-hoc-nghe-thuat/lach-khoi-cong-nghe-so-tim-lai-minh-1032946