
Undang para pengrajin untuk datang dan memandu Anda langkah demi langkah.
Sekolah Dasar dan Menengah Tran Van On memiliki lebih dari 500 siswa, dengan 76% di antaranya adalah siswa dari kelompok etnis minoritas (80% di antaranya adalah suku Ma). Inilah sebabnya mengapa sekolah ini memberikan perhatian khusus untuk melestarikan identitas budaya tradisional kelompok etnis minoritas.
.jpg)
Menurut Bapak Le Huu Vong, Kepala Sekolah SD dan SMP Tran Van On, dalam melaksanakan Program Pendidikan Umum 2018, sekolah menyelenggarakan kegiatan pengajaran dan pembelajaran dalam dua sesi per hari, dengan sesi sore dikhususkan untuk kegiatan praktik, pengembangan bakat, dan pelatihan keterampilan hidup bagi siswa.
Penyertaan musik gong dalam kurikulum merupakan hal yang menonjol, berkontribusi pada diversifikasi konten pendidikan dan membantu siswa terhubung lebih erat dengan budaya tradisional setempat.
Untuk memastikan implementasi yang efektif, sekolah mengundang para pengrajin yang berpengetahuan dan berpengalaman untuk memberikan pengajaran langsung. Mulai dari cara memegang gong dan menjaga ritme hingga cara merasakan suara, semua keterampilan diajarkan dengan cermat dan jelas, membantu siswa mendekati warisan budaya dengan cara yang alami dan menarik.

“Awalnya, kami hanya memperkirakan sekitar 10 siswa akan berpartisipasi, dengan tujuan membentuk ansambel gong di sekolah. Namun, ketika kami melaksanakan program ini, jumlah siswa yang mendaftar jauh lebih tinggi. Hebatnya, kelas gong ini tidak hanya menarik siswa dari kelompok etnis minoritas Ma, tetapi juga siswa dari kelompok lain,” ujar Bapak Vong.
Faktanya, penerapan model penggabungan musik gong ke dalam pengajaran di Sekolah Dasar dan Menengah Tran Van On tidak hanya memperkaya kegiatan pendidikan tetapi juga membangkitkan rasa bangga dan kesadaran akan pelestarian identitas budaya pada setiap siswa.
Dari yang awalnya tidak tahu apa-apa tentang gong, banyak anak sekarang dapat memainkan dan menghafal beberapa karya musik gong dasar dari kelompok etnis Ma.
"Selain permainan gong, dalam waktu dekat, sekolah akan terus meneliti dan menerapkan kelas-kelas tentang tenun brokat. Kedua mata pelajaran ini sesuai dengan karakteristik sekolah dan sudah dikenal oleh sebagian besar siswa," ungkap Kepala Sekolah SD dan SMP Tran Van On lebih lanjut.
Menjaga irama gong tetap hidup di tengah kehidupan modern.
Sejak awal semester kedua tahun ajaran 2025-2026, kelas memainkan gong di Sekolah Dasar dan Menengah Tran Van On selalu ramai dengan aktivitas setiap Senin dan Jumat sore.
Para siswa yang mengikuti kelas ini dianjurkan untuk mengenakan pakaian adat tradisional suku Ma dan mengenal cara memainkan gong.

Di halaman sekolah, suara-suara yang dalam dan bergema menciptakan pemandangan yang akrab sekaligus kaya akan identitas budaya Dataran Tinggi Tengah.
H'Nhiên berbagi bahwa suara gong bukanlah hal yang asing bagi masyarakat Ma. Dari kegiatan keagamaan sehari-hari hingga festival desa bersama, para tetua selalu mengeluarkan gong untuk dimainkan.
“Melihat orang dewasa memainkan gong, para pemuda di desa hanya bisa berdiri dan menonton. Itulah mengapa ketika sekolah mengadakan pelajaran gong, saya dan banyak teman lainnya mendaftar untuk ikut serta,” H’Nhiên berbagi.
Menurut mahasiswi tersebut, belajar memainkan gong bukanlah hal yang mudah. Mulai dari cara memegang gong, menyesuaikan posisi jari, posisi memukul, hingga menghafal sebuah karya musik gong, semuanya merupakan sebuah proses yang panjang. Selain ketekunan, para pelajar gong juga membutuhkan semangat dan tanggung jawab terhadap budaya etnis mereka.
"Orang tua dan kakek-nenek saya sangat mendukung saya mengikuti kelas bermain gong. Selain belajar di sekolah, kami juga pergi ke rumah pengrajin untuk les tambahan di malam hari, jadi setelah hampir sebulan, kami telah mempelajari beberapa teknik dasar bermain gong," kata siswi dari etnis minoritas Ma tersebut.

Lebih dari sekadar kegiatan ekstrakurikuler, kelas memainkan gong telah menjadi jembatan yang menghubungkan generasi muda dengan nilai-nilai budaya yang telah lama ada. Bagi para pengrajin, mengajar bukan hanya tanggung jawab tetapi juga kegembiraan karena warisan tersebut diwariskan dari generasi ke generasi.
Berbicara langsung tentang pengajaran permainan gong, pengrajin H'Măng (yang tinggal di dusun Bu Sốp, kelurahan Đông Gia Nghĩa) dengan penuh emosi berkata: "Ini adalah pertama kalinya saya mengajar permainan gong kepada siswa sekolah. Saya sangat senang bahwa anak-anak masih antusias dengan alat musik yang diwariskan dari leluhur mereka."
Memperkenalkan musik gong ke sekolah bukan hanya pendekatan inovatif dalam pendidikan, tetapi juga bukti kuatnya hubungan antara sekolah dan budaya masyarakat. Hal ini juga membentuk dasar untuk membentuk generasi muda yang berpengetahuan luas dan matang secara budaya di era integrasi.
Sumber: https://baolamdong.vn/lop-day-chieng-giu-lua-van-hoa-ma-trong-truong-hoc-431923.html











Komentar (0)