
Sejak dahulu kala, kuliner di sini tak hanya mencerminkan kehidupan budaya, tetapi juga menjadi bukti nyata hubungan harmonis antara manusia dan alam. Kini, seiring tren pengembangan kuliner hijau—berfokus pada keramahan lingkungan, menghargai bahan-bahan alami, dan mengutamakan kesehatan masyarakat—kuliner asli di Lam Dong berpeluang untuk menegaskan nilainya. Keunggulan kuliner asli di sini terletak pada kesederhanaan dan kemurnian bahan-bahannya. Sayuran liar, daun-daun hutan, rebung, jamur, ikan sungai, daging buruan liar (dulu), kini digantikan oleh ternak dan unggas lokal... semuanya membawa aroma pegunungan dan hutan. Suku M'nong, Ma, Ede, Dao, Tay, Nung... di Lam Dong Barat tahu cara memanfaatkan sumber daya yang tersedia, mengolahnya menjadi hidangan lezat dan sehat. Canh thut, com lam, ikan bakar dalam tabung bambu, daging bakar arang, arak beras... tak hanya memanjakan lidah, tetapi juga mencerminkan cara hidup yang selaras dengan alam, dengan dampak minimal terhadap lingkungan. Ini juga merupakan kriteria penting untuk kuliner hijau.
Beberapa hidangan lokal perlahan-lahan menjadi "hidangan hijau" yang menarik wisatawan. Canh thut dari masyarakat M'nong dimasak sepenuhnya dari sayuran, daun hutan, rebung muda, tepung beras, direbus dalam tabung bambu, mempertahankan rasa manis alami, tanpa perlu bumbu kimia. Com lam - nasi ketan dalam tabung bambu, dipanggang di atas bara api, masih mempertahankan aroma khas bambu. Ruou can, yang difermentasi dengan daun tradisional, tidak diindustrialisasi, kaya rasa dan aman. Hidangan-hidangan ini, jika diperkenalkan secara luas dari perspektif kuliner hijau, akan menciptakan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan bagi pariwisata lokal.

Tak hanya makanannya, tetapi juga cara penyajian dan penyajiannya mencerminkan filosofi hijau. Masyarakat adat menggunakan bambu, kayu, daun pisang, dan daun dong, alih-alih kantong plastik dan kotak plastik; dalam perayaan, arak beras diminum dengan tabung bambu, yang berkontribusi pada pengurangan sampah. Banyak rumah tangga dan koperasi di desa-desa telah menghubungkan masakan adat dengan tren konsumsi hijau, menciptakan daya tarik baru bagi wisatawan. Menurut seniman Dieu Noi (suku M'nong) di Desa Jieng Ngaih, Kecamatan Tuy Duc, untuk melestarikan jiwa masakan adat, pertama-tama kita harus menghargai bahan-bahan alami yang tersedia. Ia berbagi: "Masyarakat kami tidak menyalahgunakan rempah-rempah industri, tetapi tetap menjaga cita rasa alami makanan. Hal itu merupakan ciri budaya sekaligus baik untuk kesehatan, sejalan dengan tren hidup hijau saat ini."
Faktanya, banyak wisatawan yang berkunjung dan melakukan wisata komunitas ingin menikmati hidangan tradisional di rumah panjang atau desa. Hidangan yang sederhana namun kaya rasa ini akan diingat untuk waktu yang lama. Selain itu, perpaduan kuliner lokal dan ide-ide kreatif anak muda, seperti membuat produk kering, kemasan ramah lingkungan, atau membuka ruang pengalaman kuliner yang berkaitan dengan wisata komunitas, membuka arah baru.
Agar kuliner asli Lam Dong menjadi sorotan dalam tren kuliner hijau, masyarakat dan pemerintah perlu bekerja sama. Fokusnya adalah membangun merek, mempromosikan produk, mendukung teknik pengolahan, pengawetan yang aman, dan pelatihan keterampilan pelayanan bagi masyarakat. Menggabungkan kuliner hijau dengan ekowisata dan wisata komunitas akan menciptakan rantai nilai berkelanjutan, yang sekaligus melestarikan budaya dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Menurut MY HANG (baolamdong.vn)
Sumber: https://baogialai.com.vn/mon-ngon-ban-dia-trong-xu-huong-am-thuc-xanh-o-lam-dong-post568822.html






Komentar (0)