Aku membungkuk dan mengikat tali sepatuku. Sepatuku sudah usang dimakan waktu, oleh pagi-pagi mengantuk saat bergegas ke sekolah, oleh sore hari setelah pelajaran ketika matahari menyinari lorong sekolah dengan panjang. Di luar, pohon flamboyan mulai mekar merah. Musim panas telah kembali, membawa serta warna kuning aneh dari kenangan, warna yang membuat hati terasa sedih hanya dengan melihatnya. Keberangkatan lain – penerbangan lain.
Aku selalu menganggap hidup sebagai penerbangan panjang. Setiap orang menaiki pesawat dengan harapan dan impian mereka sendiri, mendambakan untuk mencapai tujuan tertentu. Orang-orang menghabiskan begitu banyak waktu untuk mempersiapkan perjalanan itu; mengumpulkan harapan, tumbuh sedikit demi sedikit, mengorbankan masa muda mereka dalam prosesnya.
Lalu pesawat itu lepas landas. Beberapa menit pertama sama sekali tidak menyenangkan. Perubahan tekanan yang tiba-tiba membuat telinga saya berdengung, dan dada saya terasa sesak oleh sensasi yang tak terlukiskan. Tapi kemudian semuanya berlalu. Ketika pesawat mencapai ketinggian yang stabil, saya mulai melihat awan putih melayang perlahan di luar jendela kecil, melihat hamparan langit yang tak berujung, dan merasakan kedamaian yang luar biasa.
Mungkin hubungan dalam hidup juga seperti itu. Setiap pertemuan dimulai dengan keraguan dan sikap tertutup. Dua orang asing belajar memasuki dunia satu sama lain, belajar menerima perbedaan mereka, belajar membiarkan seseorang secara bertahap menjadi bagian dari hidup mereka. Hanya setelah mengatasi kecanggungan awal itulah orang-orang dapat duduk bersama cukup lama, tertawa bersama cukup lama, dan kemudian suatu hari tiba-tiba menyadari: orang lain telah menjadi bagian dari masa muda mereka.
Dan sekolah adalah tempat terindah untuk pertemuan semacam itu. Ada pagi-pagi yang dipenuhi celoteh mengantuk, suara kapur yang menghantam papan tulis, dan tawa yang bergema dari belakang kelas. Ada teman-teman yang kita kira akan kita temui selamanya, wajah-wajah yang sering kita lihat sehingga kita tak pernah membayangkan akan mengucapkan selamat tinggal. Dulu kita berpikir waktu terasa begitu panjang. Tapi ternyata masa muda hanyalah penerbangan singkat melintasi langit.
Lalu pesawat akan turun. Momen itu selalu terasa tidak nyaman seperti saat lepas landas pertama kali. Telingaku kembali sakit karena perubahan tekanan yang tiba-tiba. Sama seperti saat menghadapi perpisahan, aku sering merasa tersesat dalam kehampaan yang tak bernama. Aku mulai menyadari bahwa jumlah kesempatan kita untuk duduk bersebelahan dapat dihitung dengan jari satu tangan. Aku menyadari bahwa akan datang suatu hari ketika kita tidak lagi memiliki waktu istirahat berlari ke kantin bersama, tidak ada lagi saling berbagi kertas bekas di kelas, tidak ada lagi yang berdiri di luar kelas memanggil namaku dengan keras setiap pagi.
Jarak antarmanusia tiba-tiba terasa sangat menyakitkan. Sentuhan sederhana di bahu pun menjadi sangat sulit dilakukan kemudian. Ucapan sederhana "sampai jumpa besok" mungkin tidak akan pernah terucapkan lagi. Dan kemudian, orang itu pergi begitu saja.
Kita, seperti hembusan lembut angin usia delapan belas tahun, membawa kebebasan dan kebanggaan di dalam diri kita, akan selamanya terbang menuju cakrawala yang berbeda. Beberapa akan pergi ke kota asing. Beberapa akan mengejar mimpi yang telah lama diidamkan. Beberapa akan dengan tenang melangkah ke dalam kehidupan dengan segala tantangannya. Kemudian suatu hari, di tengah keramaian yang hiruk pikuk, aku mungkin secara tidak sengaja bertemu mereka lagi. Tetapi pada saat itu, mungkin yang tersisa hanyalah senyum samar dari orang asing yang pernah kukenal.
Dulu aku berpikir perpisahan adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Tapi pada akhirnya, aku mengerti bahwa terkadang, perpisahan itu indah dan lembut. Itu terjadi tanpa suara, seperti matahari terbenam, seperti musim panas yang akhirnya berlalu. Seolah-olah, sejak saat kita bertemu, setiap perpisahan dalam hidup telah ditentukan secara diam-diam oleh hukum waktu dan pertumbuhan. Orang-orang datang ke dalam hidupku untuk sementara waktu, memenuhi peran mereka dalam kisah masa muda itu, lalu pergi agar aku dapat terus tumbuh.
Dan anehnya, justru perpisahan inilah yang membuat orang belajar untuk lebih mencintai. Mungkin baru ketika saya akan kehilangan sesuatu, saya menyadari betapa bahagianya saya dulu. Saya benar-benar menghargai ruang kelas yang ramai bertahun-tahun lalu, sudut lorong yang disinari matahari, suara nama saya dipanggil di halaman sekolah. Saya mengerti bahwa ada hal-hal yang kita anggap remeh saat kita berada di dalamnya; baru ketika kita akan meninggalkannya, kita menyadari bahwa hal-hal itu pernah mewakili seluruh dunia masa muda kita.
Namun setiap penerbangan pada akhirnya harus mendarat untuk memulai perjalanan lain. Jadi, alih-alih meratapi perpisahan, mungkin kita harus belajar tersenyum menghadapinya. Karena halaman sekolah bukanlah titik akhir, melainkan landasan pacu pertama yang mengangkatku dari tanah. Tempat ini mengajariku bagaimana mencintai, bagaimana tersandung, bagaimana tumbuh, dan bagaimana membawa kenangan bersamaku saat aku melangkah maju. Di balik jendela penerbangan yang disebut masa muda itu, langit di depan masih luas. Dan kita semua akan terbang menuju masa depan kita yang paling cerah.
Sumber: https://giaoducthoidai.vn/mot-chuyen-bay-mang-ten-thanh-xuan-post778721.html











Komentar (0)