
Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengalaman budaya yang menarik bagi wisatawan, tetapi juga berkontribusi dalam menghidupkan kembali tradisi menghargai literasi dan menghormati pengetahuan, yang tertanam kuat dalam kehidupan spiritual masyarakat Vietnam.
Le Hoang Nguyen, seorang siswa kelas 12, dan kelompok temannya dengan saksama memperhatikan setiap gerakan kaligrafer. Setiap kali pena menyentuh kertas, tinta hitam menyebar, menciptakan garis-garis lembut seperti lukisan yang hidup. Hanya dalam beberapa menit, kata-kata "Dang Khoa" (yang berarti "Lulus Ujian") muncul dengan jelas, kuat dan elegan.
Bagi Nguyen, ini bukan sekadar karya seni, tetapi juga simbol harapan. "Kami akan mengikuti ujian masuk universitas musim panas ini, jadi kami ingin datang dan meminta kaligrafi untuk membawa keberuntungan bagi kami," kata Nguyen, sambil dengan hati-hati menggulung kertas itu dan memasukkannya ke dalam ranselnya seperti barang berharga.
Tidak hanya anak muda setempat, tetapi banyak wisatawan juga terpikat oleh aktivitas ini. Bapak Nguyen Tan Ngoc, dari Hanoi, mengatakan bahwa awalnya ia hanya berniat mengunjungi kuil untuk mempersembahkan dupa. Namun, ketika ia melihat "kaligrafer" dengan pakaian tradisional ao dai dan jilbabnya, ia merasa penasaran dan terpesona. Terutama, aksara Tionghoa kuno, yang sarat dengan pengaruh budaya Timur, membuatnya betah berlama-lama di sana.
Setelah menerima saran, ia memutuskan untuk meminta karakter "Khí" (yang berarti roh/jiwa) dan "An" (yang berarti kedamaian/ketenangan). Menurutnya, ini adalah harapan agar ia dapat mempertahankan semangat yang teguh dan kehidupan yang damai. "Ini adalah pengalaman yang sangat istimewa. Karakter-karakter tersebut tidak hanya indah dan elegan tetapi juga memiliki makna yang mendalam," ujar Bapak Ngoc.
Bagi banyak pengunjung, meminta kaligrafi di tengah suasana sakral festival semakin meningkatkan nilai spiritual karya seni mereka.

Salah satu aspek penting dari kegiatan tahun ini adalah perpaduan harmonis antara aksara Vietnam dan Tiongkok. Aksara Vietnam menawarkan keakraban dan kemudahan pemahaman, sementara aksara Tiongkok menciptakan kesan misteri dan kuno. Keragaman ini membuat kegiatan kaligrafi menjadi sangat menarik, terutama bagi mereka yang baru pertama kali mengenal kaligrafi.
Bapak Duong Ngoc Nhon, seorang kaligrafer di festival tersebut, mengatakan bahwa jumlah orang yang meminta kaligrafi tahun ini cukup banyak, termasuk banyak anak muda. Sejak hari pembukaan, beliau telah menulis sekitar 300 karya kaligrafi di lembaran kertas besar. Setiap karya kaligrafi bukan hanya sebuah karya seni tetapi juga mengandung pengamatan dan perasaan penulis terhadap orang yang meminta kaligrafi tersebut.
"Dengan melihat wajah dan sikap masing-masing orang, saya akan menyarankan kata yang sesuai," jelas Bapak Nhon. Untuk siswa, kata-kata seperti "Bakti kepada Orang Tua" atau "Lulus Ujian" sering dipilih; untuk pebisnis, kata-kata seperti "Kesuksesan," "Kemakmuran," dan "Kekayaan" lebih populer.
Sementara itu, mereka yang mencari kedamaian sering memilih karakter "An" (kedamaian) atau "Tam" (pikiran/hati). Oleh karena itu, setiap karya kaligrafi bersifat unik dan memiliki ciri khas masing-masing orang.

Lahir dan besar di Da Nang , Bapak Nhon, meskipun relatif muda (45 tahun), telah menghabiskan bertahun-tahun mempelajari aksara Tionghoa dan filsafat Buddha. Baginya, mengajarkan kaligrafi bukan hanya kegiatan artistik, tetapi juga cara untuk menyebarkan nilai-nilai budaya dan energi positif kepada masyarakat. "Saya berharap generasi muda akan lebih memahami dan menghargai nilai-nilai tradisional, terutama kaligrafi para bijak dan santo," ujarnya.
Yang lebih terpuji lagi, kegiatan kaligrafi di festival ini bersifat non-komersial. Mereka yang meminta kaligrafi dapat memberikan donasi sukarela, dan uang yang terkumpul akan masuk ke dana amal kuil. Hal ini semakin meningkatkan makna kemanusiaan dari kegiatan tersebut, karena setiap karakter tidak hanya membawa kegembiraan spiritual tetapi juga berkontribusi untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Terbukti bahwa di tengah kehidupan modern yang serba cepat dengan berbagai perubahannya, nilai-nilai tradisional seperti meminta kaligrafi di awal tahun atau selama festival masih tetap lestari. Selain sebagai tradisi budaya yang indah, kegiatan ini juga menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara generasi dalam masyarakat.
Di ruang sakral kuil, setiap goresan kaligrafi berfungsi sebagai pengingat akan moralitas, bagaimana menjalani hidup, dan bagaimana berbuat baik. Bagi banyak orang, sebuah karya kaligrafi bukan hanya untuk dekorasi tetapi juga prinsip panduan hidup.
Dan momen-momen sederhana inilah yang berkontribusi pada daya tarik khusus Festival Quan The Am, di mana setiap orang dapat menemukan "kata" untuk mengungkapkan iman dan harapan mereka.
Sumber: https://baodanang.vn/net-dep-xin-chu-cau-may-3331281.html











Komentar (0)