Penjualan gelap di rumah pemotongan hewan sebagai barang selundupan
Dunia telah menyaksikan banyak skandal yang terkait dengan daging hewan, dari daging kuda, daging kucing hingga daging anjing.
Baru-baru ini, larangan daging anjing di Jakarta (Indonesia) terus menjadi pusat perdebatan, memecah belah kelompok hak asasi hewan dan mereka yang menganggapnya sebagai "hidangan tradisional".
Di sebuah restoran sepi di ibu kota, Alfindo Hutagaol duduk di depan sepiring nasi, sambal hijau, dan daging anjing bakar. Hidangan yang dulunya familiar bagi banyak orang kini dilarang. Jakarta adalah salah satu dari sedikit tempat di mana penjualan daging anjing dan kucing masih legal.

Namun, minggu ini (mulai 24 November), pemerintah kota mengumumkan larangan penjualan daging hewan yang berisiko menularkan rabies, termasuk anjing, kucing, kelelawar, monyet, dan musang. Langkah ini diambil di tengah kampanye anti-daging anjing dan kucing yang semakin gencar di negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia ini.
Meskipun umat Islam tidak memakan daging anjing, namun daging anjing cukup populer di kalangan masyarakat lain di Indonesia.
Berbicara kepada wartawan AFP sebelum larangan tersebut dikeluarkan, Bapak Alfindo menegaskan bahwa ia merupakan salah satu orang yang menentang keras larangan tersebut.
"Seharusnya tidak ada larangan seperti itu. Jangan hanya melihat sisi negatifnya, lihat juga manfaatnya," ujarnya.
Meskipun tidak umum, daging anjing dianggap sebagai "obat tradisional" di beberapa daerah di Indonesia. Di beberapa tempat, masyarakat percaya bahwa mengonsumsi daging anjing dapat mengurangi gejala demam berdarah.
Pengunjung lain yang juga penggemar daging anjing, Sunggul Sagala (43), mengatakan, sajian ini merupakan tradisi bagi sebagian masyarakat dan menegaskan, “Tidak bisa serta merta disingkirkan dari meja makan”.

Diketahui, sebelum larangan resmi berlaku pun, perdagangan daging anjing di Jakarta sudah berubah menjadi "bawah tanah", tidak lagi dijual secara terbuka seperti sebelumnya.
Hal ini menyebabkan harga daging anjing melonjak tinggi, tiba-tiba menjadi lebih mahal daripada daging sapi, kata Bapak Sunggul:
"Kenyataannya, membeli daging anjing sekarang tidak ada bedanya dengan mencari barang selundupan. Perdagangan di rumah jagal juga menjadi lebih rahasia," ujarnya.
Daerah lain telah memberlakukan larangan mereka sendiri, seperti Kota Semarang (Jawa Tengah). Pada tahun 2024, otoritas setempat menghentikan sebuah truk yang membawa lebih dari 200 anjing dalam perjalanan menuju rumah jagal dan menangkap lima orang yang terlibat.
Namun, Jakarta belum mengumumkan rencana penanganan hewan-hewan yang ditinggalkan ketika permintaan menurun. Korea Selatan juga mengalami masalah serupa. Ketika larangan daging anjing diberlakukan, para peternak anjing tidak tahu ke mana harus mengirim anjing-anjing yang tidak mereka jual.
Larangan itu disambut baik, tetapi penegakannya tidak mudah.
Larangan tersebut, yang akan diperpanjang selama enam bulan, telah disambut baik oleh kelompok hak asasi hewan.
Ibu Merry Ferdinandez, perwakilan aliansi Dog Meat Free Indonesia (DMFI), menilai hal ini sebagai “komitmen Jakarta yang jelas untuk mempromosikan kesejahteraan hewan”.

Survei DMFI pada tahun 2021 menunjukkan bahwa 93% masyarakat Indonesia menentang perdagangan daging anjing dan menginginkan larangan penuh.
Namun, sebuah penelitian setahun kemudian mencatat 9.500 anjing, sebagian besar disita dari jalanan provinsi Jawa Barat, tempat rabies masih endemik, dan dibawa ke Jakarta untuk dikonsumsi.
Meski larangan tersebut hanya berlaku di ibu kota, DMFI berharap langkah tersebut akan mendorong daerah lain untuk mengikutinya.
Jakarta saat ini merupakan salah satu dari 11 provinsi di Indonesia yang diakui bebas rabies sejak tahun 2004.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Kelautan DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, mengatakan larangan tersebut merupakan "salah satu upaya" untuk mempertahankan capaian selama 20 tahun terakhir.
Meskipun penjualan daging anjing secara terbuka sudah tidak lazim lagi, Jakarta masih memiliki 19 restoran yang menyajikan hidangan tersebut dan setidaknya dua rumah potong hewan yang beroperasi. Bapak Sidabalok mengakui bahwa mengubah kebiasaan beberapa komunitas “tidak mudah.”
Setelah masa perpanjangan 6 bulan, pelanggar dapat dikenakan sanksi mulai dari peringatan tertulis hingga pencabutan izin usaha.
Source: https://dantri.com.vn/du-lich/noi-nguoi-dan-mua-thit-cho-phai-len-lut-nhu-tim-hang-cam-sau-quy-dinh-moi-20251128231126191.htm






Komentar (0)