
Pemerintah diharapkan mengatur ambang batas nilai kena pajak emas batangan saat transfer - Foto: NGOC PHUONG
Usulan tarif pajak sebesar 0,1% dari setiap harga transfer emas batangan
Kementerian Keuangan telah mengirimkan surat kepada anggota Pemerintah untuk dimintakan tanggapan atas draf sejumlah materi muatan yang akan diterima dan dijelaskan pada Rancangan Undang-Undang Pajak Penghasilan Orang Pribadi (perubahan) guna dilaporkan kepada Panitia Tetap Majelis Nasional.
Pengenaan pajak penghasilan pribadi atas transfer emas batangan merupakan salah satu isi pendapat tinjauan Komite Ekonomi dan Keuangan Majelis Nasional, yang disarankan oleh para deputi Majelis Nasional agar dipertimbangkan oleh Pemerintah.
Pendapat tinjauan tersebut merekomendasikan agar Pemerintah mempertimbangkan dengan benar untuk mengenakan pajak atas transfer emas batangan guna menghindari ketidaknyamanan bagi orang yang mentransfer emas bukan untuk tujuan spekulatif atau bisnis.
Pada saat yang sama, direkomendasikan agar badan penyusun terus mempelajari tarif pajak dan metode penerapan yang tepat, membedakan dengan jelas antara investasi emas jangka pendek dan penyimpanan emas jangka panjang untuk memastikan tujuan pengendalian kegiatan spekulatif dan menjadikan pasar emas sehat.
Terkait hal tersebut di atas, dalam rancangan laporan yang disampaikan kepada Komite Tetap Majelis Nasional, Pemerintah ingin menerima masukan dari para anggota Majelis Nasional. Secara khusus, Pemerintah telah menginstruksikan badan penyusun untuk meninjau dan mempelajari secara saksama peraturan perundang-undangan yang relevan, praktik internasional, dan kondisi pengelolaan pasar emas terkini guna menyempurnakan ketentuan ini dalam rancangan Undang-Undang.
Tujuannya adalah untuk memenuhi persyaratan para pemimpin Partai dan Negara untuk berkontribusi dalam pengelolaan pasar emas, sembari memiliki peta jalan yang diperlukan guna memastikan kelayakan dalam implementasi dan menerima konsensus dari mayoritas subjek yang terdampak.
Pemerintah akan mengatur ambang batas nilai emas batangan yang dikenakan pajak.
Bersamaan dengan itu, Pemerintah ingin melaporkan guna mengklarifikasi usulan pengenaan pajak atas transfer emas, yang telah dikaji dan dipelajari secara saksama, berdasarkan sintesis pendapat dari berbagai lembaga, kementerian, cabang dan atas dasar penyerapan pendapat para deputi Majelis Nasional.
Rancangan undang-undang ini menugaskan Pemerintah untuk, berdasarkan situasi pengelolaan pasar emas, menetapkan waktu pengajuan, nilai ambang batas emas batangan yang dikenakan pajak, dan menyesuaikan tarif pajak sesuai dengan peta jalan pengelolaan pasar emas. Pajak penghasilan pribadi akan dipungut atas pengalihan emas batangan dengan tarif pajak sebesar 0,1% dari harga pengalihan setiap kali pengalihan, demikian dilaporkan Kementerian Keuangan.
Berdasarkan laporan Kementerian Keuangan, Pemerintah menetapkan ketentuan khusus tentang nilai ambang batas emas batangan yang dikenakan pajak, dengan tujuan menghilangkan kasus-kasus di mana perorangan melakukan jual beli emas untuk tujuan menabung dan menyimpan (bukan untuk keperluan usaha), sesuai dengan kebiasaan membeli dan menyimpan emas pada masa kini di kalangan sebagian masyarakat.
Peraturan ini memberikan kepastian hukum kepada Pemerintah untuk menetapkan ketentuan pemungutan pajak dan hal-hal spesifik seperti batas maksimum pengenaan pajak dan penyesuaian tarif pajak apabila syarat-syarat pengelolaan pasar emas memenuhi syarat pemungutan dan pengelolaan pajak.
Di samping itu, karena ini merupakan regulasi baru yang berdampak luas, maka regulasi sebagaimana dalam Rancangan Undang-Undang ini merupakan langkah yang diperlukan untuk memberikan kontribusi dalam menjaga stabilitas perekonomian, melaksanakan dengan baik arahan Partai dan Negara dalam mengelola kegiatan perdagangan emas secara ketat, memberikan kontribusi dalam membatasi spekulasi dalam emas, menarik sumber daya dalam masyarakat untuk berpartisipasi dalam perekonomian.
Rumah tangga bisnis mungkin harus membayar pajak atas pendapatan di atas 500 juta VND.
Terkait penyesuaian tingkat pendapatan tidak kena pajak (PNBP) bagi rumah tangga pelaku usaha dan perorangan, Kementerian Keuangan mengusulkan agar Pemerintah menaikkan ambang batas penerimaan kena pajak (PNBP) dari VND200 juta/tahun menjadi VND500 juta/tahun. Pada saat yang sama, batas VND500 juta/tahun ini juga merupakan batas yang dapat dikurangkan sebelum membayar pajak sesuai dengan tarif penerimaan.
Misalnya, jika rumah tangga atau individu mendistribusikan atau memasok barang dengan omzet 1 miliar VND/tahun dan tidak dapat menentukan harga pokoknya, mereka hanya perlu membayar pajak penghasilan pribadi atas barang yang melebihi 500 juta VND dengan tarif pajak 0,5%. Dengan demikian, pajak yang terutang adalah (1 miliar VND - 500 juta VND) x 0,5% = 2,5 juta VND/tahun.
Berdasarkan data terkini yang dikelola oleh sektor pajak, per Oktober, negara ini memiliki lebih dari 2,54 juta rumah tangga bisnis reguler. Jika proposal ini diterapkan, diperkirakan sekitar 2,3 juta rumah tangga bisnis tidak akan perlu membayar pajak, yang mencakup sekitar 90% dari total jumlah rumah tangga bisnis reguler di negara ini.
Menurut perkiraan otoritas pajak, total pengurangan pajak (termasuk pajak penghasilan pribadi dan pajak pertambahan nilai) adalah sekitar VND 11.800 miliar.
Source: https://tuoitre.vn/se-ap-nguong-gia-tri-vang-mieng-chiu-thue-khi-chuyen-nhuong-20251129072827159.htm






Komentar (0)