Ide datang dari rasa kasih sayang
Kedua siswa ini adalah Nguyen Minh Quang dan Trieu Viet Hoang. Ide pembuatan gelang pintar berawal dari kisah Minh Quang ketika ia menyaksikan tetangganya, Nguyen Van Thuong (di Kota Yen Son, Distrik Yen Son), yang harus mengatasi berbagai kesulitan untuk mencari nafkah. Tn. Thuong adalah seorang tunanetra yang bekerja sebagai ahli akupuntur. Meskipun kehilangan penglihatannya, ia tetap tekun bekerja. Selain pekerjaan utamanya, Tn. Thuong juga bertani dan berkebun untuk menopang perekonomian keluarganya.
Dua perancang gelang pintar untuk tunanetra. FOTO: AN VY
"Sangat sulit baginya untuk bergerak dan terkadang ia mengalami cedera ringan karena lingkungan yang kompleks di sekitarnya. Ketangguhan Paman Thuong dalam menghadapi kesulitan menyentuh hati kami. Dari situlah, kami terpikir untuk melakukan sesuatu guna membantu penyandang tunanetra seperti dia bergerak dengan lebih mudah dan aman," ujar Quang.
Quang mengatakan ia ingin menciptakan perangkat pengganti tongkat jalan tradisional yang besar dan mudah hilang. Idenya adalah gelang pintar kecil yang membantu para tunanetra merasakan rintangan melalui getaran lembut. Maka, dengan rasa welas asih dan hasrat terhadap teknologi, kedua mahasiswa tersebut memulai perjalanan untuk mewujudkan ide tersebut.
Teman-teman sekelasnya mengatakan mereka menggunakan teknologi sensor ultrasonik berbasis Arduino. Perangkat ini bekerja dengan memancarkan dan menerima gelombang ultrasonik untuk menghitung jarak ke rintangan. Ketika mendeteksi rintangan seperti dinding, tiang listrik, atau benda, gelang akan bergetar dan memberi peringatan kepada pengguna.
Menurut keduanya, perangkat ini ringkas, dikenakan langsung di pergelangan tangan, tidak bersuara, sangat estetis, dan minim kehilangan. Khususnya, dengan harga hanya 150.000 VND/buah, produk ini merupakan solusi teknologi berbiaya rendah yang cocok untuk kondisi ekonomi tunanetra di Vietnam.
Menurut Quang, kepraktisan produk ini terletak pada kesederhanaan namun efektifitasnya, membantu mereka yang tuna netra untuk bergerak lebih percaya diri di lingkungan yang kompleks, dari jalan desa yang sempit hingga ruang perkotaan yang padat.
Salah satu tantangan terbesar proyek ini adalah bagaimana mengurangi biaya sekaligus memastikan kualitas. Setelah serangkaian percobaan, Quang dan Hoang memutuskan untuk memilih teknologi Arduino guna menghemat biaya riset, sehingga membantu menurunkan harga produk. Komponen yang digunakan mudah ditemukan, murah, dan dapat dibeli dalam jumlah besar. Proses perakitan dioptimalkan untuk memastikan efisiensi dan kesederhanaan, sejalan dengan tujuan nirlaba proyek ini. "Kami ingin produk ini menjangkau sebanyak mungkin penyandang tunanetra, terutama mereka yang berada dalam kondisi sulit," tegas Quang.
Produk ini telah melalui banyak versi penyempurnaan. FOTO: AN VY
"Mata" orang-orang yang kurang beruntung
Hoang mengatakan bahwa gelang pintar bukan sekadar produk teknologi, tetapi juga memiliki nilai sosial yang mendalam. Gelang ini membantu para tunanetra mengurangi ketergantungan mereka pada kerabat, meningkatkan kemandirian mereka, dan berpartisipasi lebih aktif dalam kegiatan sosial-ekonomi. Hal ini tidak hanya meningkatkan kualitas hidup mereka, tetapi juga berkontribusi dalam membangun komunitas yang adil di mana setiap orang memiliki kesempatan untuk berkontribusi dan berkembang.
Dari segi keselamatan, perangkat ini memberikan peringatan dini akan adanya rintangan, sehingga mengurangi risiko kecelakaan saat bergerak di ruang publik, ujar Hoang. Hal ini tidak hanya melindungi pengguna tetapi juga mengurangi beban pada sistem kesehatan .
"Ketika digunakan secara luas, gelang pintar dapat menciptakan serangkaian nilai sosial, mulai dari menciptakan lapangan kerja dalam proses produksi hingga meningkatkan budaya mendukung masyarakat yang kurang beruntung. Kami berharap dapat mengomersialkan produk ini, mengekspornya ke luar negeri, dan membawa teknologi Vietnam ke dunia . Semoga gelang ini menjadi simbol inovasi dan kasih sayang, menghilangkan hambatan bagi penyandang tunanetra dan membuka peluang integrasi dalam kehidupan sehari-hari," ujar Hoang.
Ke depannya, kedua mahasiswa ini berencana untuk mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT) dan visi komputer ke dalam produk ini. "Kami ingin melampaui keterbatasan perangkat keras saat ini, mengubah perangkat ini menjadi alat untuk mengumpulkan dan memproses informasi di server. Nantinya, gelang ini tidak hanya akan memperingatkan adanya rintangan, tetapi juga mampu mengenali objek yang bergerak cepat seperti mobil dan sepeda motor, sehingga membantu para tunanetra meminimalkan ketergantungan mereka pada orang lain," ujar Hoang dengan penuh semangat.
Sumber: https://thanhnien.vn/sinh-vien-lam-vong-deo-tay-thong-minh-cho-nguoi-khiem-thi-185250420194029015.htm






Komentar (0)