
Artikel ini tidak membahas kebijakan atau strategi spesifik kota, melainkan menyarankan sebuah pendekatan: mengatur universitas berdasarkan model multi-kampus, yang terintegrasi ke dalam ekosistem perkotaan berbasis pengetahuan, alih-alih mendekatinya dengan pola pikir perpindahan spasial mekanis.
Oleh karena itu, jika universitas hanya dianggap sebagai struktur fisik, relokasi dapat dilihat sebagai solusi teknis untuk mengatasi masalah kekurangan lahan.
Namun, jika kita memandang universitas sebagai lembaga sosio -ekonomi khusus (tempat di mana pengetahuan, kreativitas, budaya, dan hubungan ekonomi, budaya, dan sosial bertemu), maka "relokasi" bukan lagi operasi mekanis, melainkan keputusan yang dapat mengubah struktur ekosistem perkotaan.
Tren universitas multi-kampus
Pengalaman internasional menunjukkan sebuah tren: alih-alih relokasi total, kota-kota berkembang memilih model universitas multi-kampus, yaitu, mengatur ruang universitas dalam format jaringan, di mana setiap kampus menjalankan fungsi yang berbeda tetapi saling terhubung erat. Hal ini memungkinkan untuk mempertahankan "inti pengetahuan" di pusat kota sambil memperluas pembangunan ke area baru secara fleksibel dan efisien.
Salah satu contoh utamanya adalah Universitas Tongji (di Shanghai, Tiongkok). Universitas ini tidak memusatkan semua kegiatannya di satu kampus saja, tetapi telah berkembang menjadi beberapa "kampus" seperti Ciping, Jiading, Hubei, Huxi, dan lain-lain, serta pusat-pusat kerja sama internasional.
Setiap kampus memiliki peran masing-masing: beberapa fokus pada pendidikan dasar, beberapa mengkhususkan diri dalam penelitian teknis, dan yang lainnya bertujuan untuk kolaborasi global. Struktur organisasi ini memungkinkan universitas untuk mempertahankan kehadiran yang kuat di pusat kota sekaligus memiliki ruang untuk mengembangkan bidang-bidang yang membutuhkan area luas dan infrastruktur modern.
Demikian pula, banyak universitas di seluruh dunia beroperasi dengan model multi-kampus. Benang merah di antara model-model ini adalah bahwa mereka tidak "memindahkan" universitas dalam arti meninggalkan satu lokasi untuk lokasi lain, tetapi lebih memperluas universitas melalui struktur jaringan spasial, selaras dengan logika pembangunan perkotaan modern.
Dari perspektif studi perkotaan dan sosiologi perkotaan, model multi-baseline bukanlah pilihan acak, melainkan hasil dari banyak faktor.
Pertama, kota-kota besar semakin menghadapi keterbatasan lahan di area pusatnya, sementara kebutuhan akan perluasan pelatihan dan penelitian terus meningkat. Namun, pusat kota tetap menjadi pusat bagi sumber daya penting seperti bisnis, lembaga penelitian, ruang kreatif, dan kegiatan budaya. Oleh karena itu, tidak mungkin untuk "meninggalkan" pusat kota; sebaliknya, fungsi inti harus dipertahankan di sana, sementara kegiatan yang membutuhkan lahan luas dipindahkan ke pinggiran.
Selain itu, kebutuhan siswa akan kualitas hidup dan pengalaman juga merupakan faktor penting.
Mahasiswa tidak hanya belajar tetapi juga berpartisipasi dalam kehidupan sosial, bekerja paruh waktu, membangun jaringan, dan berkreasi. Sistem universitas multi-kampus memungkinkan alokasi fungsi yang rasional: pusat untuk membangun jaringan dan kreativitas, dan pinggiran untuk pembelajaran, penelitian, dan kegiatan sosial. Hal ini mengoptimalkan ruang fisik dan sosial universitas.
Universitas dalam ekosistem perkotaan
Jika dilihat dalam konteks Da Nang, risiko penerapan pendekatan "relokasi total" menjadi jelas.

Pertama dan terpenting adalah risiko mengganggu ekosistem pengetahuan yang telah berkembang selama bertahun-tahun. Universitas saat ini terkait erat dengan jaringan bisnis, lembaga penelitian, dan kegiatan sosial-ekonomi di daerah perkotaan. Memindahkan mereka sepenuhnya ke daerah baru dapat melemahkan hubungan ini, sehingga memengaruhi kualitas pendidikan dan penelitian.
Kedua, terdapat risiko pemborosan sumber daya, terutama infrastruktur yang telah diinvestasikan menggunakan dana anggaran negara dan modal internasional.
Ketiga, hal ini meningkatkan biaya sosial bagi mahasiswa dan dosen, karena jarak tempuh menjadi lebih jauh dan akses ke pekerjaan dan layanan berkurang.
Terakhir, jika area tempat desa universitas direncanakan dibangun tidak memiliki ekosistem sosial-ekonomi yang sesuai, maka mudah untuk menciptakan "kota universitas kosong," di mana hanya ada kegiatan akademik tetapi缺乏 vitalitas perkotaan yang sesungguhnya.
Dalam konteks ini, pendekatan yang lebih masuk akal adalah membangun model universitas multipolar dan terintegrasi.
Oleh karena itu, perlu untuk mempertahankan universitas inti di pusat Da Nang dengan fungsi administrasi, pelatihan di bidang ilmu sosial, ekonomi, dan bidang kreatif, bersama dengan pusat inovasi dan kewirausahaan. Ini adalah "otak" dari sistem, tempat nilai pengetahuan diciptakan dan koneksi sosial dibangun.
Area lain dapat dikembangkan menjadi pusat universitas baru, yang berfokus pada penelitian teknologi tinggi, eksperimen, transfer teknologi, dan sistem asrama berskala besar. Ini akan bertindak sebagai "perpanjangan tangan," menyediakan ruang fisik untuk pengembangan jangka panjang.
Namun, prasyarat agar model ini dapat bekerja secara efektif adalah adanya sistem yang terhubung.
Tanpa transportasi umum berkecepatan tinggi, infrastruktur digital terintegrasi, dan koneksi yang kuat dengan dunia bisnis, kampus akan menjadi terfragmentasi dan tidak mampu memanfaatkan kekuatan gabungan mereka.
Sebaliknya, jika dirancang dengan baik, sistem multi-kampus dapat menciptakan jaringan ruang pengetahuan yang dinamis, di mana setiap kampus merupakan "simpul" penghubung dalam struktur pembangunan perkotaan. Hal ini juga sangat konsisten dengan keputusan pemerintah kota Da Nang untuk berinvestasi dalam sistem kereta api perkotaan yang menghubungkan Da Nang ke Hoi An dan Tam Ky (tentunya melewati Thang Binh dan Nui Thanh...).
Dengan mengambil pelajaran dari pengalaman di banyak negara, universitas yang terletak di daerah pinggiran seringkali terkait erat dengan zona teknologi tinggi, bisnis inovatif, dan ekosistem produksi-jasa. Akibatnya, universitas tidak hanya berfungsi sebagai pusat pelatihan tetapi juga menjadi penggerak pembangunan ekonomi lokal.
Sebuah siklus sedang terbentuk: dari pengetahuan ke teknologi, dari teknologi ke bisnis, dan dari bisnis kembali mendorong pembangunan perkotaan. Jika diimplementasikan dengan benar, wilayah selatan Da Nang dapat sepenuhnya menjadi pusat pertumbuhan berbasis pengetahuan yang baru, bukan hanya tempat untuk menerima fasilitas yang direlokasi.
Dari analisis di atas, dapat dilihat bahwa permasalahannya bukanlah pilihan antara "relokasi" atau "tidak relokasi," melainkan pemilihan model pengembangan perkotaan yang sesuai.
Perencanaan kota modern tidak dapat hanya didasarkan pada keputusan administratif atau keinginan subjektif, tetapi harus dibangun di atas landasan ilmiah, dengan visi jangka panjang dan integrasi komponen fungsional. Dalam struktur ini, pendidikan tinggi bukan hanya bidang yang terpisah, tetapi salah satu penggerak terpenting pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan dan inovasi.
Oleh karena itu, semua keputusan yang berkaitan dengan ruang universitas perlu ditempatkan dalam kerangka strategi pembangunan perkotaan secara keseluruhan, perencanaan regional, dan ekosistem inovasi.
Jika kita hanya menangani masalah alokasi lahan jangka pendek sambil mengabaikan faktor-faktor ini, hal itu dapat dengan mudah menyebabkan konsekuensi jangka panjang seperti pemborosan sumber daya, penurunan kualitas pelatihan, dan terciptanya ruang kota yang tidak efisien.
Sebaliknya, dengan mengadopsi pendekatan yang berfokus pada pengembangan ruang universitas multi-kampus, mengintegrasikan ruang, dan belajar dari pengalaman internasional, Da Nang dapat mengubah tantangan yang ada menjadi peluang untuk restrukturisasi perkotaan menuju model modern, berkelanjutan, dan berbasis pengetahuan.
Sumber: https://baodanang.vn/tai-cau-truc-khong-gian-dai-hoc-3336900.html











Komentar (0)