Di tengah meningkatnya ketegangan global, baik Rusia maupun China mempercepat pengembangan rudal balistik jarak menengah (IRBM) modern. RS-26 Rubezh (varian Oreshnik) Rusia dan DF-26 China mewakili dua pendekatan yang berbeda namun sama-sama berbahaya.
Salah satunya berfokus pada kecepatan hipersonik dan kemampuan untuk menembus pertahanan musuh, sementara yang lain menekankan fleksibilitas kemampuan ganda dan kemampuan untuk menyerang target bergerak di laut. Kedua sistem ini membentuk kembali keseimbangan militer di Eropa dan Pasifik Barat.

Rudal Oreshnik (varian operasional dari rudal RS-26 Rubezh ) adalah rudal balistik jarak menengah (IRBM) berbahan bakar padat yang diluncurkan dari platform bergerak yang dapat diluncurkan dari jalan raya.

Ini adalah versi sederhana dari desain rudal RS-26 asli, dengan dua tahap pendorong, bukan tiga. Rudal RS-26 memiliki perkiraan jangkauan 3.500 hingga 5.500 km, cukup untuk mencapai sebagian besar ibu kota Eropa dari wilayah Rusia.
Kecepatan maksimum rudal RS-26 melebihi Mach 10 (sekitar 12.300 km/jam), dan bahkan dapat mencapai kecepatan yang lebih tinggi selama fase masuk kembali ke atmosfer.
Fitur paling menonjol dari rudal Oreshnik adalah kemampuannya untuk membawa hulu ledak MIRV (multiple independently targetable reentry vehicles), dengan konfigurasi yang digunakan dalam pertempuran terdiri dari 6 hulu ledak, masing-masing membawa beberapa submunisi.
Penggunaan energi kinetik hipersonik, alih-alih sepenuhnya bergantung pada bahan peledak, meningkatkan daya hancur dan mengurangi kemungkinan pencegatan.
Sistem navigasi ini menggabungkan navigasi inersia dan GLONASS, menghasilkan akurasi yang relatif tinggi.

Rusia menggunakan rudal Oreshnik dalam serangan di Ukraina dari akhir tahun 2024 hingga 2026, menandai pertama kalinya teknologi MIRV digunakan dalam peperangan modern.

Rudal DF-26 China, yang sering disebut sebagai "Pembunuh Guam," adalah rudal balistik jarak menengah dua tahap, berbahan bakar padat, dan diluncurkan dari kendaraan bergerak.
Dengan panjang sekitar 14 meter, diameter 1,4 meter, dan berat peluncuran sekitar 20 ton, rudal DF-26 memiliki jangkauan 3.000-5.000 km (tergantung variannya), cukup untuk menjangkau Guam dan kelompok kapal induk AS yang beroperasi di Pasifik Barat.
Kapasitas muatannya berkisar antara 1.200 hingga 1.800 kg, mampu membawa hulu ledak nuklir dan konvensional.
Rudal DF-26 adalah sistem canggih dengan kemampuan ganda, dengan varian rudal balistik anti-kapal (ASBM) yang dilengkapi dengan terminal berpemandu radar, memungkinkan penargetan yang tepat terhadap sasaran bergerak di laut.
Sistem navigasi ini menggunakan kombinasi navigasi inersia, penentuan posisi satelit BeiDou, dan dapat menggabungkan panduan akhir jalur optik atau radar, mencapai akurasi dengan probabilitas kesalahan melingkar (CEP) sekitar 100 meter.

Desain yang mudah dipindahkan melalui jalan darat memudahkan China untuk menyebarkan, menyamarkan, dan bertahan dari serangan pendahuluan.

Jika membandingkan kedua sistem tersebut, rudal Oreshnik Rusia memprioritaskan kecepatan yang sangat tinggi dan kemampuan untuk menembus pertahanan musuh menggunakan MIRV (Microwave Reconnaissance Ordnance Verification) dan energi kinetik hipersonik, sehingga cocok untuk peperangan di Eropa dan sebagai pencegah terhadap NATO.
Sementara itu, rudal DF-26 China menekankan keserbagunaan penggunaan ganda, kemampuan untuk secara akurat menyerang target tetap dan bergerak di laut, yang mendukung strategi anti-akses/penolakan wilayah (A2/AD) di Pasifik Barat.
Keduanya menggunakan bahan bakar padat dan platform peluncuran bergerak, menawarkan mobilitas tinggi dan waktu respons yang cepat.
Kedua rudal ini tidak hanya menunjukkan teknologi rudal canggih Rusia dan Tiongkok, tetapi juga mencerminkan perbedaan strategi militer mereka: Rusia berfokus pada daya hancur dan kecepatan, sementara Tiongkok memprioritaskan akurasi dan jangkauan luas di laut.
(Menurut armyrecognition.com, missilethreat.csis.org, missiledefenseadvocacy.org)
Sumber: https://vietnamnet.vn/ten-lua-rs-26-nga-toc-do-mach-10-tam-ban-5-500km-so-gang-ten-lua-df-26-trung-2517435.html











Komentar (0)