
Masih ada celah.
Perkembangan pesat pembayaran digital menjadi sorotan utama dalam proses transformasi digital industri perbankan Vietnam. Hanya dalam beberapa tahun, metode pembayaran elektronik seperti kode QR, dompet elektronik, dan perbankan seluler telah dengan cepat mengubah perilaku konsumen, menggeser peran uang tunai dalam banyak transaksi sehari-hari.
Berbicara di Forum Inovasi Keuangan Dunia (WFIS 2026), yang diselenggarakan bersama oleh Asosiasi Perbankan Vietnam (VNBA) dan TradePass (India) pada tanggal 19 Mei di Hanoi, Bapak Le Anh Dung, Wakil Direktur Departemen Pembayaran, Bank Negara Vietnam, menyatakan bahwa proporsi uang tunai dalam pembayaran di tempat penjualan telah menurun tajam dari sekitar 85% pada tahun 2019 menjadi 33% pada tahun 2025. Sebaliknya, metode pembayaran digital berkembang pesat, dengan dompet elektronik mencapai hingga 56% dari nilai transaksi e-commerce, dan pembayaran kode QR mencatat tingkat pertumbuhan hingga 151% dalam nilai transaksi.
Ukuran pasar juga berkembang pesat. Nilai e-commerce di Vietnam telah mencapai sekitar US$28 miliar dan diperkirakan akan meningkat menjadi US$50 miliar pada tahun 2030, menciptakan ruang yang signifikan untuk pengembangan layanan pembayaran digital. Bersamaan dengan itu, transaksi kartu bank mempertahankan tingkat pertumbuhan yang tinggi, dengan peningkatan rata-rata sekitar 30,7% per tahun dalam volume dan lebih dari 20% per tahun dalam nilai dalam beberapa waktu terakhir.
Dalam konteks ini, Bapak Le Anh Dung mencatat bahwa pembayaran bergeser dari layanan mandiri menjadi komponen ekosistem digital, dengan koneksi yang semakin erat antara bank, bisnis, dan platform teknologi. Proses koneksi ini secara bersamaan menciptakan kebutuhan akan platform data yang cukup besar dan terstandarisasi agar layanan dapat beroperasi secara efisien.
Namun, perkembangan pesat pembayaran digital belum diiringi oleh tingkat kecanggihan infrastruktur sistem yang sepadan. Kemampuan untuk terhubung dan beroperasi antar organisasi masih memiliki keterbatasan tertentu, yang menghambat perluasan ekosistem digital untuk mencapai potensi penuhnya.
Seiring dengan itu, tekanan pada keamanan dan keselamatan sistem semakin meningkat, terutama dalam konteks pertumbuhan pesat transaksi pembayaran digital. Metode penipuan berteknologi tinggi, khususnya yang melibatkan kecerdasan buatan, menjadi semakin canggih. Menurut studi internasional, Bapak Dung menunjukkan bahwa sekitar 85% bank diperkirakan harus menerapkan AI untuk mendeteksi dan mencegah penipuan secara real-time.
Dari perspektif yang lebih luas, ini bukan hanya masalah teknologi; "hambatan" struktural dalam sistem keuangan juga secara bertahap mulai terlihat. Dr. Can Van Luc, Kepala Ekonom Bank Investasi dan Pembangunan Vietnam ( BIDV ), menunjukkan bahwa kredit bank masih mencakup sekitar 50% dari total modal dalam perekonomian, sementara saluran modal lainnya belum berkembang secara proporsional.
"Untuk memenuhi tuntutan pertumbuhan, terutama dalam konteks transformasi digital, sistem keuangan perlu direstrukturisasi secara menyeluruh, mengurangi ketergantungan pada kredit bank," tegas Dr. Can Van Luc.
Pada kenyataannya, semakin cepat perkembangan pembayaran digital, semakin jelas pula hambatan dalam infrastruktur, tata kelola, dan struktur pasar, yang menyoroti perlunya pergeseran dari pertumbuhan yang dipercepat ke pembangunan berkelanjutan dalam proses digitalisasi industri perbankan.
Lakukan peningkatan untuk mencapai terobosan.
Ledakan pembayaran digital membuka potensi pertumbuhan yang sangat besar bagi industri perbankan, tetapi pada saat yang sama, hal ini juga menimbulkan tuntutan baru pada platform operasional dan kemampuan sistem. Seiring meningkatnya laju pertumbuhan, fokus bergeser dari sekadar "bergerak cepat" menjadi "melangkah jauh dan berkelanjutan."
Dari perspektif manajemen, Bapak Le Anh Dung percaya bahwa pengembangan pembayaran digital membutuhkan infrastruktur konektivitas yang lebih sinkron. Seiring pembayaran menjadi bagian dari ekosistem digital, interoperabilitas antara bank dan industri serta sektor lain merupakan prasyarat. Jika institusi adalah "faktor pembuka," maka infrastruktur adalah fondasi agar model-model ini dapat beroperasi secara efektif dalam praktiknya.
Bersamaan dengan itu, isu penyempurnaan kerangka hukum menjadi semakin mendesak. Munculnya model-model baru seperti bank digital, perusahaan fintech, dan aplikasi AI di bidang keuangan menciptakan kebutuhan untuk menyempurnakan kerangka hukum ke arah fleksibilitas yang lebih besar. Menurut Bapak Le Anh Dung, penerapan mekanisme pengujian terkontrol (sandbox) akan membantu menyeimbangkan antara mendorong inovasi dan memastikan keamanan sistem, sehingga menciptakan ruang bagi pengembangan model pembayaran baru.
Selain itu, investasi dalam infrastruktur digital perlu dipercepat lebih lanjut, terutama sistem pembayaran nasional, platform data, dan interoperabilitas. Ini merupakan prasyarat untuk mengembangkan layanan keuangan digital modern yang memenuhi kebutuhan warga dan bisnis yang terus berkembang.
Seiring dengan perkembangan pesat pembayaran digital dan meningkatnya permintaan modal dalam ekonomi digital, tantangan restrukturisasi sistem keuangan menjadi semakin jelas. Menurut Dr. Can Van Luc, pengembangan pasar modal dan pengurangan ketergantungan secara bertahap pada kredit bank akan berkontribusi pada peningkatan ketahanan sistem dan dukungan yang lebih baik bagi sektor-sektor pertumbuhan baru.
Tak terlepas dari faktor-faktor di atas adalah kisah manajemen risiko. Meningkatnya transaksi digital berarti risiko teknologi juga menjadi semakin kompleks, terutama bentuk-bentuk penipuan yang menggunakan kecerdasan buatan. Dalam konteks ini, penerapan teknologi untuk memantau dan mencegah risiko secara real-time bukan lagi pilihan, melainkan persyaratan wajib jika stabilitas sistem ingin dipertahankan.
Yang perlu diperhatikan, kedua pakar tersebut menekankan faktor fundamental: kepercayaan pengguna. Seiring dengan semakin bergesernya layanan keuangan ke lingkungan digital, kecepatan dan kemudahan harus berjalan seiring dengan keamanan dan transparansi. Bapak Le Anh Dung mencatat bahwa inovasi keuangan hanya dapat berkelanjutan jika disertai dengan memastikan stabilitas sistem dan memperkuat kepercayaan publik terhadap sistem keuangan dan moneter.
Di sisi lain, proses transformasi digital juga menuntut hal baru dari sumber daya manusia. Pengembangan produk dan layanan keuangan digital tidak hanya membutuhkan pengetahuan keuangan, tetapi juga kemampuan teknologi, data, dan keamanan siber. Hal-hal ini dianggap sebagai faktor penting dalam mewujudkan strategi digitalisasi di industri perbankan.
Secara keseluruhan, teknologi dapat membuka "peluang", tetapi hanya jika dipadukan dengan fondasi kelembagaan yang kokoh, infrastruktur modern, dan kepercayaan pasar, sektor keuangan dan perbankan Vietnam dapat mencapai terobosan berkelanjutan.
Sumber: https://baotintuc.vn/tai-chinh-ngan-hang/thanh-toan-so-bung-no-ngan-hang-viet-con-thieu-gi-20260519133915696.htm











Komentar (0)