
Tanaman labu yang rimbun dan hijau membangkitkan suasana pedesaan yang damai.
Di akhir pekan, Nhien kecil sibuk merawat tanaman labu bersama kakeknya, tangan mungilnya membelai labu muda yang baru dipetik, matanya lebar seolah-olah baru saja menemukan sesuatu yang luar biasa. Dia mengajukan berbagai pertanyaan dengan suara polosnya: "Mengapa labu berbulu, Kakek?", "Mengapa bunganya kuning?", "Apakah bunganya manis?". Kakeknya tersenyum lembut, menjawab perlahan, seolah-olah menceritakan kenangan seumur hidup dari kampung halamannya dalam setiap kata.
Tiba-tiba aku teringat teralis loofah di halaman rumah kakek-nenekku, di belakang rumah ibuku. Dulu, mereka membangun teralis besar yang menutupi seluruh sudut halaman. Di siang hari yang cerah, kami akan menggantungkan tempat tidur gantung kami di bawahnya, angin sepoi-sepoi berdesir melalui dedaunan loofah, terasa sangat sejuk. Sinar matahari menembus dedaunan, berayun di wajah, tangan, dan tidur anak-anak kami yang gelisah.
Rumah nenekku punya begitu banyak loofah sehingga kami tidak bisa menghabiskan semuanya. Setiap hidangan selalu mengandung loofah. Yang paling kuingat adalah loofah yang dimasak dengan udang kering. Nenekku menangkap udang di ladang, menjemurnya hingga renyah, dan menyimpannya untuk dimakan selama musim ketika ikan dan makanan laut lainnya langka. Semangkuk sup loofah dengan udang kering, sedikit lada, dan satu sendok saja terasa seperti seluruh pedesaan terkandung di dalamnya.

Sup labu dengan udang.
Nenek juga membuat zucchini panggang yang direndam dalam saus ikan dan cabai, serta tumis zucchini dengan jeroan ayam dan bebek. Suatu hari, Kakek pergi ke ladang dan menangkap burung puyuh, yang kemudian ditumis Nenek bersama zucchini. Masakannya sederhana tetapi sangat lezat sehingga bahkan setelah kami selesai makan, kami masih duduk di sana mengaguminya dan merasa menyesal.
Namun, labu loofah bukan hanya untuk dimakan. Nenek saya akan membiarkan labu yang sudah matang di pohonnya hingga kering, menyimpannya sebagai biji untuk musim berikutnya. Terkadang, ia merebus labu yang sudah matang untuk membuat minuman, dengan mengatakan bahwa itu akan "mengisi kembali ASI" untuk ibu yang baru melahirkan. Saya ingat tahun itu, bibi saya Năm melahirkan Thành, dan ia lemah serta kehilangan ASI, menyebabkan seluruh keluarga khawatir. Nenek saya diam-diam memetik beberapa labu yang sudah matang, mencucinya, dan merebusnya untuk diminum bibi saya. Beberapa hari kemudian, bibi saya merasa jauh lebih baik, dan Thành berhenti menangis karena lapar. Itu adalah cerita kecil, tetapi membuat saya semakin percaya bagaimana orang-orang di kampung halaman saya bergantung pada tumbuhan dan buah-buahan untuk hidup dan saling menyembuhkan.

Bunga loofah berwarna kuning dan memiliki aroma yang lembut.
Di sore hari, nenekku sering memintaku duduk di sampingnya dan mencabut rambut-rambut berubannya. Aku akan duduk di sana, jari-jariku menelusuri setiap helai rambut perak, sementara telingaku mendengarkan cerita-ceritanya. Cerita-cerita tentang masa lalu, ketika kakek-nenekku miskin, dan ketika perang berkecamuk. Cerita-cerita itu bercampur dengan suara angin dan gemerisik daun labu, terdengar jauh sekaligus akrab. Terkadang aku tidak mengerti semuanya, tetapi hatiku tetap terasa hangat.
Lalu aku tumbuh dewasa dan bersekolah jauh dari rumah. Setiap kali aku pulang, nenekku akan memetik sekantong labu untukku. Hampir selusin, kadang lebih. Dia akan berkata, "Bawalah pulang untuk dimakan agar kamu tidak terlalu merindukan rumah. Dan bagikan dengan teman-temanmu, sebagai tanda persahabatan." Aku tersenyum, tetapi hatiku terasa sakit. Labu-labu hijau yang subur itu mengikutiku selama aku jauh dari rumah, seolah membawa aroma bumi, matahari, dan nenekku.
Lalu kehidupan membawa kami pergi. Kami tumbuh dewasa, menikah, dan menetap di kota. Kisah-kisah yang kami bagikan di bawah tanaman loofah memudar seiring berjalannya waktu. Terkadang, tiba-tiba saya menyadari bahwa saya telah melupakan rasa manis loofah dari kampung halaman saya, dan bahkan perasaan berbaring di tempat tidur gantung di bawah tanaman rambat hijau yang rimbun.

Loofah manis adalah buah yang menyehatkan, berfungsi sebagai makanan dan obat.
Kemudian, kakek Nhiên membawa pulang sekotak benih. Nhiên tidak tahu dari mana kakeknya mendapatkan benih itu, hanya tahu bahwa itu adalah "benih labu dari pedesaan." Kakeknya diam-diam menanamnya, membuat teralis, dan menyiraminya setiap hari. Awalnya, hanya ada beberapa sulur yang lemah, tetapi tak lama kemudian, teralis labu itu telah menutupi sebagian sudut kebun dengan warna hijau.
Kini ia berdiri di sana, di tengah hiruk pikuk jalanan, namun tetap setenang kenangan. Daun loofah berukuran besar dan hijau, kasar saat disentuh. Bunganya berwarna kuning cerah, harumnya lembut—tidak menyengat, tetapi bertahan lama, membuat orang yang lewat berhenti untuk menghirup aromanya. Beberapa buah loofah menggantung ke bawah, seperti lentera kecil, bergoyang tertiup angin.
Nhien kecil tumbuh besar bersama tanaman labu itu. Dia tidak tahu banyak tentang kampung halamannya seperti saya dulu, tetapi dia memiliki kakeknya, tanaman labu itu, dan cerita-cerita yang diceritakan kepadanya. Mungkin itu sudah cukup untuk mencegah seorang anak merasa tersesat di kota ini.
Aku menatap anakku, lalu menatapnya. Seorang lelaki tua, seorang anak laki-laki muda, berdiri di bawah teralis labu. Waktu seolah terhubung kembali, tanpa gangguan. Apa yang kita kira hilang, ternyata masih ada di suatu tempat, seandainya saja ada yang mengingatnya, seandainya saja ada yang mau menanamnya kembali.
Angin bertiup lembut, mengayunkan sulur labu. Aku mendengar suara yang mirip tawa nenekku di suatu tempat di dekatku. Lembut, namun hangat. Seolah tanah kelahiranku tak pernah pergi, hanya menunggu hari untuk mekar kembali di hatiku.
Teks dan foto: AN LAM
Sumber: https://baoangiang.com.vn/thuong-lam-gian-muop-que-nha-a481643.html











Komentar (0)