Malam pertamaku di anjungan lepas pantai tidak semudah yang kubayangkan. Ombak terus menerus menghantam kakiku, dan angin berdesir melalui kerangka logam, kadang-kadang tiba-tiba menerpa, kadang-kadang hening berkepanjangan. Suara-suara ini tak pernah berhenti, terus mengelilingiku. Berbaring di ruangan kecil itu, aku merasa seolah-olah melayang di ruang angkasa yang luas dan jauh.
Di tengah deburan ombak dan angin, aku tak ingat kapan aku tertidur. Aku hanya ingat terbangun saat hari belum sepenuhnya terang. Lalu, sebuah suara terdengar sangat jelas: "O... o... o... o...". Aku berbaring diam dan mendengarkan lagi. Itu memang suara ayam jantan.
Pada saat itu, perasaan pertama saya bukanlah kejutan, melainkan… keakraban. Begitu akrabnya sehingga untuk sesaat, saya merasa seperti berada di rumah. Di suatu tempat di daratan—pagi yang biasa, dengan suara ayam jantan berkokok untuk memulai hari. Tapi kemudian saya ingat: saya berada di tengah samudra.

Para prajurit di anjungan lepas pantai DK1/15 dengan seekor ayam jantan yang dipelihara di anjungan tersebut.
Aku melompat dan keluar. Tangga besi itu masih lembap, dan angin bertiup langsung ke wajahku, terasa asin. Saat itu tengah subuh. Di kejauhan, cakrawala hanya berupa garis buram yang tidak jelas. Laut tetap gelap, tenang, dan dalam.
Di tengah hamparan angin dan ombak yang luas ini, terdengar suara ayam jantan berkokok. Tidak keras, tetapi sangat jelas. Suara itu membuat tempat ini terasa familiar. Bukan lagi sebuah titik di tengah samudra yang berjarak ratusan mil laut dari daratan, tetapi sesuatu yang sangat dekat, sangat familiar, hadir di sana. Suara yang kecil, tetapi cukup untuk mengisi kekosongan yang sangat luas di sekitarnya.
Aku terdiam sejenak, tak melakukan apa pun, hanya mendengarkan. Sulit untuk menggambarkan perasaan saat itu. Belum pernah sebelumnya kokok ayam jantan membuatku begitu tersentuh. Di daratan, itu sangat biasa, terkadang bahkan tidak ada yang memperhatikannya. Tapi di sini, itu membuatmu merasa sedih, tiba-tiba nostalgia. Nostalgia akan pagi-pagi buta di kampung halaman.
Saat saya meninggalkan ruangan, saya mendengar suara kokok ayam dan memperhatikan bahwa ayam-ayam itu dipelihara oleh para prajurit di bagian bawah bangunan tambahan—yang terhubung ke bangunan utama oleh jembatan besi. Bangunan tambahan itu masih dihuni. Ada kebun sayur di atap, dan kandang untuk memelihara babi dan ayam terletak di bawahnya.
Dari sanalah, setiap pagi, suara ayam jantan berkokok menyebar terbawa angin, menembus kerangka baja, menyentuh setiap orang, seolah membawa sebagian dari irama kehidupan di daratan di tengah samudra yang luas. Di sana, setiap pagi setelah bangun tidur, di tengah ombak yang tak terbatas, para perwira dan prajurit di anjungan lepas pantai masih dapat mendengar suara-suara yang sangat familiar, sangat biasa dari tanah air mereka.
Perjalanan bisnis akhirnya berakhir, dan saya kembali ke daratan, kembali ke rutinitas normal saya. Suara mobil, orang-orang… semuanya ada di sana. Tetapi anehnya, terkadang di tengah semua kebisingan itu, saya teringat suatu pagi di masa lalu. Suatu pagi di laut—di mana saya mendengar seekor ayam jantan berkokok. Kokok yang sangat biasa, namun tetap terpatri dalam ingatan saya selamanya.
Teks dan foto: Van Dinh
Sumber: https://baohaiquanvietnam.vn/tin-uc/tieng-ga-gay-giua-trung-khoi











Komentar (0)