Api telah padam. Bara api di dekat perapian masih tersisa, cahaya redup dari arang yang terbakar membawa aroma asap kayu yang aneh dan harum. Aroma yang familiar itu ada di sini, di sekelilingnya, namun membangkitkan kerinduan yang mendalam di dalam dirinya. Asap kayu yang sama, bersama dengan suara gemerincing alat tenun, yang telah meninabobokannya melewati masa kecil yang jauh. Ibunya duduk di dekat alat tenun, tangannya dengan cepat menggerakkan alat tenun, sesekali berhenti untuk mengayunkan buaian bagi bayi yang sedang tidur. Di dalam buaian tenun itu, anak itu tumbuh besar ditenangkan oleh alat tenun ibunya dan cangkul ayahnya. Itu saja sudah cukup untuk menanamkan dalam diri anak itu rasa bangga menjadi manusia. Kebanggaan dan kepercayaan diri dalam pekerjaan apa pun di dunia yang melibatkan mencari nafkah dengan tangan sendiri. Semakin dia memikirkannya, semakin kesedihan yang mendalam dan tak terucapkan membuncah di hatinya. Hingga cahaya di sekitarnya memudar sepenuhnya.
Saat fajar, tanaman dan rumput di kebun masih berwarna gelap dan sayu. Di ujung desa, beberapa ayam jantan berkokok pelan. Tuan Them duduk, dan seperti biasa, mengambil cangkulnya dan pergi ke kebun.
Saat fajar, kabut tipis menyelimuti taman. Tiba-tiba, ia mendengar nyanyian aneh seekor burung di luar, melodinya yang jernih dan bernada tinggi seolah mencapai awan, namun begitu lembut hingga menenangkan. Ia menegakkan tubuhnya dan dengan hati-hati melangkah keluar. Di dahan pohon crape myrtle, seekor burung biru kecil berkicau dan terbang dari dahan ke dahan, sesekali berhenti untuk menjulurkan lehernya dan bernyanyi. Hatinya berdebar gembira atas penemuan ini. Burung itu bertengger di dahan pohon crape myrtle, satu-satunya pohon crape myrtle yang tersisa di tanahnya. Ia berpikir burung itu bernyanyi untuknya, seolah-olah burung itu tahu akan penderitaannya, seperti seorang teman lama yang mengunjunginya. Pikiran ini mengangkat semangatnya. Ia mendongak untuk mengagumi burung yang berkicau dan terbang dari dahan ke dahan, sesekali berhenti untuk melihat sekeliling.
"Uh... uh... Bernyanyilah lagi, burung kecil! Aku mendengarkan!" katanya, janggutnya yang seperti benang bergetar karena kicauan merdu burung itu.
Ayam jantan berkokok, menandai datangnya fajar. Ia berjalan-jalan di sekitar taman, yang akan segera diserahkan kepada pemilik baru, tangannya membelai setiap batang pohon yang berkerut, menepuknya dengan lembut. Air mata menggenang di matanya; ia merasa bersalah terhadap setiap pohon, seperti seorang ayah yang berada dalam kesulitan dan terpaksa menjual anak-anaknya yang masih kecil. Setiap sudut taman dipenuhi kenangan akan leluhurnya dan mendiang istrinya. Apa pun yang terjadi, di bawah pemilik baru, taman itu akan tetap hidup seperti saat ia masih ada! Ia menenangkan dirinya dengan pikiran bahwa suatu hari nanti pohon-pohon itu akan tumbuh tinggi, menaungi sisa lahan, memberinya perlindungan, dan bahwa ia akan duduk di ambang pintu setiap hari, memandanginya, mendengarkan desiran angin dan kawanan burung raja udang yang kembali pada musimnya.
Ia percaya bahwa tanah juga memiliki jiwa, dan jiwa tanah itu akan tetap di sana untuk menemaninya. Ia percaya bahwa setelah kejatuhannya yang menyakitkan, putranya akan membangun kembali dari awal di sebidang tanah kecil yang telah ia rawat dengan susah payah. Hai akan menanam beberapa pohon nangka dan mangga lagi, menggali sumur lain, dan membangun rumah baru yang luas. Cucu-cucunya akan datang ke sini untuk berbaring dan berayun di ayunan rami yang telah ia pasang di sana, mendengarkan taman yang membisikkan cerita—cerita yang telah ia hafal di luar kepala selama beberapa generasi, cerita yang telah ia ceritakan kepada cucu-cucunya. Keturunannya akan mengerti bahwa di sinilah kakek-nenek mereka pernah tinggal, membangun kehidupan bersama, dan menemukan kebahagiaan, tempat mereka melahirkan banyak anak, yang telah tumbuh dewasa, pergi jauh, dan menghadapi kesulitan, tetapi selalu memiliki taman untuk kembali. Cucu-cucunya akan berlari dan bermain di taman, mendengarkan kicauan burung. Anak-anak akan tumbuh dewasa, belajar dengan tekun, dan… siapa tahu, mungkin suatu hari nanti mereka akan menghancurkan hambatan-hambatan ini sehingga sebidang tanah ini dapat kembali menjadi taman yang asri seperti keadaan aslinya.
Pagi-pagi sekali, sebelum cahaya fajar menyinari taman, burung biru itu berputar-putar dan hinggap di cabang pohon crape myrtle, nyanyiannya yang jernih dan merdu membangunkan seluruh taman. Thêm Tua berbaring di sana, matanya terpejam seolah dalam tidur yang damai, tidur yang bebas dari kekhawatiran dan kecemasan. Kerutan di wajahnya masih ada, tetapi sekarang tampak tenang, seolah-olah ia baru saja selesai membajak ladang. Di cabang pohon crape myrtle, burung biru itu berkicau dan terbang dari cabang ke cabang, sesekali berhenti untuk mendengarkan sebelum menengadahkan kepalanya dan melantunkan nyanyian yang mempesona ke langit. Nyanyiannya seperti pesan tulus Thêm Tua kepada cucu-cucunya, kepada kehidupan dan pohon-pohon tercinta di sepetak tanah terakhir yang tersisa ini.
Angin sepoi-sepoi bertiup, membawa napas bumi dan langit ke dalam hati Thêm tua seperti sebuah perpisahan. Di bawah sinar matahari pagi yang murni, di tengah kicauan burung dan aroma harum bumi, Thêm tua tertidur dengan tenang…
Cerpen karya Vu Ngoc Giao
Sumber: https://baocantho.com.vn/tieng-hot-cua-con-chim-xanh-a205335.html












Komentar (0)