Kenangan yang familiar
Membaca "The Song of Return," setiap pembaca seperti membalik lapisan-lapisan kenangan, setiap alam kerinduan. Di seluruh kumpulan puisi terdapat citra-citra yang terkait dengan nama Binh Nguyen Trang, seperti bulan Maret, bunga kapuk, gerimis, perahu, dan sungai... Citra-citra ini bukanlah hal baru, bahkan telah menjadi "aset bersama" puisi, tetapi di bawah pena Binh Nguyen Trang, citra-citra tersebut memperoleh vitalitas yang unik, ritme yang lembut, tulus, namun menghantui.
Ruang puitisnya adalah ruang Delta Utara, tempat terdapat dermaga feri yang tenang, sungai-sungai yang berkelok-kelok mengalir melalui musim-musim kenangan yang tak terhitung jumlahnya, dan tempat bunga kapuk mekar merah setiap bulan Maret sebagai pertanda waktu.
Di sana, pemandangan bukan sekadar pemandangan, tetapi telah menjadi bagian dari jiwa, dari nostalgia: "Mungkin ini kisah panjang/Menghantuiku dengan gerimis hujan dan bunga padi/Dan dermaga feri berusia seribu tahun tak pernah pudar warnanya/Sehingga bahkan posturnya pun kuno dan tertutup lumut" (Setiap Maret Datang). Atau seperti: "Bulan Maret tak pernah sesedih ini/Ketika di hari hujan kau membawaku menyeberangi sungai/Bunga-bunga begitu pucat di sore hari di dermaga kenangan/Merah diam-diam, menyesali selembar puisi" (Untuk adikku, Maret).
Bait-bait puisi itu bagaikan desahan yang sangat lembut. "Gerimis," "bunga padi," "dermaga feri"—semuanya tampak diselimuti kabut nostalgia, membuat pembaca merasakan ketidakpastian waktu, kerapuhan ingatan. Itu adalah ingatan yang tidak dapat disebutkan dengan jelas, tetapi selalu hadir, selalu terulang dalam pikiran.
Poros emosional - ibu
Salah satu daya tarik utama dari kumpulan puisi ini adalah citra ibu – sebuah citra yang berulang, abadi, dan menghantui. Ibu dalam puisi Binh Nguyen Trang bukanlah citra yang diidealkan, melainkan seorang ibu yang sangat nyata dan membumi: pekerja keras, lelah, dan berjuang, namun tetap penuh kasih sayang dan hangat.
Ibu dikaitkan dengan bulan Maret – bulan bunga kapuk, masa-masa sulit, kemiskinan, dan penderitaan yang tak terkatakan: “Tahun itu ibuku melahirkanku di musim kelaparan / Maret, masa-masa sulit, bunga kapuk berjatuhan ke dalam lubang kapur / Ayah pergi, dinginnya musim Ban yang menusuk tulang / Ibu bermandikan keringat, aku menangis saat lahir” (Kesedihan Bulan Maret).
Dan inilah dia: “Hatiku merindukan pedesaan yang ramai/Wajah ibuku bagaikan ladang yang diterpa badai/Butir padi yang montok meninggalkan tanah air, butir padi yang kosong tetap berada di sarang/Dengan jerami emas hangat dari tangan ibuku yang memberikan perlindungan” (Mengenang Ibu di Sore Hari yang Hujan).
Di sini, puisi bukan lagi sekadar hiasan linguistik tetapi menjadi potongan kehidupan. Detail yang sangat spesifik: "kelaparan," "bunga padi yang jatuh ke dalam lubang kapur," "dinginnya Lady Ban," "keringat"... telah menciptakan ruang yang keras dan realistis. Di dalam ruang itu, penampilan sang ibu bukan hanya sebuah citra tetapi sebuah simbol, simbol pengorbanan dan cinta tanpa syarat.
Dapat dikatakan bahwa ibu adalah "poros emosional" dari kumpulan puisi ini. Dalam setiap puisi, baik secara langsung maupun tidak langsung, citra ibu hadir secara halus, berfungsi sebagai jangkar spiritual bagi penyair untuk kembali. Dan mungkin, "hari kepulangan" dalam judul kumpulan puisi ini bukan hanya kepulangan ke tanah air, tetapi juga kepulangan kepada ibu, kepada akar terdalam setiap manusia.
Seperti yang disebutkan di atas, kumpulan puisi ini berisi banyak puisi yang ditulis oleh penulis selama masa sekolahnya, sehingga musim panas, musim ujian, dan perpisahan sering muncul. Mungkin, tahun-tahun polos di bawah atap sekolah itu memberi penyair banyak bahan untuk menulis bait-bait yang telah menyentuh hati banyak orang, terutama para pecinta puisi generasi 70-an dan 80-an seperti saya: “Kau tidak hanya mendengar harmoni yang menakjubkan / Musim ujian lain menunggu di ambang pintu / Matamu merah dan bibirmu merah di musim panas / Dadamu penuh dengan mimpi-mimpi cemerlang” (Untuk Musim Ujian).
Bisa juga: “Gerbang sekolah telah tertutup di belakangku / Aku berjalan di jalanan dengan mantel dan sepatuku / Dan kini bahkan puisi itu terasa aneh / Kakiku terasa asing di cahaya pagi” (Renungan di Hari Kelulusan).
Yang berharga dalam puisi Binh Nguyen Trang adalah ketulusannya. Ia tidak mencoba menciptakan kembali dirinya dengan inovasi formal yang berlebihan, tetapi tetap setia pada gaya lirisnya yang lembut dan kaya emosi. Kesederhanaan inilah yang menciptakan kekuatannya. Karena pada akhirnya, puisi bukanlah tentang memamerkan teknik, tetapi tentang menyentuh hati.
Sang penyair pernah mengaku: "Banyak citra dan gagasan puitis yang familiar di zaman saya telah menjadi asing bagi pembaca muda saat ini." Ini benar, dalam konteks kehidupan modern yang berubah dengan cepat, di mana "dermaga feri," "gerimis," dan "bunga padi" tidak lagi hadir dalam pengalaman sehari-hari banyak orang.
Namun justru karena alasan inilah, puisi Binh Nguyen Trang menjadi semakin penting, seperti jembatan yang menghubungkan pembaca kembali pada nilai-nilai yang pernah sangat dekat, yang pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan spiritual mereka.
"The Song of Homecoming" bukan hanya kumpulan puisi, tetapi sebuah perjalanan. Perjalanan ini membawa pembaca melalui alam kenangan, melalui tahun-tahun yang telah berlalu, hingga menyadari bahwa: Jauh di dalam diri setiap orang, selalu ada "hari hijau," masa muda, tempat cinta, tempat untuk kembali.
Saat kumpulan puisi ini berakhir, kesan yang tertinggal bukanlah kata-kata spesifik itu sendiri, melainkan perasaan hangat, lembut, namun menyentuh. Ini adalah perasaan seseorang yang kembali ke rumah setelah perjalanan panjang, berdiri di depan rumah lamanya, mengamati jejak waktu, dan tiba-tiba menyadari: tak peduli berapa banyak waktu berlalu, kenangan ini tak akan pernah pudar.
Dan "The Song of Homecoming," dengan caranya yang unik, telah menjadi lagu kebangsaan kaum muda – sebuah lagu yang membawa kita kembali pada cinta, tanah air, akar kita, dan yang terpenting, kembali pada jati diri terdalam dalam jiwa kita.
Sumber: https://giaoducthoidai.vn/tu-trang-sach-khuc-ca-cua-ngay-xanh-post778008.html











Komentar (0)