Menetap di negeri baru
Di dusun Tam Lap, komune Phu Giao, kehidupan masyarakat San Chay mengalami transformasi dramatis. Sejak meninggalkan tanah kelahiran mereka di Thai Nguyen pada tahun 1990-an untuk menetap di sana, masyarakat San Chay, dengan ketekunan dan kerja keras mereka, secara bertahap mengalami kemajuan. Saat ini, dusun Tam Lap memiliki lebih dari 48 rumah tangga, yang sebagian besar bergerak di bidang pertanian , membudidayakan karet dan tanaman lainnya. Akibatnya, pendapatan mereka stabil, standar hidup mereka meningkat, dan mereka menikmati kehidupan yang lebih makmur.

Seiring dengan perkembangan ekonomi, terjadi pula perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun rumah panggung dulunya merupakan pemandangan yang umum di kalangan masyarakat San Chay, kini sebagian besar telah digantikan oleh rumah-rumah modern yang kokoh. Namun, perubahan ini juga membawa serta kekhawatiran akan pelestarian identitas budaya etnis mereka dalam konteks integrasi dan modernisasi. Bapak La Van Su, seorang tokoh yang dihormati di komunitas tersebut, berbagi bahwa tiga dekade terakhir merupakan perjalanan penuh perjuangan bagi masyarakat San Chay. Dari masa-masa sulit dan kekurangan, kehidupan mereka telah meningkat secara signifikan; anak-anak mereka mendapatkan pendidikan, dan banyak rumah tangga menjadi relatif sejahtera.
“Namun, yang paling mengkhawatirkan kami adalah generasi muda secara bertahap menjauh dari bahasa, pakaian, lagu rakyat, dan adat istiadat tradisional. Jika kita tidak melestarikannya, identitas kita akan perlahan-lahan memudar,” renung Bapak La Van Su.
Suku San Chay juga dikenal dengan nama-nama seperti Cao Lan dan San Chi. Mereka memiliki dua kelompok bahasa utama: kelompok Cao Lan (dekat dengan bahasa Tay dan Nung) dan kelompok San Chi (dekat dengan dialek Han). Ketika mereka datang ke daerah Tam Lap, mereka tidak hanya membawa aspirasi untuk mencari nafkah tetapi juga warisan budaya yang kaya, mulai dari kepercayaan dan adat istiadat hingga seni rakyat.
Melestarikan jiwa budaya San Chay
Saat ini, pelestarian warisan budaya tradisional masyarakat San Chay menghadapi banyak kesulitan. Misalnya, pakaian tradisional wanita, dengan rok nila, gaun panjang, dan selempang sutra warna-warni; dan pakaian tradisional pria, dengan sorban, kemeja nila, dan celana longgar, yang menciptakan tampilan khas, tidak lagi sesuai dengan kondisi kerja mereka, terutama penyadapan karet atau pertanian di cuaca panas. Oleh karena itu, pakaian modern secara bertahap menggantikannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pelestarian budaya tradisional menjadi semakin menantang.
Pada kenyataannya, melestarikan budaya tradisional masyarakat San Chay dalam konteks saat ini bukanlah hal yang mudah. Pertukaran budaya, gaya hidup yang serba cepat, dan kebutuhan untuk mencari nafkah menyebabkan banyak nilai-nilai tradisional masyarakat berisiko terlupakan. Namun, dengan tekad kuat untuk melestarikan akar budaya mereka, masyarakat San Chay di Tam Lap terus melestarikan setiap aspek budaya mereka, mulai dari bahasa dan pakaian hingga festival dan seni rakyat.
Menghadapi risiko erosi budaya, para tetua komunitas San Chay telah secara proaktif melestarikan dan mewariskan budaya mereka kepada generasi berikutnya. Salah satu upaya yang patut diperhatikan adalah pengumpulan dan pelestarian alat musik tradisional termasuk terompet, gendang, dan gong – suara yang sangat penting dalam festival, hari raya, dan pernikahan. Sebuah pertunjukan membutuhkan tujuh orang, dengan terompet memainkan peran terpenting, karena sulit dimainkan dan bertanggung jawab untuk mengatur ritme. Bersama dengan alat musik, lagu-lagu rakyat "sinh ca", bentuk nyanyian rayuan khas masyarakat San Chay, juga dihidupkan kembali. Lagu-lagu sederhana namun mendalam ini mengungkapkan cinta terhadap tanah air, perasaan romantis, dan kehidupan kerja komunitas, yang dulunya berfungsi sebagai ikatan antar anggota komunitas. Saat ini, "sinh ca" tidak hanya ditampilkan di festival tetapi juga diajarkan oleh para tetua kepada generasi muda selama pertemuan komunitas. Bapak La Van Anh, seorang perwakilan pemuda komunitas, berbagi: "Generasi muda selalu bangga dengan akar budaya mereka." Kami bercita-cita untuk belajar nyanyian rakyat, menjelajahi pakaian tradisional, dan berpartisipasi dalam festival etnis. Namun, kita membutuhkan lebih banyak kesempatan dan bimbingan dari para tetua.
Tersembunyi di antara rumah-rumah di hutan karet hijau yang rimbun, suara terompet dan lagu-lagu rakyat tradisional masih bergema setiap musim semi. Ini bukan hanya suara sebuah festival, tetapi juga bukti vitalitas abadi sebuah komunitas yang selalu menengok kembali ke akar budayanya.
Sumber: https://www.sggp.org.vn/van-hoa-san-chay-giua-vung-phu-giao-post845199.html











Komentar (0)