
"Daun Pertama" adalah salah satu puisi paling terkenal karya penyair Hoang Nhuan Cam, yang ditulis tentang masa sekolah.
Dan saat bulan Mei mendekat, puisi Hoang Nhuan Cam "Daun Pertama" menggema dengan nostalgia yang mengharukan di hati banyak generasi siswa. Dapat dikatakan bahwa "Daun Pertama" adalah salah satu puisi paling terkenal karya penyair Hoang Nhuan Cam tentang masa sekolah. Puisi ini telah menjadi bagian dari kenangan masa muda, disalin ke dalam buku catatan oleh banyak generasi siswa yang lahir di tahun 70-an, 80-an, dan 90-an.
Penyair Hoang Nhuan Cam pernah berbagi: “‘Daun Pertama’ adalah puisi yang saya tulis selama lebih dari 10 tahun, melalui berbagai tonggak kehidupan saya. Puisi ini awalnya berjudul ‘Selamat Tinggal, Sekolah.’ Bait pertama ditulis dengan sangat cepat, hampir seperti transkripsi emosi intens yang mengalir. Setelah kembali dari perang, ia melanjutkan menulis bait-bait yang belum selesai. Bait terakhir puisi itu ditulis setelah 30 April 1975, ketika negara bersatu, dan ketika penyair Hoang Nhuan Cam kembali ke Fakultas Sastra Universitas untuk melanjutkan kehidupan mahasiswanya.”
Sejak baris-baris pembuka, penyair membawa pembaca dalam perjalanan kembali ke masa lalu, ke masa mimpi-mimpi yang polos dan murni: “Tidakkah kau lihat, semuanya telah lenyap sekarang / Dalam hembusan lembut waktu / Masa kanak-kanak berlalu dengan begitu bangga / Bunga lili air ungu di mata yang dipenuhi pesona.” Frasa “lenyap sekarang” larut dalam “hembusan lembut waktu,” namun meninggalkan perasaan yang abadi dan membekas di hati. Masa kanak-kanak berlalu “dengan begitu bangga”—ungkapan riang masa muda yang dipadukan dengan wawasan mendalam seorang dewasa yang menengok ke masa lalu.
Dari relung terdalam ingatan, kenangan masa sekolah muncul melalui "tanda-tanda," gejolak halus di hati: "Sekumpulan bunga flamboyan yang tercinta itu terlepas dari tanganku / Suara jangkrik yang jernih membelah danau menjadi dua / Jangkrik yang acuh tak acuh meramalkan / Mungkin seseorang mulai jatuh cinta." Beberapa orang berpendapat bahwa penyair Hoang Nhuan Cam adalah salah satu penulis terbaik, yang memiliki persepsi paling halus tentang suara jangkrik yang terkait dengan masa sekolah. Membaca bait di atas, pembaca merasakan pergerakan suara jangkrik melalui lapisan ingatan dan emosi sebelum meledak menjadi bahasa puitis, citra, dan ritme. Suara jangkrik mengungkapkan gejolak tersembunyi di hati, cinta murni dan polos di masa sekolah. Ia tidak disebutkan secara jelas, hanya "mungkin," baru mulai mekar seperti daun muda di awal musim. Tetapi justru ambiguitas inilah yang menjadikannya hal terindah dalam ingatan setiap orang.
Emosi puitis menjadi semakin intens menjelang akhir, seperti aliran kenangan yang tak terkendali: “Aku ingin mengatakan banyak hal, aku ingin menangis banyak hal / Lagu pertama yang ku nyanyikan adalah tentang sekolah lamaku / Sebuah ruang kelas dengan nuansa hijau yang sendu / Halaman sekolah di malam hari - buah beringin berguguran di malam hari.” Penyair Hoang Nhuan Cam membangkitkan “ruang kelas dengan nuansa hijau yang sendu” dengan semua kelembutan kenangan.
Secara khusus, gambaran "halaman sekolah di malam hari - buah beringin yang jatuh di malam hari" adalah detail yang mencolok dan membangkitkan emosi. Suara buah beringin yang jatuh di larut malam terdengar seperti waktu yang dengan lembut menyentuh hati, membangkitkan perasaan kesepian dan penyesalan yang tak berujung. Ruang sunyi itu semakin menyoroti kesedihan kehidupan sekolah saat seseorang berdiri di ambang kedewasaan. Oleh karena itu, bait ini bukan hanya perpisahan dengan sekolah, tetapi juga desahan untuk berakhirnya periode terindah dalam hidup – periode yang, setiap kali diingat, membangkitkan perasaan nostalgia dan kerinduan: "Kenangan pertamaku adalah tentangmu / Hatiku mengingat ibuku / Sebuah kenangan yang tak akan pernah kulupakan / Apakah kau ingat sekolah, ruang kelas, namaku?"
Sebuah pertanyaan yang telah menggugah hati generasi-generasi siswa. Ada mereka yang pernah saling mengenal, begitu dekat, tetapi waktu secara bertahap telah membuat mereka semua memudar, hanya menyisakan kenangan, yang diam-diam terasa sakit di hati. Sang penyair menyadari bahwa masa sekolah benar-benar telah berakhir: “Masa kepang putih yang tidur nyenyak telah berakhir / Masa mengukir hal-hal tak berarti di meja dan kursi tua dengan pisau telah berakhir / Buahnya manis di cabang pepaya / Bunga-bunga telah menguning, oh bunga labuku.” “Sudah berakhir” – sebuah perpisahan yang sederhana namun menyentuh. Para siswa masa lalu telah tumbuh dewasa, buah telah matang, bunga telah menguning, dan tahun-tahun tanpa beban itu tidak akan pernah kembali.
Puisi ini diakhiri dengan salah satu baris terindah dalam puisi sekolah Vietnam: “Aku mencintaimu, tetapi kau telah pergi / Pohon beringin tempat kita bertemu terus melambaikan rantingnya / Aku sangat merindukanmu, tetapi aku hanya khawatir jika aku berbalik / aku tidak akan melihat daun pertama di halaman sekolah.” Pada saat ini, pohon beringin berdiri sebagai saksi bisu, dan “daun pertama” telah menjadi simbol masa muda, gejolak cinta pertama, momen paling murni yang hanya terjadi sekali seumur hidup. Sang penyair takut jika ia berbalik, ia tidak akan lagi melihatnya, sama seperti orang selalu takut bahwa waktu akan menyapu hal-hal terindah di hati mereka.
Bait-bait "Daun Pertama" terukir di hati generasi siswa bukan hanya karena bahasanya yang indah dan citranya, tetapi juga karena setiap barisnya menyentuh relung terdalam ingatan mereka. Siapa pun yang pernah mengalami masa sekolah, yang pernah mencintai, merindukan, atau berpisah... dapat melihat diri mereka sendiri dalam puisi itu. Dan setelah membacanya, seseorang tiba-tiba ingin kembali ke halaman sekolah, mendengarkan suara jangkrik di masa lalu, dan menemukan "daun pertama" mereka sendiri.
Teks dan foto: Hoang Linh
Sumber: https://baothanhhoa.vn/van-tho-in-dam-tren-trang-luu-but-hoc-tro-288654.htm











Komentar (0)