Dalam bukunya *The Secret History of Gold: Myths, Currency, Politics , and Power* , Dominic Frisby—seorang penulis dan komentator keuangan Inggris, dan kontributor lama kolom emas untuk MoneyWeek—menyebut emas sebagai "saksi bisu" sejarah manusia.
Menurutnya, dari peperangan dan perdagangan hingga mata uang, logam ini hampir selalu muncul pada titik balik penting dalam peradaban. Dari makam firaun Mesir dan penaklukan kolonial hingga sistem perbankan sentral modern, emas secara konsisten dikaitkan dengan konsep kekayaan dan kekuasaan. Ia berpendapat bahwa justru kemampuannya untuk mempertahankan nilai dari waktu ke waktu itulah yang membuat orang terus mengumpulkan dan mengejar logam ini.
![]() |
Buku "Sejarah Rahasia Emas: Mitos, Mata Uang, Politik, dan Kekuasaan. " Foto: OP |
Mengapa emas selalu menjadi ukuran kekayaan sepanjang sejarah?
Sejak bab pembuka, " Logam Abadi ," Dominic Frisby menjelaskan mengapa emas berbeda dari banyak logam lainnya. Tidak seperti besi yang berkarat, perak, atau kayu yang membusuk seiring waktu, emas tetap hampir tidak berubah. Emas Viking yang terkubur di bawah tanah selama 1.500 tahun, atau perhiasan yang ditemukan di pemakaman Varna di Bulgaria setelah 6.700 tahun, masih hampir dalam keadaan aslinya.
Penulis buku tersebut menyebut emas sebagai "hal yang paling mendekati keabadian yang kita miliki di bumi ini." Orang Mesir memandang emas sebagai tubuh para dewa; mitologi Yunani mengaitkan emas dengan keabadian; dan banyak peradaban Amerika Selatan menganggap emas sebagai penghubung antara umat manusia dan alam semesta.
Menurut Dominic Frisby, tujuan terbesar emas adalah untuk mempertahankan nilainya dan menunjukkan kemakmuran. Selama berabad-abad, emas telah menjadi fondasi sistem moneter. Meskipun dunia telah lama meninggalkan standar emas, negara dan individu terus menyimpan emas sebagai tempat aman untuk kekayaan. AS masih menyimpan sebagian besar cadangan devisanya dalam bentuk emas (8.133 ton, peringkat pertama di dunia), sementara Tiongkok adalah produsen dan importir emas terbesar di dunia.
Buku The Secret History of Gold: Myth, Currency, Politics, and Power banyak membahas tentang daya beli emas yang abadi. Frisby mengutip banyak perbandingan historis: satu ons emas pernah membeli 350 roti di Babilonia kuno dan saat ini masih dapat membeli lebih dari 1.000 roti; satu dinar emas dari Al-Quran pernah membeli satu ekor domba, sedangkan saat ini dapat membeli tiga ekor domba.
Perdebatan seputar emas dalam buku ini juga disandingkan dengan banyak sudut pandang yang bertentangan. Warren Buffett pernah dengan sinis berkomentar bahwa emas adalah sesuatu yang digali lalu dikubur kembali, sementara ekonom John Maynard Keynes menyebut standar emas sebagai "peninggalan barbarisme." Di samping itu, terdapat pandangan George Bernard Shaw dan Herbert Hoover tentang peran emas dalam mengamankan kepercayaan terhadap mata uang dan masyarakat.
Selain itu, buku ini menjalin kisah tentang perdagangan, perang, krisis keuangan, dan perubahan dalam sistem moneter untuk menunjukkan bahwa emas selalu hadir dalam pergolakan sejarah besar.
![]() |
Emas masih memegang tempat istimewa dalam kehidupan modern. Foto: Mint. |
Sisi gelap di balik dahaga umat manusia akan emas.
Dalam *Sejarah Rahasia Emas: Mitos, Mata Uang, Politik, dan Kekuasaan* , emas tampak lebih dari sekadar mata uang. Menurut Dominic Frisby, emas mendorong eksplorasi, perdagangan, dan pembentukan peradaban baru, tetapi juga menyebabkan perang, penjarahan, dan ambisi manusia. Ia menulis bahwa emas memungkinkan manusia untuk melakukan "hal-hal yang paling brilian, paling berani, paling kreatif… dan juga yang paling mengerikan."
Daya tarik emas pernah memikat orang-orang menyeberangi lautan, ke negeri-negeri yang belum dikenal, dan memicu demam emas sepanjang sejarah. Tetapi emas juga membawa perbudakan, perang, penipuan, dan kehancuran. Menggambarkan tambang emas Mesir kuno, sejarawan Diodorus Siculus menulis bahwa para pekerja dipaksa untuk bekerja "sampai mati, dalam keadaan kelelahan akibat kerja keras."
Buku ini juga membahas bagaimana emas menjadi kekuatan pendorong di balik banyak penaklukan bersejarah. Dari Amerika Selatan hingga Afrika, pencarian emas menyebabkan invasi, eksploitasi kolonial, dan konflik yang berlangsung selama berabad-abad. Menurut Frisby, perburuan emas ini juga mencerminkan keserakahan dan kekerasan umat manusia.
Dominic Frisby berpendapat bahwa emas tidak hanya mendominasi ekonomi tetapi juga sangat memengaruhi psikologi manusia. "Dengan emas, emosi, bukan akal, adalah yang mendorongnya," tulisnya, merujuk pada spekulasi dan daya tarik yang telah diciptakan logam ini selama berabad-abad.
Dalam kehidupan manusia, emas telah lama menjadi lebih dari sekadar komoditas atau alat investasi; emas juga telah menjadi bentuk tabungan, hadiah pernikahan, dan sumber keamanan terhadap keadaan yang tak terduga.
Setelah ribuan tahun sejarah, emas tetap hadir di brankas bank sentral, selama krisis keuangan, dan dalam mentalitas menimbun orang. Bagi Dominic Frisby, itulah mengapa emas masih memiliki tempat khusus dalam kehidupan modern.
Sumber: https://znews.vn/vi-sao-con-nguoi-chua-bao-gio-ngung-khat-vang-post1653757.html













Komentar (0)