Kekuatan terbesar Norwegia terletak pada kualitas pemainnya. Ini dianggap sebagai generasi pemain sepak bola terbaik yang dimiliki negara itu dalam beberapa dekade terakhir.

Di jantung tim terdapat Haaland, seorang striker yang secara konsisten mempertahankan rekor pencetak gol terbanyak di Eropa. Di sampingnya ada Odegaard, seorang playmaker modern dengan kemampuan untuk mengatur dan mengontrol tempo permainan.

Di lini depan ada Alexander Sorloth, seorang striker yang fisik dan kemampuan udaranya sangat cocok dengan gaya permainan langsung sepak bola Nordik.

Tim nasional Norwegia kembali ke Piala Dunia untuk pertama kalinya pada tahun 1998. Foto: Reuters

Yang lebih penting, Norwegia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada beberapa individu seperti sebelumnya. Mereka mulai membentuk tim yang relatif seimbang di ketiga lini. Banyak pemain saat ini bermain di Liga Primer Inggris, Bundesliga, atau La Liga, seperti Antonio Nusa, Oscar Bobb, Sander Berge, Kristoffer Ajer, dan Julian Ryerson. Pengalaman bermain di liga-liga top Eropa telah secara signifikan meningkatkan kecepatan tim, kemampuan tekel, dan transisi antara fase menyerang dan bertahan.

Pengaruh terbesar datang dari pelatih Ståle Solbakken. Pelatih berusia 57 tahun itu tidak mencoba mengubah Norwegia menjadi versi Spanyol atau Inggris. Ia memilih pendekatan yang lebih pragmatis. Tim memprioritaskan tekanan di area tengah lapangan, mempertahankan formasi yang rapat, dan melancarkan serangan balik cepat segera setelah merebut kembali penguasaan bola.

Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) pernah menilai Norwegia sebagai tim yang sangat berbahaya dalam transisi kecepatan tinggi. Odegaard berperan sebagai penghubung di lini tengah. Haaland memanfaatkan ruang di belakang pertahanan lawan. Sorloth menciptakan tekanan di area penalti dengan kekuatan dan kemampuan udaranya. Gaya permainan ini menjadikan Norwegia lawan yang sulit bagi banyak tim kuat.

Namun, tim Nordik masih memiliki beberapa keterbatasan. Mereka belum memberikan dampak signifikan di turnamen resmi dalam beberapa tahun terakhir dan masih kurang pengalaman di Piala Dunia. Pertahanan mereka juga menjadi perhatian para ahli ketika menghadapi tim dengan penguasaan bola yang kuat. Jika Haaland dinetralisir atau Odegaard kehilangan ruang untuk bermain, sistem serangan Norwegia menjadi jauh kurang efektif.

Namun, Norwegia telah menunjukkan kematangan yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir. Mereka bermain imbang dengan Belanda di kualifikasi Piala Dunia 2022, mengalahkan Swedia di Liga Bangsa-Bangsa UEFA, dan tampil mengesankan dalam kampanye kualifikasi Piala Dunia 2026 dengan finis di puncak grup mereka di atas Italia. Hasil-hasil ini belum cukup untuk menjadikan Norwegia sebagai kandidat juara, tetapi menunjukkan bahwa tim ini tidak lagi bisa diremehkan.

Piala Dunia selalu menjadi panggung kejutan. Tim yang terorganisir dengan baik, memiliki beberapa individu yang mampu membuat perbedaan dan mempertahankan intensitas tinggi, tentu dapat melangkah lebih jauh dari yang diharapkan. Setelah bertahun-tahun menunggu, generasi Haaland dan Odegaard akhirnya membawa sepak bola Norwegia kembali ke panggung terbesar dunia . Dan di Piala Dunia 2026, tim Nordik berpotensi menjadi kuda hitam yang patut diperhatikan.

    Sumber: https://www.qdnd.vn/the-thao/worldcup-2026/world-cup-2026-the-he-vang-na-uy-1040307