
Terlahir dari keluarga petani, Anh Tuyet tumbuh sehat dan aktif. Namun, pada tahun 2021, ketika ia baru berusia 15 tahun, ia didiagnosis menderita limfoma Hodgkin dan harus dirawat di Institut Hematologi dan Transfusi Darah Nasional. Penyakit itu datang di saat masa mudanya baru saja mekar, yang menyebabkan semua impiannya untuk menuntut ilmu hancur.
Selama tahun pertama perawatan, Tuyet gigih menjalani setiap sesi kemoterapi berat. Ada hari-hari ketika infus membuatnya muntah terus-menerus, tubuhnya sangat lelah sehingga ia tidak bisa duduk. Ada malam-malam ketika anggota tubuhnya kaku, matanya terbuka tetapi ia tidak bisa lagi mengenali apa pun di sekitarnya. Saat itulah seluruh keluarga mengira mereka telah kehilangan anak mereka. "Saya terbangun setelah dua hari, semua orang bilang saat itu mereka pikir saya tidak akan selamat," kenang Tuyet.
Namun, setelah saat-saat yang paling rapuh, gadis kecil itu masih berusaha untuk duduk, belajar bernapas dengan teratur, bertahan, belajar untuk terus hidup dan belajar untuk menyembunyikan rasa sakitnya sehingga orang tuanya tidak terlalu khawatir.

Pada tahun 2023, setelah dua kali perawatan, kesehatannya stabil dan ia dirujuk untuk menjalani pemeriksaan rutin. Harapan kembali membanjir, dan seluruh keluarga percaya bahwa perjalanan sulit itu telah berakhir. Selama di rumah sakit, Tuyet berpartisipasi dalam kontes "For a Vietnam to Win" untuk anak-anak dengan penyakit serius. Melukis menjadi tempat perlindungan spiritualnya. Warna-warna cerah dalam lukisannya membantunya melupakan jarum suntik, infus, dan rasa sakit fisik. Lukisan-lukisan yang ia kirimkan kepada guru dan dokternya juga merupakan tanda terima kasih dari seorang gadis kecil yang sentimental.
Namun, pada tahun 2024, ketika ia menginjak usia 18 tahun dan hendak mengikuti ujian masuk universitas, penyakitnya kambuh. Hasil tes tersebut memaksa Tuyet untuk menjalani kemoterapi dan terapi radiasi lebih lanjut. Semua harapannya pupus tepat sebelum ujian yang sangat ia nanti-nantikan itu.
Bersamaan dengan rasa sakit Tuyet, ada kisah memilukan ibunya. Di panggung "Love Station", ibunya menceritakan hari-hari ketika "ibu dan anak perempuannya menghabiskan 21 hari di rumah sakit, dan kemudian kembali setelah lebih dari sepuluh hari". Pada malam-malam ketika Tuyet muntah tanpa henti, tangannya begitu lemah sehingga ia bahkan tidak bisa mengangkat segelas air, ibunya duduk di sampingnya, menggosok-gosok tangannya dan menyeka wajahnya. Ibunya bercerita: "Aku sangat mencintaimu, tapi aku tidak berani menangis. Aku hanya takut jika kau melihatnya, rasanya akan semakin sakit."
Bahkan di masa-masa tersulitnya, keluarganya masih menganggap putri mereka lebih kuat daripada siapa pun. Meskipun tubuhnya semakin kurus dan rambutnya rontok, Tuyet tetap meminta ibunya untuk membawakannya meja plastik kecil ke rumah sakit agar ia bisa belajar saat ia sembuh.

Kisah ini semakin menyentuh dengan kehadiran Guru yang tak terduga, Dokter Le Khanh Quynh dari Institut Hematologi dan Transfusi Darah Nasional, yang langsung merawat Tuyet. Dokter tersebut bercerita bahwa di Departemen Hematologi Anak, rumah sakit adalah "rumah kedua" dan setiap pasien anak adalah guru, membantu para dokter memahami lebih banyak tentang kegigihan. Tuyet adalah salah satu pasien yang sangat inspiratif karena ia selalu memiliki semangat positif dan tidak putus sekolah meskipun harus berjuang melawan kemoterapi.
Mendengar kata-kata Dr. Quynh, Tuyet tersentuh: "Saya berterima kasih kepada Anda karena selalu tersenyum ketika memasuki ruangan, membantu saya melupakan rasa lelah saya." Momen itu membuat seisi studio terharu.
Empat tahun sejak didiagnosis penyakit tersebut, Tuyet telah melewati masa-masa paling menakutkan dalam hidupnya. Namun, di masa-masa itulah ia menjadi lebih dewasa, tekun, dan menjalani hidup lebih bermakna. Meskipun gagal mengikuti ujian masuk universitas pada tahun 2024, Tuyet masih menyimpan mimpinya untuk kuliah. Saat ini, Tuyet sedang kuliah di Universitas Keuangan dan Administrasi Bisnis untuk membangun masa depan yang baru. "Saya akan berusaha belajar dengan baik, menjaga diri agar bisa kembali menjenguk dokter dan anak-anak yang sakit," ujar Tuyet.
"Love Station" dengan tema "Warrior Heart" bukan hanya sebuah perjalanan melawan kanker, tetapi juga menghormati kekuatan hati muda yang pantang menyerah. Kisah ini tentang keluarga, tentang para dokter dan perawat yang berdedikasi, dan tentang cinta yang menguatkan orang-orang untuk mengatasi tantangan.
Sumber: https://nhandan.vn/xuc-dong-voi-hanh-trinh-day-kien-cuong-cua-trai-tim-chien-binh-post926572.html






Komentar (0)