![]() |
CEO baru John Ternus bisa mengubah Apple secara signifikan. Foto: NY Times . |
Peralihan kekuasaan di Apple menandai titik balik penting dalam sejarah raksasa teknologi ini. Alih-alih memprioritaskan pembelian kembali saham, John Ternus mengarahkan dana ke pusat-pusat penelitian untuk mencari terobosan baru.
Strategi ini mencerminkan ambisi CEO baru untuk mendefinisikan kembali masa depan Apple. Para analis percaya bahwa di bawah kepemimpinan John Ternus, Apple akan memfokuskan seluruh upayanya pada kecerdasan buatan dan infrastruktur perangkat keras generasi berikutnya untuk membangun fondasi yang kokoh guna melindungi posisi terdepannya.
![]() |
Kampus Apple Park, California, AS. Foto: Sam Hall/Bloomberg . |
Strategi keuangan baru
Selama lebih dari satu dekade di bawah kepemimpinan Tim Cook, Apple telah menjadi "mesin penghasil uang," memaksimalkan keuntungan bagi para investor. Sejak tahun 2012, perusahaan telah menghabiskan lebih dari $1 triliun untuk pembelian kembali saham dan pembayaran dividen.
Namun, ketika John Ternus mengambil alih Apple, ia akan membawa angin segar. CEO berikutnya percaya bahwa Apple perlu mempertahankan lebih banyak sumber daya untuk menghadapi tantangan teknologi modern, alih-alih hanya menyenangkan investor.
Menurut analis Mark Gurman, arus kas Apple sedang dialihkan secara drastis. Alih-alih menggelontorkan puluhan miliar dolar setiap kuartal untuk menaikkan harga saham, Ternus memprioritaskan akuisisi perusahaan rintisan yang menjanjikan dan perluasan produksi internal.
![]() |
CEO baru Apple, John Tenus. Foto: Apple. |
Ini menandai kembalinya filosofi "berpusat pada produk" yang membuat Apple terkenal. Tim teknik perusahaan telah lama menantikan perubahan ini. Mereka membutuhkan anggaran besar untuk proyek-proyek eksperimental yang berani, mulai dari chip prosesor hingga material baru yang sebelumnya sering dipangkas untuk memaksimalkan keuntungan.
"Tujuannya bukan lagi untuk membayarkan semua uang kepada pemegang saham dengan segala cara, tetapi untuk memastikan Apple memiliki kekuatan finansial yang cukup agar tidak tertinggal dalam persaingan teknologi," analisis Gurman.
Dengan meninggalkan tujuan lamanya, Apple berhasil mengumpulkan cadangan sumber daya yang sangat besar, membuka jalan bagi langkah-langkah yang lebih berani. Hal ini memfasilitasi merger dan akuisisi (M&A) berskala besar.
Menurut para ahli, fokus pada reinvestasi juga membantu Apple memperkuat rantai pasokan mandirinya. Ternus berencana untuk berinvestasi besar-besaran dalam pengembangan komponennya sendiri, mengurangi ketergantungannya pada mitra pihak ketiga.
"Pergeseran ini mungkin menyebabkan investor jangka pendek khawatir tentang keuntungan, tetapi dalam jangka panjang, hal ini membangun fondasi yang kokoh untuk kelangsungan hidup Apple di era pasca -smartphone ," komentar pakar tersebut.
Kecerdasan buatan dan terobosan perangkat keras
Prioritas utama dan paling mendesak John Ternus adalah kecerdasan buatan (AI). Ini dipandang sebagai arah yang harus dikuasai Apple agar tidak menjadi "Nokia kedua".
Setelah tertinggal dari para pesaingnya, Apple di bawah kepemimpinan Ternus akan berupaya menjadikan AI sebagai jantung dari setiap perangkat. Siri tidak lagi hanya sekadar asisten virtual sederhana, tetapi sebuah sistem cerdas yang terintegrasi secara mendalam. Sistem ini akan mampu memahami konteks pengguna, mengotomatiskan tugas-tugas kompleks, dan beroperasi dengan lancar langsung di perangkat tanpa terlalu bergantung pada komputasi awan.
Selain perangkat lunak, peta jalan perangkat keras di bawah kepemimpinan Ternus juga menjanjikan perubahan yang inovatif.
"Setelah meniti karier di bidang teknik perangkat keras, Ternus memahami bahwa desain adalah jiwa dan titik kontak terpenting dengan pelanggan," kata Gurman.
![]() |
Ternus sedang mengembangkan produk-produk baru dan eksperimental seperti iPhone lipat dan kacamata realitas campuran. Foto: Apple Insider. |
Proyek-proyek yang dulunya dianggap mustahil, seperti iPhone lipat atau kacamata augmented reality, kini sedang dipercepat pengujiannya. Tujuan jangka panjangnya adalah menciptakan perangkat yang secara bertahap dapat menggantikan iPhone. Ternus ingin memastikan bahwa perangkat revolusioner berikutnya (hal besar berikutnya) akan menggunakan logo Apple.
"John Ternus bertaruh untuk mengubah Apple dari perusahaan yang berorientasi pada keuntungan menjadi pemimpin dalam inovasi sekali lagi," tegas pakar tersebut.
Untuk mencapai hal ini, Ternus menghadapi tantangan baik dari segi sumber daya manusia maupun budaya perusahaan. Ia perlu menjaga keseimbangan antara kreativitas dan disiplin operasional yang telah dibangun oleh Tim Cook.
Tantangan terbesar bagi Ternus terletak pada kemampuan diplomasinya. Tim Cook telah membangun jaringan hubungan politik dan rantai pasokan transnasional yang sangat kompleks, membantu Apple menavigasi perang dagang global.
CEO baru harus segera menunjukkan kemampuan negosiasinya di panggung internasional. Keseimbangan antara inovasi produk yang disruptif dengan stabilitas rantai pasokan akan menentukan posisinya.
Sumber: https://znews.vn/buoc-ngoat-cua-apple-duoi-thoi-tan-ceo-post1648802.html














