Tidak hanya sekadar camilan sederhana dan tradisional, tetapi juga sangat terkait dengan kenangan masa kecil banyak generasi. Dengan hanya menggunakan bahan-bahan sederhana seperti beras, biji wijen, dan kacang tanah, orang-orang dengan terampil membuat kue tipis dan bulat sempurna. Beras yang digunakan adalah jenis yang tidak lengket, dicuci bersih, kemudian direndam dalam air selama sekitar dua jam sebelum digiling menjadi tepung halus. Gula atau garam kemudian ditambahkan untuk menciptakan rasa manis atau asin.

Untuk membuat panekuk kulit beras yang sempurna, langkah terpenting adalah meratakan adonan. Setelah lapisan pertama matang tetapi masih basah, lapisan kedua diratakan, dan biji wijen, kacang tanah mentah, serta kelapa parut ditaburkan di atasnya selagi panekuk masih panas. Untuk menciptakan warna oranye yang indah, penduduk setempat mencampur buah gac yang matang dengan tepung beras untuk menambah warna dan cita rasa pada panekuk.
Kue-kue tersebut disusun rapi di atas rak bambu, dijemur di bawah sinar matahari keemasan cukup lama agar permukaannya sedikit mengering tetapi tetap lentur. Pekerja dengan cepat mengangkat kue-kue tersebut untuk mencegahnya menempel pada rak, kemudian membaliknya agar terus mengering hingga benar-benar kering dan renyah. Setelah benar-benar kering, kue-kue tersebut disimpan dalam kantong plastik tertutup rapat di tempat yang kering.

Untuk membuat kerupuk beras yang lezat, mengembang, berwarna cokelat keemasan, dan harum, pembuatnya harus sangat terampil dan teliti. Kerupuk dipanggang di atas arang, dibalik dengan satu tangan dan dikipas api dengan tangan lainnya untuk memastikan matang merata, sesekali dibentuk agar menjadi bulat sempurna.
Di tengah banyaknya hidangan modern, kerupuk beras berbentuk kipas buatan Hung Yen tetap mempertahankan cita rasa tradisionalnya. Saat dinikmati, kerupuk ini renyah, harum dengan aroma beras, dan memiliki rasa gurih yang kaya dari kacang tanah, biji wijen, dan kelapa... Semua elemen ini berpadu menciptakan cita rasa pedesaan yang kental, sarat dengan semangat pedesaan, namun tak dapat disangkal daya tariknya.
Artikel: TTXTDLHY Foto: Dikumpulkan
Sumber: https://hungyentourism.com.vn/banh-da-quat-thuc-qua-que-dan-da-c21547.html











