Menurut Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Memerangi Penggurusan (UNCCD), 40% lahan di dunia telah mengalami degradasi, yang secara langsung memengaruhi sekitar 3,2 miliar orang. Setiap tahun, umat manusia kehilangan hampir 100 juta hektar lahan subur, sementara untuk mencapai target tahun 2030, dunia perlu memulihkan sekitar 1,5 miliar hektar dengan perkiraan investasi sebesar $355 miliar per tahun. Konsekuensinya sudah terlihat di banyak wilayah.

Mongolia, negara tuan rumah konferensi COP17 UNCCD pada Agustus 2026, saat ini memiliki sekitar 77% wilayahnya yang terdegradasi atau berisiko mengalami penggurusan akibat kenaikan suhu, penggembalaan berlebihan, dan eksploitasi sumber daya. Di Tanduk Afrika, kekeringan yang terjadi bertahun-tahun berturut-turut telah menyebabkan puluhan juta orang kekurangan air dan menghadapi risiko kerawanan pangan.
Kawasan Mediterania dan Eropa Selatan juga mengalami kekeringan berkepanjangan dengan frekuensi dan intensitas yang meningkat, yang memengaruhi produksi pertanian dan pasokan air.
Namun, UNCCD berpendapat bahwa padang rumput adalah salah satu ekosistem terpenting namun kurang dihargai. Padang rumput kini meliputi lebih dari 50% permukaan daratan Bumi, menyediakan mata pencaharian bagi miliaran orang melalui peternakan dan pertanian, sekaligus berperan dalam mengatur sumber daya air, menyimpan karbon, dan melestarikan keanekaragaman hayati. Setengah dari padang rumput di dunia mengalami degradasi akibat perubahan iklim, eksploitasi berlebihan, dan perubahan penggunaan lahan.
Menurut banyak ahli UNCCD, degradasi padang rumput tidak hanya mengurangi produktivitas pertanian tetapi juga menyebabkan tanah kehilangan kapasitas penahan airnya, mempercepat penggurusan dan memperburuk dampak perubahan iklim. Oleh karena itu, restorasi padang rumput dianggap sebagai salah satu solusi berbiaya rendah namun sangat efektif untuk beradaptasi dengan perubahan iklim.
Pemilihan Kenya sebagai negara tuan rumah Hari Dunia Melawan Penggurusan dan Kekeringan 2026 juga mencerminkan tren ini. Sebagai salah satu negara Afrika yang sangat terdampak kekeringan tetapi memiliki padang rumput yang luas, Kenya mempromosikan model pengelolaan lahan berkelanjutan yang menggabungkan pengetahuan lokal dengan ilmu pengetahuan modern untuk memulihkan ekosistem dan meningkatkan ketahanan masyarakat.
Menurut UNCCD, setiap $1 yang diinvestasikan dalam reklamasi lahan dapat menghasilkan manfaat ekonomi sebesar $7-30 melalui peningkatan produktivitas pertanian, peningkatan sumber daya air, penyerapan karbon, dan pengurangan kerusakan akibat bencana alam.
Sumber: https://www.sggp.org.vn/bao-ve-dong-co-de-chong-sa-mac-hoa-post857912.html







