Vietnam.vn - Nền tảng quảng bá Việt Nam

Tragedi seorang jenius artistik.

Dalam sastra dunia, hanya sedikit karya yang menggambarkan protagonis yang begitu kontradiktif dan ekstrem seperti "The Moon and Sixpence" karya William Somerset Maugham.

ZNewsZNews21/05/2026

Terinspirasi oleh kehidupan pelukis terkenal Paul Gauguin—yang meninggalkan kehidupan mewah, keluarga, dan status untuk menekuni seni lukis di pulau terpencil Tahiti—Maugham menciptakan karakter Charles Strickland: seorang pria yang dianggap eksentrik, egois, dan tidak bermoral, tetapi juga perwujudan paling murni dari cita-cita artistik.

"The Moon and Sixpence" bukan sekadar novel seni, tetapi juga sebuah penyelidikan mendalam tentang batas-batas antara kejeniusan dan dosa, antara kecintaan pada keindahan dan ketidakpedulian terhadap kemanusiaan.

Strickland - Seniman atau Monster?

Charles Strickland muncul di halaman-halaman awal novel sebagai seorang pria Inggris biasa: seorang akuntan kelas menengah, dengan keluarga, istri yang cantik, anak-anak yang berperilaku baik, dan kehidupan yang damai. Namun, ia secara tak terduga meninggalkan semuanya untuk melarikan diri ke Paris dan memulai kehidupan dalam kemiskinan dan kesendirian untuk menekuni seni lukis.

Tindakan Strickland tidak dapat dijelaskan oleh alasan romantis atau mulia. Dia tidak memberikan penjelasan, permintaan maaf, atau pembenaran. Baginya, melukis bukanlah sebuah "pilihan" melainkan naluri, obsesi yang menembus hingga ke inti keberadaannya.

Maugham menggambarkan Strickland sebagai karakter yang sama sekali terlepas dari standar moral konvensional. Dia kejam terhadap istrinya, acuh tak acuh terhadap kekasihnya, dan tidak peka terhadap penderitaan orang lain.

Strickland membangkitkan kemarahan, kebingungan, dan pada akhirnya, kekaguman pada pembaca—dan juga narator. Karena di balik kekejaman itu terdapat sesuatu yang sangat otentik dan mendasar: kerinduan untuk hidup sebagai seniman sepenuhnya, tanpa batasan atau kompromi.

Mat trang anh 1

Buku Bulan dan Enam Pence.

Seni: Ideal absolut atau pembenaran atas keegoisan?

Aspek paling menarik dari *The Moon and Sixpence* terletak pada kenyataan bahwa Maugham tidak pernah secara langsung menghakimi Strickland. Ia membiarkan narator—seorang pengamat dan penulis yang tidak ikut campur—untuk menceritakan kehidupan sang seniman sebagai sebuah perjalanan yang tak terbayangkan. Pembaca diajak untuk berpartisipasi dalam permainan moral: dapatkah kita memaafkan kerusakan yang ditimbulkan Strickland jika kita memahami bahwa ia hidup dan mati untuk seni?

Dalam arti tertentu, Strickland seperti seorang penganut agama yang taat, yang melukis adalah agamanya. Segala hal lain—uang, cinta, ketenaran—adalah hal yang sepele. Ia rela hidup dalam kemiskinan, dicemooh masyarakat, dianggap gila, asalkan ia bisa melukis. Baginya, seni bukanlah sarana untuk mencari nafkah atau mendapatkan pengakuan, melainkan tujuan utama, esensi dari keberadaan itu sendiri.

Namun hal ini juga menimbulkan pertanyaan yang mengkhawatirkan: Dapatkah cita-cita artistik digunakan untuk membenarkan semua tindakan, termasuk kekejaman dan ketidakbertanggungjawaban? Atau, dengan kata lain, jika seseorang rela menyakiti orang lain hanya untuk mengejar "keindahan," apakah keindahan itu masih layak?

Judul novel ini —The Moon and Sixpence —adalah metafora berlapis-lapis. "Bulan" melambangkan cita-cita dan aspirasi luhur, sementara "uang enam pence" melambangkan realitas duniawi dan tidak berarti. Seperti yang pernah ditulis oleh penulis GK Chesterton: "Ia menatap bulan tetapi tidak melihat uang enam pence di kakinya."

Strickland adalah seorang estetisis sejati sehingga ia menolak kehidupan sehari-hari. Ia mengabaikan makanan, tempat tinggal, dan hubungan sosial—hal-hal yang "sepele" dalam hidup—dan hanya fokus pada bulan, yaitu melukis. Namun dalam pengejarannya ini, ia juga kehilangan hubungannya dengan kemanusiaan, menjadi orang buangan, dan mengisolasi dirinya sendiri.

Kisah Strickland adalah alegori bagi semua seniman, yang harus memilih antara mimpi dan kewajiban, antara gairah dan kenyataan. Tidak semua orang punya (atau berani) mengorbankan enam sen untuk mencari bulan.

Kisah Strickland adalah alegori bagi semua seniman—dan orang biasa—yang harus memilih antara mimpi dan kewajiban, antara gairah dan kenyataan. Tidak semua orang memiliki (atau berani) mengorbankan enam sen untuk mencari bulan. Tetapi tidak semua orang yang mencari bulan bersedia membayar harga yang dibayar Strickland: kesendirian mutlak dan kematian di negeri asing.

Meskipun Maugham tidak pernah mengklaim novelnya sebagai biografi fiksi Paul Gauguin, kemiripannya tidak dapat disangkal. Gauguin dulunya adalah seorang pialang saham kaya raya dengan keluarga yang tiba-tiba meninggalkan semuanya untuk tinggal dan menulis di Polinesia. Ia juga dipandang sebagai seniman perintis dengan kepribadian yang kuat dan gaya yang tidak konvensional—mirip dengan Strickland.

Namun, Maugham tidak sekadar menciptakan kembali kehidupan Gauguin; ia mengubah karakter Strickland menjadi arketipe yang diidealkan: seseorang yang hidup sepenuhnya untuk seni, sampai-sampai tidak peduli apakah seni itu diakui atau tidak. Kontras antara Strickland dan dunia beradab juga mencerminkan kekecewaan Maugham terhadap masyarakat Barat: di mana orang hidup berdasarkan penampilan, kebaikan yang munafik, daripada berdasarkan gairah yang tulus.

"The Moon and Sixpence" bukanlah novel yang menyenangkan. Terkadang novel ini membuat pembaca merasa tidak nyaman, jengkel, bahkan marah. Namun justru itulah yang memberikan kekuatan pada karya ini. Somerset Maugham tidak menawarkan jawaban, pujian, maupun kecaman. Ia menyerahkan kepada pembaca untuk mendefinisikannya: dapatkah kebesaran dalam seni membenarkan kekecilan karakter? Apakah "bulan" lebih berharga daripada "enam pence"?

Dan akhirnya, karya ini berfungsi sebagai pengingat yang mendalam: di balik setiap lukisan hebat terdapat harga yang harus dibayar – dan terkadang, harga itu adalah sebuah nyawa.

Sumber: https://znews.vn/bi-kich-cua-mot-thien-tai-nghe-thuat-post1560291.html


Komentar (0)

Silakan tinggalkan komentar untuk berbagi perasaan Anda!

Dalam kategori yang sama

Dari penulis yang sama

Warisan

Angka

Bisnis

Berita Terkini

Sistem Politik

Lokal

Produk

Happy Vietnam
Hari baru

Hari baru

Para siswa sekolah dasar dari Distrik Lien Chieu, Da Nang (dahulu) memberikan bunga dan mengucapkan selamat kepada Miss International 2024 Huynh Thi Thanh Thuy.

Para siswa sekolah dasar dari Distrik Lien Chieu, Da Nang (dahulu) memberikan bunga dan mengucapkan selamat kepada Miss International 2024 Huynh Thi Thanh Thuy.

Persatuan Pemuda Komune Thien Loc

Persatuan Pemuda Komune Thien Loc