![]() |
| Foto: HA DUONG |
Aku lahir sambil melihat deretan pohon sirih yang tumbuh di sana. Cabang-cabangnya yang ramping dan tinggi serta kanopinya yang kecil tidak memberikan banyak naungan, tetapi nenekku mengatakan bahwa pohon-pohon itu membangkitkan gambaran rumah-rumah tradisional, sentuhan pesona pedesaan dari desa Vietnam yang murni. Desa damai yang sering ia ceritakan dalam kisah-kisah dari masa-masa awalnya sebagai menantu perempuan, atau dalam ungkapan biasanya, "ketika aku menggendong kalian semua di lenganku." Di samping pohon-pohon sirih itu, aku melihat sekilas punggung nenekku, tali-tali ayunannya bergoyang-goyang saat ia menidurkanku, diiringi lagu pengantar tidurnya—sebuah lagu yang ia nyanyikan dengan suara serak, namun masih terucap dengan sempurna, lagu pengantar tidur yang ia kenal sejak melahirkan ibuku dan bibi-bibiku.
Masih berpegangan pada pohon pinang tua yang lapuk itu, aku melihat diriku dari masa lalu, dengan berbagai permainan masa kecil yang kumainkan bersama saudara-saudaraku. Kami bermain lompat tali, mengikat karet gelang ke sisi batang pohon dan melompat bolak-balik. Kami bermain pura-pura dengan buah pinang yang jatuh. Kami menggunakan daunnya untuk atap gubuk masa kecil kami. Dan kemudian ada permainan menarik selubung pinang, permainan nakal anak-anak. Duduk di atas selubung pinang yang tebal, seluruh kelompok akan ditarik ke depan oleh kakak laki-laki kami, seperti kereta api yang melaju kencang, berputar dan berbelok. Suara gemerisik menyeret selubung di tanah, bercampur dengan tawa anak-anak yang menular, membuat seluruh pedesaan menjadi sangat ceria...
Jika direnungkan, pohon-pohon sirih tua itu telah memberikan semua keindahannya kepada dunia, esensinya kepada nenek saya, dan ketahanannya kepada kami anak-anaknya. Dengan urbanisasi, setiap keluarga membangun rumah-rumah besar, menebang pohon-pohon sirih tua. Setiap kali ada perayaan ulang tahun keluarga, kami masih pergi ke rumah nenek saya untuk meminta beberapa lembar daun sirih dan beberapa buah sirih untuk diletakkan di altar leluhur, memenuhi kewajiban berbakti kami. Nenek saya murah hati dan memberi sebanyak yang kami butuhkan. Kebaikan dan kemurahan hati masyarakat desa tidak terukur.
Waktu berlalu dengan tenang. Pohon-pohon sirih berdiri di sana, menahan terik matahari dan hujan. Kunjungan kami ke rumah menjadi semakin jarang, seperti gema tawa anak-anak dalam ingatan kami. Kami takut akan hari ketika kami kembali dan tidak lagi melihat pohon-pohon sirih di depan gerbang kami—bayangan yang tak terpisahkan dari masa kecil kami dan terpatri dengan citra nenek kami.
LE DUC BAO
Sumber: https://baokhanhhoa.vn/van-hoa/sang-tac/202606/bong-cau-truoc-ngo-038468e/











