Saat Thomas Tuchel bersiap mengumumkan skuad Inggris untuk pertandingan persahabatan melawan Uruguay dan Jepang, gelandang berusia 20 tahun, Mainoo, menyadari bahwa ini mungkin kesempatan terakhirnya untuk masuk ke dalam skuad Piala Dunia.
![]() |
Kesempatan Mainoo akan segera datang. |
Kamp pelatihan ini memiliki arti khusus. Ini adalah kali kedua Tuchel bekerja dengan para pemainnya sebelum menyelesaikan skuad 26 pemain pada bulan Mei. Oleh karena itu, setiap pemilihan jelas diarahkan pada tujuan tertentu.
Peluang juga menghadirkan tantangan.
Bagi Mainoo, mendapatkan tempat di tim bukan hanya sebuah penghargaan, tetapi juga sebuah sinyal bahwa ia tetap menjadi bagian dari rencana jangka panjang.
Persaingan di lini tengah Inggris tidak pernah mudah. Beberapa posisi hampir "terkunci" dengan nama-nama seperti Declan Rice dan Jude Bellingham.
Morgan Rogers dan Cole Palmer juga merupakan kandidat kuat untuk peran kreatif. Oleh karena itu, Mainoo harus bersaing langsung dengan Adam Wharton dan Alex Scott untuk memperebutkan posisi yang tersisa.
Kekuatan Mainoo terletak pada penguasaan bola dan kemampuannya menciptakan peluang. Sejak diberi kesempatan kembali di Manchester United di bawah asuhan Michael Carrick, ia secara bertahap menjadi salah satu gelandang Inggris yang paling menonjol dalam hal kemampuannya mengendalikan tempo permainan.
Tingkat akurasi umpan sebesar 90,5% adalah angka yang mengesankan dalam konteks intensitas tinggi Liga Premier. Selain itu, Mainoo telah menunjukkan pendekatan yang menyeluruh terhadap permainan.
Dalam sembilan pertandingan terakhirnya, ia menciptakan lebih banyak peluang daripada Adam Wharton dan Jordan Henderson. Ia juga berada di urutan kedua setelah Rice dalam hal umpan sukses, sekaligus memberikan kontribusi positif di lini pertahanan dengan tekel yang konsisten dan statistik kemenangan.
![]() |
Perbedaan peran tersebut dapat membantu Mainoo mencetak poin. |
Perbedaan terbesar Mainoo terletak pada perannya dalam tim. Sementara Bellingham, Cole Palmer, dan Rogers bersaing untuk posisi nomor 10, Mainoo unggul dalam peran yang lebih defensif. Dia memberikan keseimbangan yang tidak banyak dimiliki oleh Three Lions.
Kelemahan Mainoo
Namun, Mainoo menghadapi kerugian yang signifikan. Ia sebagian besar absen dari kamp pelatihan Tuchel sejak pelatih asal Jerman itu mengambil alih tim nasional.
Alasannya berasal dari minimnya waktu bermain di bawah kepemimpinan Ruben Amorim sebelumnya. Sementara itu, Wharton dan Alex Scott mempertahankan konsistensi sepanjang musim.
Pengalaman juga merupakan faktor penting. Jordan Henderson, meskipun berusia 36 tahun, masih dianggap sebagai pilihan karena pengalamannya di lapangan. James Garner juga muncul sebagai pilihan potensial di tahap akhir musim.
Namun, Mainoo bukannya tanpa kekuatan. Ia menjadi starter di final EURO 2024 saat baru berusia 19 tahun, dan membentuk duet lini tengah yang andal dengan Declan Rice. Pemahaman tersebut tetap menjadi keuntungan jika Tuchel ingin mempertahankan konsistensi.
Masalahnya terletak pada waktu. Manchester United saat ini memiliki jadwal pertandingan yang jarang, sehingga Mainoo memiliki sedikit kesempatan untuk mencetak lebih banyak poin. Sementara itu, rival mereka secara konsisten bermain dan mempertahankan performa mereka.
Oleh karena itu, keputusan Tuchel akan sangat penting. Jika diberi kesempatan, Mainoo dapat terus membuktikan kemampuannya di level internasional. Jika diabaikan, pintu menuju Piala Dunia hampir pasti akan tertutup.
Dalam skuad yang memiliki banyak pilihan tetapi kurang stabil, pertanyaan bagi Tuchel bukan hanya tentang siapa yang harus dipilih. Ini tentang jenis gelandang seperti apa yang perlu ia datangkan. Dan Mainoo, dengan ketenangan dan kontrolnya, bisa menjadi jawabannya.
Sumber: https://znews.vn/buoc-ngoat-cua-mainoo-post1636639.html








Komentar (0)