Selama masa kuliahku, kencan minum kopi sering dimulai dengan kalimat yang sangat familiar: "Mau minum kopi?"
Kami memilih kedai kopi karena harganya murah. Secangkir kopi bisa bertahan dari pagi hingga siang, cukup untuk proyek kelompok, percakapan santai, atau sekadar pandangan sekilas. Kopi saat itu banyak susunya. Karena hidup begitu manis saat itu!

Secangkir kopi hitam, kadang dengan sedikit gula, kadang tanpa gula.
Setelah lulus dan mulai bekerja, kopi menjadi semakin penting. Minuman cepat saji. Untuk tetap terjaga. Untuk memenuhi tenggat waktu. Untuk mengatasi pagi-pagi ketika saya belum siap. Kopi sekarang sedikit lebih pekat. Dengan sedikit susu.
Lalu suatu hari, ketika segalanya mulai berjalan tidak sesuai rencana dan aku tidak tahu harus menceritakannya kepada siapa. Kesedihan yang tak bisa kusebutkan namanya. Aku berhenti minum alkohol dengan cepat. Aku mulai menyeduh kopi. Perlahan. Merobek bungkus kertas penyaring kopi. Membuka kedua tutupnya, meletakkannya di tepi cangkir. Menuangkan air panas sangat perlahan.
Dari sebutir buah merah di gunung hingga pagi hari di meja seseorang.
Setiap tetes kopi jatuh. Stabil. Perlahan…
Ini seperti belajar untuk duduk dan menyendiri.
Secangkir kopi hitam, kadang dengan sedikit gula, kadang tanpa gula.
Bukan untuk terlihat kuat. Tetapi untuk merasakan lebih dalam: kepahitan awal, dan kemanisan yang sangat dalam dan bertahan lama yang mengikutinya.
Kopi mengajarkan kesabaran. Untuk memperlambat tempo. Untuk memahami bahwa setiap cangkir kopi adalah sebuah perjalanan: Dari sebutir biji kopi merah di pegunungan hingga secangkir kopi di meja seseorang di pagi hari.
Segala sesuatu membutuhkan waktu. Begitu juga kehidupan.
Lalu suatu hari, aku menyadari bahwa aku tidak hanya minum kopi. Aku sedang meminum kenangan masa lalu.

Kopi mengajarkan kesabaran kepada orang-orang.
(Karya yang diikutsertakan dalam kontes "Kesan tentang Kopi dan Teh Vietnam" 2026, bagian dari program "Merayakan Kopi dan Teh Vietnam" ke-4 yang diselenggarakan oleh Surat Kabar Nguoi Lao Dong ).


Sumber: https://nld.com.vn/ca-phe-va-nhung-ngay-da-di-qua-196260319153543842.htm






Komentar (0)