Musim panas datang dengan hujan yang tiba-tiba dan singkat. Sesaat cerah, sesaat kemudian hujan, dan sebelum hujan berhenti, matahari sudah mengintip dari balik awan dan menyinari tanah.
Hujan dan sinar matahari. Anehnya, hujan tidak suram tetapi berwarna kuning cerah. Dan kejutan tidak berhenti di situ; beberapa hujan, tepat setelah berhenti, menampakkan pelangi yang indah di cakrawala. Anak-anak bersorak gembira melihat keindahan pelangi. Mata mereka berbinar-binar ingin menyentuhnya, ingin memeluk warna-warna ajaib itu. Tetapi selamanya, itu hanya akan tetap menjadi kerinduan; tidak seorang pun dapat menyentuh keindahan ilusi pelangi. Karena itu, pelangi tetap indah, selamanya memikat dan menginspirasi kekaguman setiap kali muncul.
Ketika aku masih kecil, setiap kali kami melihat pelangi, kami anak-anak akan bersorak dan berteriak, lalu duduk diam dan menatapnya. Kami bertanya-tanya mengapa pelangi menggantung di atas awan. Siapa yang menciptakan pelangi? Mengapa pelangi hanya muncul setelah hujan?… Begitu banyak pertanyaan, dan tidak ada yang bisa memberi kami jawabannya. Ibuku berkata bahwa pelangi diciptakan oleh Peri Hujan, jadi ketika peri itu pergi, pelangi itu segera menghilang. Tapi aku tidak puas dengan jawaban ibuku, jadi aku bertanya, "Bu, untuk apa peri itu menciptakan pelangi?" Ibuku tersenyum lembut: "Peri itu menciptakan pelangi untuk melakukan perjalanan dari satu negeri ke negeri lain untuk membuat hujan." Jadi ada sungai di langit, Bu? "Ya, hujan adalah air dari sungai yang mengalir di sini, anakku." Jawaban ibuku memicu begitu banyak imajinasi dalam pikiranku. Ternyata negeri di langit itu nyata, tempat yang hanya dihuni oleh peri. Aku menceritakan penemuan hebatku ini kepada teman-temanku, tetapi mereka semua mencemooh dan mengatakan aku berbohong. Baiklah, aku akan terbang ke negeri ajaib itu saat aku sudah lebih tua dan punya banyak uang, mengambil foto, dan membawanya kembali sebagai bukti.
Namun sebelum aku dewasa, guruku sudah mulai mengajarkan tentang pelangi. Ternyata pelangi terbentuk dari pembiasan dan pantulan cahaya setelah hujan. Teman-temanku terus-menerus mengungkit penemuan hebatku di masa lalu dan menggodaku tanpa henti. Aku tidak peduli dengan mereka; aku masih percaya pada negeri dongeng yang kulihat dalam imajinasiku. Aku menyalurkan kekeraskepalaanku ke dalam mimpi-mimpi dongeng, di mana aku adalah Peri Hujan, dengan anggun berjalan melintasi jembatan cahaya yang berkilauan dan menggunakan ember ajaibku untuk mengambil air dari sungai dan menuangkannya ke bumi sebagai hujan…
Aku sangat marah pada teman-temanku sehingga aku beralih mengagumi pelangi sendirian. Duduk di rumput, meringkuk dengan kepala di lutut, diam-diam menatap pelangi adalah suatu kenikmatan. Warna-warna yang dilukis alam dengan begitu mahir sangat hidup. Aku mencoba mencampur warna untuk menyerupainya, tetapi selalu gagal. Alam adalah seniman hebat yang tidak akan pernah bisa dilampaui manusia. Warna-warna yang diciptakan alam begitu hidup dan ajaib, mustahil untuk ditiru.
Kemudian, ketika saya pindah ke kota untuk sekolah dan bekerja, saya tidak lagi memiliki kesempatan untuk mengagumi pelangi setelah hujan. Rutinitas sehari-hari mencari nafkah membuat saya melupakan semua hal indah masa kecil saya. Hujan musim panas hanya membawa masalah karena kemacetan lalu lintas dan jalanan yang banjir, tidak ada lagi kegembiraan. Baru setelah saya menyadari bahwa hiruk pikuk kehidupan kota tidak cocok untuk saya, saya mengemasi tas saya dan kembali ke kampung halaman. Di sana, saya menghirup aroma tanah setelah hujan, menatap langit yang luas dan tak berujung, dan bertemu kembali dengan sahabat masa kecil saya, pelangi. Mimpi-mimpi indah itu kembali. Satu-satunya perbedaan adalah sekarang, setiap kali saya melihat pelangi, saya tidak lagi mencoba meniru warnanya, tidak lagi bermimpi menjadi peri hujan. Saya hanya melihat pelangi sebagai hal terindah di alam. Itu mengingatkan saya bahwa setelah hujan datanglah sinar matahari, dan begitu banyak hal indah menanti kita di depan, jadi jangan pernah menyerah dalam keputusasaan. Hanya dengan mengatasi kesulitan dan kesengsaraan kita dapat mencapai kehidupan yang lebih baik.
Separuh umur telah berlalu, dan setelah mengalami begitu banyak suka duka dalam hidup, akhirnya saya memahami pelajaran dari pelangi.
Siang ini, setelah hujan reda, pelangi muncul di barat, besar, jernih, dan megah di tengah langit. Itu mengingatkan saya pada mimpi masa kecil saya untuk menyentuh pelangi. Saya terkekeh pelan mengingat masa kecil saya yang naif. Seolah-olah pelangi di atas juga tersenyum…
Sumber






Komentar (0)