Alejandro Garnacho meninggalkan Manchester United dengan perasaan campur aduk antara penyesalan dan kelelahan. Dulunya dianggap sebagai permata dari akademi, pemain Argentina ini memiliki semua kualitas untuk menjadi ikon baru Old Trafford: kecepatan, teknik, dan bakat khas seorang "pemain sayap Setan Merah." Namun pada akhirnya, Garnacho meninggalkan serangkaian masalah terkait disiplin dan sikap.
Ketika bakat berbenturan dengan ego
Titik balik terjadi setelah kekalahan Manchester United di final Liga Europa melawan Tottenham di Bilbao. Duduk di bangku cadangan hingga menit ke-70, Garnacho secara terbuka mengkritik musim tim sebagai "sampah." Tiga hari kemudian, manajer Ruben Amorim memanggil seluruh tim dan membuat keputusan drastis: Garnacho, bersama Rashford, Antony, Sancho, dan Malacia, dipisahkan dari susunan pemain inti dan berlatih secara terpisah dalam suasana tegang.
Sejak saat itu, berakhirnya hubungan ini hanyalah masalah waktu. Garnacho tidak lagi memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam tur AS, dan pertandingan persahabatan melawan Hong Kong XI menjadi pertandingan terakhirnya mengenakan seragam merah. Pernyataan perpisahan klub – hanya 123 kata – sudah cukup untuk menunjukkan dinginnya keinginan Manchester United untuk menutup babak yang kacau ini.
Garnacho bisa saja menjadi ikon Manchester United. |
Di balik keputusan itu terdapat konflik antara bakat dan ego. Garnacho telah menunjukkan momen-momen brilian – dua gol melawan West Ham, gol pembuka di final Piala FA melawan Man City – tetapi ia terlalu lalai dalam menjaga disiplin taktis.
Ia bercita-cita menjadi Ronaldo berikutnya, tetapi rekan-rekan setimnya lebih melihat sisi egois dan tidak bertanggung jawabnya. Baik Ten Hag maupun Amorim kecewa karena ia sering mengabaikan tugas-tugas defensif dan bereaksi negatif setiap kali menerima kritik.
Kebuntuan mulai dari taktik hingga ruang ganti.
Sistem taktik Ruben Amorim sendiri membuat Garnacho menjadi tidak dibutuhkan. Pelatih asal Portugal itu lebih menyukai formasi 3-4-3 atau 3-4-2-1, di mana kedua "nomor 10" bermain bebas di belakang striker tengah, menggantikan peran pemain sayap tradisional.
Bagi Garnacho, yang membutuhkan ruang di sayap dan kebebasan untuk berakselerasi, ini seperti kemeja yang terlalu sempit. Bahkan dengan upaya untuk beradaptasi, ia tetap dianggap sebagai pemain yang tidak cocok.
Ketegangan meningkat setelah pertandingan di Plzen, ketika Amorim merasa Garnacho mengabaikan instruksinya. Sejak saat itu, ia dicoret dari skuad derbi Manchester dan praktis tidak memiliki kesempatan untuk memperbaiki citranya. Tindakan impulsifnya – menerobos masuk terowongan setelah diganti, atau mengunggah pesan di media sosial yang menyiratkan bahwa ia "dikorbankan" – hanya semakin merusak citranya di mata manajer dan rekan-rekan setimnya.
Garnacho kini telah pindah ke Chelsea. |
Oleh karena itu, konflik internal di ruang ganti telah muncul dalam berbagai kesempatan. Bruno Fernandes secara terbuka mengkritik Garnacho karena "kurangnya sikap yang baik," dan Lisandro Martinez mencoba membimbingnya tetapi tidak berhasil. Beberapa pemain veteran bahkan mengungkapkan rasa frustrasi: "Dulu, ruang ganti akan menangani pemain seperti itu dengan sendirinya." Kesabaran United pun habis.
Saat rekan-rekan setimnya menemukan klub baru – Rashford ke Barcelona, McTominay ke Napoli, Hojlund ke tim Italia – Garnacho memilih jalannya sendiri. Keputusannya untuk menjual rumah mewahnya di Bowdon setelah hanya setahun, dan kemudian menghapus semua jejak Manchester United dari media sosial, menunjukkan bahwa hubungan tersebut telah retak dan tidak dapat diperbaiki lagi.
Transfer senilai 40 juta poundsterling ke Chelsea – hanya setengah dari jumlah yang diminta Manchester United dari Napoli – mengakhiri kisah yang menyedihkan. Setan Merah memilih untuk berpihak pada Amorim, menaruh kepercayaan pada sistem baru daripada kepribadiannya yang pemberontak. Garnacho, yang pernah dipuji sebagai harapan terbesar generasi muda, pergi dengan dingin.
Malam ini, saat kembali ke Old Trafford, Garnacho akan membawa serta keinginan untuk membuktikan bahwa Setan Merah salah. Namun pada akhirnya, ia sendiri menyia-nyiakan kesempatannya dengan impulsif dan kepribadian yang tak terkendali. Pertanyaannya tetap: Apakah Garnacho seorang "anak nakal" yang pemberontak atau hanya seorang talenta muda yang disalahpahami?
Bagi Manchester United, jawabannya sudah tidak penting lagi – karena mereka telah memilih jalan yang tidak lagi menyertakannya dalam rencana masa depan mereka.
Sumber: https://znews.vn/cay-dang-mang-ten-garnacho-post1586890.html









