![]() |
| Buku tersebut baru saja diterbitkan oleh Penerbit Dan Tri dan Penerbit May Thong Dong. (Foto: Luu Dinh Long) |
Dari judulnya saja, buku ini membangkitkan gambaran yang menarik. Pekerjaan adalah apa yang kita lakukan setiap hari. Kuda melambangkan ambisi, keinginan untuk maju. Tetapi pada akhirnya, yang terpenting adalah "kita"—orang-orang yang menunggang kuda itu. Jika kuda berlari terlalu cepat dan penunggangnya kehilangan arah, perlombaan tersebut akan kehilangan banyak maknanya.
Saat membaca buku itu, saya teringat akan gambaran banyak pekerja modern. Mereka bangun pagi-pagi sekali, terjun ke rutinitas kerja, mengejar target, penjualan, KPI, posisi, dan pendapatan. Setiap hari terasa sibuk. Tetapi terkadang mereka tiba-tiba menyadari bahwa mereka telah menempuh perjalanan panjang tanpa mengetahui ke mana tujuan akhir mereka.
Kedua penulis ini tidak menulis dari perspektif para pemenang yang memandang dari puncak gunung. Mereka menulis dari sudut pandang orang-orang yang sedang menjalani perjalanan hidup mereka. Ada saat-saat sukses, saat-saat kegagalan. Ada saat-saat pengakuan, dan saat-saat diremehkan. Inilah yang memberikan buku ini keasliannya.
Saya suka cara penulis menceritakan kisah karier. Bukan kisah glamor tentang gaji atau jabatan, tetapi pilihan-pilihan yang sangat manusiawi. Seorang arsitek yang beralih ke manajemen proyek. Momen-momen mempertanyakan apakah akan tetap tinggal atau pergi. Malam-malam yang dihabiskan untuk merenungkan tanggung jawab keluarga. Momen-momen berdiri di persimpangan jalan, tidak yakin keputusan mana yang tepat.
Sepanjang buku ini, pembaca dapat dengan mudah melihat pertanyaan yang halus namun menyeluruh: Apakah pekerjaan dimaksudkan untuk melayani kehidupan, ataukah kehidupan dikorbankan demi pekerjaan? Ini adalah pertanyaan yang tidak mudah dijawab.
Kita hidup di era di mana nilai seseorang sering diukur dari gelar, rekening bank, atau status sosialnya. Orang saling bertanya apa pekerjaan mereka sebelum bertanya apakah mereka bahagia. Orang-orang bangga karena sibuk, tetapi jarang bertanya pada diri sendiri apakah mereka merasa tenang.
"Work, the Horse, and Us" tidak menyangkal peran kesuksesan. Sebaliknya, buku ini mengakui kerja keras dan aspirasi untuk unggul sebagai kualitas yang berharga. Tetapi penulis juga mengingatkan kita bahwa kesuksesan tidak seharusnya menjadi sangkar yang memenjarakan diri sendiri.
Salah satu hal yang paling membuat saya terkesan adalah tema rasa syukur yang berulang dalam buku tersebut. Rasa syukur kepada para mentor yang membimbing saya. Rasa syukur kepada rekan-rekan yang mendukung saya. Rasa syukur kepada lingkungan kerja yang memberi saya kesempatan untuk berkembang. Bahkan kemunduran profesional pun dipandang sebagai pelajaran, bukan kemalangan.
Dalam masyarakat saat ini, rasa syukur tampaknya menjadi nilai yang langka. Kita lebih terbiasa fokus pada apa yang kurang daripada apa yang kita miliki. Kita lebih terbiasa melihat ladang orang lain daripada merawat kebun kita sendiri. Oleh karena itu, tulisan-tulisan ini menciptakan rasa tenang di tengah hiruk pikuk kehidupan modern.
Buku ini juga tidak menghindari sisi gelap tempat kerja. Ada tempat-tempat di mana kekuasaan mengalahkan keahlian. Ada tempat-tempat di mana karyawan dipandang sebagai pengeluaran daripada aset. Ada tempat-tempat di mana kontribusi tidak diakui secara memadai. Tetapi alih-alih mendorong kepahitan, penulis memilih untuk menawarkan ketenangan pikiran.
Aspek paling berharga dari buku ini adalah memberdayakan mereka untuk secara proaktif menilai keadaan mereka, secara proaktif melakukan perubahan, dan secara proaktif memilih untuk tetap tinggal atau pergi dengan bijaksana, bukan berdasarkan emosi yang sesaat.
Di balik kisah-kisah karier ini tersembunyi semangat yang sangat dekat dengan filosofi Buddha: semangat ketidakabadian. Pekerjaan akan berubah. Posisi akan berubah. Bisnis akan berubah. Bahkan kesuksesan yang tampaknya paling abadi pun tidak akan bertahan selamanya.
![]() |
| Penulis Nguyen Dinh Khoa dan Luu Dinh Long. (Foto milik penulis) |
Saat saya sampai di halaman-halaman terakhir, saya tidak lagi melihatnya hanya sebagai buku tentang pekerjaan. Rasanya lebih seperti buku tentang kehidupan. Pekerjaan hanyalah latar belakang. Kuda itu hanyalah sebuah gambaran. Tokoh protagonis sebenarnya tetaplah seorang manusia dengan kekhawatiran, aspirasi, keterbatasan, dan potensi pertumbuhannya.
Mungkin itulah mengapa buku ini begitu berkesan bagi banyak pembaca, karena kita semua pernah memiliki kuda yang ingin kita kejar di suatu titik. Dan pada akhirnya kita semua akan berhenti dan bertanya pada diri sendiri, setelah semua perlombaan itu, apakah kita masih mengenali diri kita sendiri?
Penulis Nguyen Dinh Khoa adalah seorang arsitek dan manajer proyek dengan pengalaman hampir dua dekade di bidang real estat dan pengembangan proyek. Ia telah memegang berbagai posisi manajemen di perusahaan domestik dan internasional dan merupakan penulis karya-karya seperti: *Perjalanan Solo*, *Kembali Menjadi Anak*, *Semut Membangun*, dan *Varian* . Pada tahun 2024, ia memenangkan Penghargaan Sastra Penulis Muda ke-6 dan Penghargaan Penulis Muda dari Asosiasi Penulis Kota Ho Chi Minh . Penulis Luu Dinh Long adalah seorang jurnalis dan penulis, saat ini menjabat sebagai Direktur May Thong Dong Culture and Communication Co., Ltd. Beliau adalah penulis dan penulis bersama dari banyak buku seperti "Mendengarkan Napasmu," "Sutra Hati yang Dijelaskan untuk Diri Sendiri," "Seperti Awan yang Melayang Bebas," "Seperti Angin Lembut," "Hidup dalam Damai," "Hidup Positif, Mencintai dengan Tulus," "Semakin Anda Memahami, Semakin Anda Mencintai," "Ibu Memahami, Ayah Mencintai, Membuka Jalan bagi Anak-Anak," dll. Diterbitkan oleh Dan Tri Publishing House dan May Thong Dong, "Work, the Horse, and Us" adalah pertemuan dua penulis dari bidang berbeda yang memiliki minat yang sama dalam karier, pertumbuhan pribadi, dan perjalanan menemukan kedamaian di tengah tekanan kehidupan modern. Buku ini tidak hanya menceritakan kisah tentang pekerjaan tetapi juga menawarkan refleksi tentang tanggung jawab, rasa syukur, integritas, dan nilai kehidupan yang bermakna. |
Sumber: https://baoquocte.vn/chay-theo-con-ngua-dung-lac-mat-minh-406533.html










