Vietnam.vn - Nền tảng quảng bá Việt Nam

Satu halaman lagi…

Ada sebuah pepatah yang sangat familiar di kalangan pecinta buku: "Satu halaman lagi saja…".

Báo Đồng ThápBáo Đồng Tháp21/03/2026

Kedengarannya sederhana. Tetapi di balik pernyataan itu tersembunyi sebuah dunia yang luas.

Seorang siswa yang mampu membaca secara mendalam akan mampu berpikir secara mendalam (gambar: Guru dan siswa di SMP Xuan Dieu (kelurahan My Tho) selama sesi bimbingan belajar). Foto: DO PHI

Saat itulah tanganmu hendak menutup buku, jam terus berdetik hingga larut malam, tetapi jantungmu menolak untuk berhenti berdetak. Saat itulah kau berjanji pada diri sendiri akan tidur lebih awal, tetapi ceritanya belum selesai, para tokoh berada di titik balik, dan kau tak sanggup untuk meninggalkannya.

"Budaya membaca tidak hanya menghasilkan orang-orang yang mahir membaca, tetapi juga orang-orang yang tahu bagaimana merasakan, berpikir, dan menempatkan diri pada posisi orang lain."

"Satu halaman lagi saja…", terkadang itulah penundaan termanis dalam hidup.

Membaca bukanlah sebuah kewajiban.

Membaca buku adalah sebuah perjumpaan.

Bertemu dengan orang yang sama sekali asing.

Menemukan kembali era yang telah berlalu.

Saya menemukan sebuah pertanyaan yang belum pernah berani saya tanyakan pada diri sendiri.

Dan mungkin itulah nilai terdalam dari membaca.

Seseorang pernah bercerita bahwa mereka tumbuh di rumah sederhana, tetapi selalu ada sudut kecil yang dikhususkan untuk buku. Bukan rak buku besar, bukan koleksi mahal, hanya beberapa buku tua, kertasnya pudar, tetapi cukup untuk membuka cakrawala jauh melampaui batasan rumah mereka.

Ada buku-buku yang tidak membuat kita kaya seketika, tidak memberi kita rumus kesuksesan, dan tidak menjanjikan jalan pintas. Tetapi buku-buku itu diam-diam menabur benih rasa ingin tahu, empati, dan perspektif yang berbeda tentang dunia di dalam hati kita.

Buku tidak mengubah keadaan secara instan.

Namun, buku mengubah cara kita memandang suatu situasi.

Ketika kita lebih memahami orang lain, sejarah, serta penderitaan dan kebahagiaan mereka, kita akan lebih jarang menghakimi. Ketika kita membaca tentang perjalanan mengatasi kesulitan, kita akan lebih percaya pada langkah kita sendiri.

Budaya membaca tidak dimulai dengan konferensi besar.

Semuanya berawal pada suatu malam yang tenang, dengan orang tua memegang buku dan anak duduk di samping mereka.

Dari sudut perpustakaan tempat para siswa menemukan buku pertama mereka yang "sesuai dengan selera mereka."

Dari seorang guru yang tidak hanya memberikan kuliah tetapi juga berbicara tentang kegembiraan membaca dengan sorot mata yang berbinar.
Sebagian siswa awalnya tidak menyukai membaca. Bagi mereka, buku adalah beban, ujian, dan sumber nilai. Tetapi dengan buku yang tepat pada waktu yang tepat, sebuah cerita yang menyentuh sesuatu yang terdalam dalam diri, mereka dapat berubah. Bukan karena dipaksa, tetapi karena mereka menemukan ketertarikan.

Budaya membaca tidak bisa dipaksakan.

Hal itu hanya bisa dibangkitkan.

Sebagian orang bertanya apakah membaca masih penting di era teknologi. Ketika semua informasi hanya berjarak beberapa sentuhan, ketika video pendek berlalu lebih cepat daripada halaman buku, apakah duduk tenang dengan buku masih memiliki tempat?

Dari sudut perpustakaan tempat siswa menemukan buku pertama mereka yang "sesuai selera mereka" (gambar: Waktu membaca di Sekolah Dasar Nguyen Hue, Kelurahan Thoi Son). Foto: DO PHI

Mungkin justru karena segala sesuatu bergerak begitu cepat, kita membutuhkan momen untuk memperlambat tempo.

Membaca adalah cara untuk memperlambat tempo.

Luangkan waktu untuk berpikir.

Luangkan waktu untuk mendengarkan suara hati Anda.

Di dunia yang penuh kebisingan, buku bagaikan momen keheningan yang mendalam. Tidak berisik, tidak sensasional, tetapi abadi.

Sebagian pendidik memahami bahwa mengajar bukan hanya tentang menyampaikan pengetahuan, tetapi juga tentang menumbuhkan kecintaan terhadap belajar. Dan salah satu cara paling berkelanjutan untuk memupuk kecintaan itu adalah melalui membaca.

Seorang siswa yang tahu cara membaca secara mendalam akan tahu cara berpikir secara mendalam.

Seorang anak muda yang mampu membaca dari berbagai perspektif akan mampu melihat kehidupan dari berbagai sudut pandang.

Budaya membaca tidak hanya menghasilkan orang-orang yang mahir membaca, tetapi juga menciptakan orang-orang yang tahu bagaimana merasakan, berpikir, dan menempatkan diri pada posisi orang lain.

"Satu halaman lagi..."

Mungkin itulah yang akan dikatakan seorang anak jika mereka terpesona oleh sebuah cerita petualangan.

Ini bisa jadi karya seorang dewasa yang mendapati dirinya tercermin dalam halaman-halaman karya sastra.

Bisa jadi itu berasal dari seorang guru yang masih terjaga, merenungkan pelajaran besok.

Namun pada akhirnya, ini adalah pengingat lembut bahwa kita masih penasaran, kita masih mendambakan pengetahuan, dan kita masih percaya bahwa dunia ini lebih besar dari apa yang kita lihat.

Saat tahun baru mendekat, mungkin kita tidak perlu terlalu banyak janji muluk. Cukup katakan pada diri sendiri bahwa tahun ini, kita akan membaca beberapa buku lagi. Bukan untuk pamer, bukan untuk mengumpulkan prestasi, tetapi untuk menyehatkan diri sendiri. Karena setiap buku yang kita baca, meskipun hanya "satu halaman lagi," diam-diam sedikit memperluas jiwa kita.

Dan ketika banyak hati terbuka, masyarakat akan menjadi lebih murah hati dan lebih baik hati.

Pada akhirnya, budaya membaca bukan hanya tentang buku.

Ini adalah kisah sebuah komunitas yang menghargai pengetahuan, tahu bagaimana mendengarkan, dan tahu bagaimana melangkah jauh dengan kedalaman.

LE MINH HOAN

Sumber: https://baodongthap.vn/chi-mot-trang-nua-thoi--a238261.html


Komentar (0)

Silakan tinggalkan komentar untuk berbagi perasaan Anda!

Dalam kategori yang sama

Dari penulis yang sama

Warisan

Angka

Bisnis

Berita Terkini

Sistem Politik

Lokal

Produk

Happy Vietnam
Tepian Sungai, Jiwa Pedesaan

Tepian Sungai, Jiwa Pedesaan

Daun

Daun

laut batu kuno

laut batu kuno