
Tidak semua orang memiliki sumber daya keuangan yang melimpah, tidak semua keluarga memiliki waktu luang untuk merencanakan perjalanan jangka panjang. Namun, dengan perhatian yang tulus, persahabatan yang tak kenal lelah, dan kasih sayang yang tulus, banyak orang tua di Da Nang telah memilih untuk menciptakan musim panas yang tak terlupakan bagi anak-anak mereka dengan cara mereka sendiri yang unik.
Sebagai ibu dari dua anak remaja, Ibu Ho Thi My Len (kelurahan Thanh Khe) memahami betul "perangkap" musim panas yang disebut YouTube, permainan daring, dan jejaring sosial.
"Anda tidak bisa menyalahkan anak Anda karena kecanduan ponsel jika Anda tidak memberinya kesempatan untuk mencintai dunia nyata," ujarnya terus terang. Itulah sebabnya ia memanfaatkan setiap liburan musim panas untuk merencanakan perjalanan ke pedesaan, di mana terdapat kebun sayur, ayam, dan kolam ikan. Tugas-tugas sederhana seperti memetik sayuran, memecah jagung, dan membantu neneknya memasak membantu anaknya lebih terhubung dengan alam dan belajar berbagi dengan sesama.
Ketika ada kesempatan, ia mengajak anak-anaknya melakukan kegiatan sukarela kecil-kecilan: membagikan makanan gratis, memungut sampah di pantai. Baginya, yang penting bukanlah anak-anaknya menonjol atau menjadi "luar biasa", melainkan mereka tahu bagaimana berempati, bekerja keras, dan menjalani hidup indah dari hal-hal yang paling sederhana.
Setelah setiap perjalanan, ia meluangkan waktu untuk berbicara dengan anaknya: "Saya tidak mengajar dengan kata-kata, melainkan membiarkan anak saya bercerita, dan dari sana ia memahami apa yang ia pikirkan dan rasakan. Saya juga belajar banyak dari cara anak saya memandang masalah," kata Ibu Len.
Sebagai guru matematika yang suaminya bekerja di bidang teknologi, Ibu Tran Thi Phuoc Vinh (kelurahan Hoa Khanh) tidak kekurangan perangkat digital dalam hidupnya, tetapi ia memilih "sudut musim panas" yang sangat berbeda untuk anak-anaknya: perpustakaan dan taman.
Setiap minggu, sesibuk apa pun, ia selalu berusaha mengajak kedua putranya—yang satu kelas empat, yang satu kelas delapan—ke perpustakaan kota. Di sana, mereka membaca buku, bermain catur, bermain logika, atau sekadar... duduk dan memperhatikan orang lain.
“Kadang saya tidak belajar hal besar, tapi saya belajar bagaimana bersabar, bagaimana duduk diam, dan memandang hidup dengan rasa ingin tahu,” ungkapnya.
Di malam hari, ia meluangkan waktu sejenak untuk berbicara dengan anaknya. Tanpa tekanan, tanpa omelan, hanya pertanyaan sederhana: "Hal baik apa yang kamu lakukan hari ini?", "Apakah kamu sedih karena sesuatu?", "Apakah ada hal bahagia yang terjadi, ceritakan padaku?"...
Berkat itu, meski tumbuh di zaman teknologi, anaknya tetap menjaga keseimbangan, tidak terlalu bergantung pada layar, dan terutama sangat terbuka dengan orang tuanya.
Bagi Ibu Nguyen Thi Trang (Kelurahan Hoa Minh), kekhawatiran terbesarnya adalah anak-anaknya akan terpengaruh oleh konten yang tidak pantas di internet. Ia pernah mengizinkan kedua anaknya yang masih SD menonton YouTube dengan bebas, tetapi kemudian terkejut ketika mendengar anak-anaknya menggunakan kata-kata yang tidak pantas.
Dari situlah ia menyusun rencana khusus untuk liburannya: setiap hari anak harus melakukan paling sedikit satu aktivitas fisik (berenang, berolahraga ), satu aktivitas intelektual (menulis buku harian, membaca buku), dan satu aktivitas bermanfaat bagi orang lain (membantu pekerjaan rumah, membuat mainan untuk adik-adiknya, merawat tanaman, dan sebagainya).
Secara khusus, ia menghabiskan waktu bersama anak-anaknya bermain permainan tradisional seperti catur, catur, dan menggambar - hal-hal yang tidak mencolok tetapi membantu anak-anak mengembangkan cara berpikir dan kasih sayang keluarga.
"Kita tidak bisa menyerahkan sepenuhnya pengajaran kepada anak-anak kita melalui gambar kepada ponsel. Kita harus hadir setiap hari, meskipun hanya 30 menit, itu penting," tegas Trang.
Menurut Bapak Vo Huu Hieu, Direktur Pusat Pendidikan Keterampilan Hidup Phoenix, musim panas adalah waktu "emas" untuk membangun fondasi intelektual dan emosional yang sehat bagi anak-anak.
"Orang tua sering berpikir bahwa jika ingin anak-anak mereka tidak tertinggal, mereka harus mengikuti kelas tambahan. Namun kenyataannya, yang lebih dibutuhkan anak-anak adalah kesempatan untuk hidup – hidup bahagia, hidup sehat, dan hidup bersama orang-orang terkasih," ujar Bapak Hieu.
Ia juga mencatat bahwa semakin banyak anak yang mengalami gangguan ritme sirkadian selama musim panas akibat begadang, tidur larut malam, jadwal yang tidak sinkron, dan ketergantungan pada perangkat digital. Konsekuensi ini dapat berlangsung diam-diam hingga tahun ajaran baru.
Kesamaan yang dimiliki oleh ketiga ibu dalam artikel ini bukanlah kondisi material atau formula organisasi yang sempurna – melainkan kehadiran.
Hadir dalam perjalanan, percakapan di malam hari, permainan sederhana, bahkan saat berbagi pekerjaan rumah. Oleh karena itu, musim panas bukan lagi waktu "bebas" melainkan waktu berkualitas – bagi anak-anak untuk hidup sejati, hidup bahagia, dan bertumbuh setiap hari.
Setiap musim panas akan berlalu, tetapi jika dipenuhi dengan cinta dan pengalaman, itu akan menjadi musim panas yang akan dikenang anak-anak selamanya. Dan dalam kenangan itu – orang tua pun tak luput.
Sumber: https://baodanang.vn/cho-con-mot-mua-he-dung-nghia-3265332.html
Komentar (0)