| Ilustrasi: PV |
Waktu berlalu dengan tenang. Menjelang akhir musim panas, anak-anak tetangga dengan gembira berbondong-bondong ke kebun Nyonya Xuan. Mereka berlomba-lomba memanjat pohon pomelo dan manggis, tangan mungil mereka dengan cekatan memetik buah, tawa mereka bergema di angin seperti sekumpulan burung pipit di pergantian musim. Hanya pohon apel itu yang tersisa, cabang-cabangnya rimbun dan hijau, tetapi gundul, tidak ada satu pun buah manis yang tergantung di rantingnya.
Anak-anak menyebutnya "pohon apel yang malas" lalu dengan ceroboh berlari bermain ke sudut taman yang lain, tanpa menoleh ke belakang. Pohon apel itu mendengar semuanya, setiap kata ejekan seperti goresan halus di kulit batangnya. Ia mendongak ke langit yang cerah, di mana awan-awan melayang menuju cakrawala yang jauh, dan kesedihan yang tak bernama tiba-tiba mencengkeram hatinya.
"Mengapa aku tidak bisa berbunga dan berbuah?" pohon itu bertanya pada dirinya sendiri, dalam diam di tengah malam-malam musim panas yang sejuk, malam-malam yang diterangi bulan purnama, dan tawa anak-anak yang bergema di angin.
"Aku sudah berusaha sekuat tenaga!" bisik pohon itu. "Aku bangun saat fajar, menyambut tetesan embun segar pertama, aku mengobrol dengan lebah dan kupu-kupu, aku meregangkan tubuh untuk merasakan angin dan matahari... namun..."
Seiring berjalannya waktu, pohon apel itu tumbuh tanpa suara. Dari awal yang sederhana, ia telah menjadi pohon tua yang kokoh, akarnya tertanam dalam di bumi, cabangnya menyebar lebar seperti payung hijau yang sejuk, menaungi hamparan langit yang luas. Namun anehnya, dari musim panas hingga musim gugur, ia hanya menggugurkan daun-daun kuningnya, terbawa angin, tanpa pernah menghasilkan satu pun buah yang manis.
*
Suatu hari di musim panas, di bawah sinar matahari keemasan yang seperti madu, sekeluarga burung pengicau kecil terbang dan hinggap di cabang pohon apel. Mereka berkicau dan mengepakkan sayap, suara mereka bergema seperti nada-nada musik.
Pohon apel, bolehkah kami membuat sarang di dahan-dahanmu?
Mendengar suara burung pipit, pohon apel itu mengayunkan dedaunannya dengan lembut, suaranya selembut bisikan di angin.
- Ada cabang yang sangat kokoh di sana. Kamu sebaiknya membangun sarangmu di sana. Akan lebih aman, terlindungi dari hujan dan badai tiba-tiba yang bisa datang kapan saja.
Pada hari-hari berikutnya, sarang kecil dan halus itu, yang ditenun dengan teliti dari rumput lembut, bersiap menyambut makhluk-makhluk kecil yang akan lahir. Musim panas tiba-tiba berubah, hujan deras turun, dan angin kencang merobohkan banyak ranting di kebun. Di tengah badai, pohon apel tetap diam dan teguh. Pohon itu merentangkan ranting-rantingnya seperti jubah besar, melindungi sarang burung kecil yang gemetar diterpa angin dingin.
Di bawah naungan rindang pohon apel, anak-anak burung berbaring dengan tenang, kering dan hangat, tidur nyenyak di tengah suara lembut hujan yang turun. Induk burung pengicau berdiri di dahan, nyanyiannya bergema di angin dan hujan.
Terima kasih, pohon apel yang baik hati!
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pohon apel itu mendengar ucapan terima kasih. Jantungnya berdebar, setiap detak menghasilkan suara merdu dan berkilauan seperti melodi yang dibisikkan. Kegembiraan yang aneh, lembut, namun mendalam menyebar ke seluruh pohon.
Sejak hari itu, pohon apel itu tidak lagi kesepian. Ia menjadi rumah bersama bagi makhluk-makhluk kecil yang tak terhitung jumlahnya. Di lekukan cabang-cabangnya, lebah madu dengan tekun membangun sarang mereka. Di cabang-cabang yang tinggi, tupai-tupai kecil bermain-main, tawa riang mereka bergema di seluruh taman. Pohon apel itu berdiri di sana, diam namun bersinar, dengan tenang merangkul kehidupan-kehidupan kecil ini dalam pelukan hijaunya.
*
Di siang hari yang terik di musim panas itu, Nyonya Xuan sering meletakkan kursi rotan tuanya di bawah pohon apel. Terkadang ia merajut dengan santai, tangannya yang lembut bergerak lincah di bawah sinar matahari keemasan; di lain waktu ia membalik halaman buku-buku yang telah pudar dimakan waktu; dan terkadang ia terlelap dalam tidur yang tenang di bawah naungan dedaunan hijau yang sejuk.
Pohon apel itu berbisik lembut diterpa angin sepoi-sepoi.
- Mungkin aku tidak punya buah-buahan manis, tapi aku bisa mengulurkan tanganku untuk memberikan naungan bagi semua orang.
Setiap siang musim panas yang terik, anak-anak tetangga akan berkumpul di bawah pohon apel. Mereka akan menggelar tikar, menata mainan dan bungkusan kecil permen mereka, lalu bersandar pada batang pohon yang sejuk dan membaca buku komik, mata mereka menatap penuh khayal melalui celah-celah dedaunan yang berkilauan terkena sinar matahari. Tawa riang anak-anak bergema seperti aliran sungai yang mengalir di taman. Jauh di lubuk hatinya, pohon apel itu merasakan kehangatan, dan ia bergumam pada dirinya sendiri.
- Saya juga telah memberikan sedikit kontribusi pada kehidupan yang indah ini.
Kemudian suatu hari, berita tentang badai besar menyebar ke mana-mana. Langit menjadi gelap, dan angin menderu kencang. Langit menjadi hitam pekat, dan angin kencang merobohkan semak-semak dan pohon jeruk bali, meninggalkannya tercabut dan berserakan secara acak di seluruh kebun.
Pohon apel itu bergoyang hebat, angin menderu menerpa dedaunannya. Pohon-pohon lain menerjang ke arahnya, seolah mencari sesuatu untuk dipegang, mencakar kulit batangnya hingga tampak berdarah. Namun, pohon itu menancapkan akarnya dalam-dalam ke tanah, menopang dirinya, membungkuk di bawah beban untuk melindungi sarang burung kecil, sarang lebah yang bersarang di lubang-lubangnya, dan tanaman honeysuckle yang melilit cabang-cabangnya.
Ketika badai berlalu, kebun itu hancur berantakan. Daun-daun berserakan seperti karpet emas yang menyedihkan, ranting-ranting yang patah tergeletak di mana-mana. Tetapi di tengah pemandangan kehancuran ini, pohon apel itu masih berdiri tegak dengan tenang, batangnya compang-camping, ranting-rantingnya robek, namun tetap teguh melindungi makhluk-makhluk kecil di bawah kanopinya.
Setelah membersihkan puing-puing dan memangkas ranting-ranting yang patah, Nyonya Xuan berjalan perlahan ke pohon apel. Dengan lembut ia meletakkan tangannya yang sudah tua di batang pohon yang keriput dan terluka itu, berbisik seolah berbicara kepada seorang teman lama yang telah lama hilang.
Terima kasih, pohon apel yang pemberani.
Pada hari-hari berikutnya, anak-anak dan Ibu Xuan berkumpul untuk merawat pohon apel itu. Beberapa dengan hati-hati membalut luka yang bernanah, yang lain dengan rajin menyiraminya dan memetik setiap daun kering. Ibu Xuan menambahkan pupuk, menaburkannya di sekitar pangkal pohon dan dengan lembut merawat tanah seolah-olah merawat anggota keluarga tercinta. Memahami cinta yang diam ini, pohon apel itu berkata pada dirinya sendiri bahwa ia harus lebih kuat, untuk terus hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk tawa dan mimpi-mimpi kecil di bawah ranting-rantingnya.
Seiring waktu berlalu, pohon apel itu perlahan pulih. Daunnya kembali hijau subur, dan naungannya sekali lagi menyelimuti taman seperti perlindungan yang sunyi namun abadi, seperti cinta alam yang lembut namun tak pernah padam.
*
Tahun berikutnya, pada pagi yang cerah, Ny. Xuan melangkah keluar ke taman. Menatap pohon apel yang sudah dikenalnya, ia tiba-tiba terhenti, jantungnya berdebar kencang. Sebuah keajaiban sedang terjadi di depan matanya: di atas cabang-cabang hijau yang rimbun, bunga-bunga kecil berwarna putih bersih bermekaran dengan lembut, seindah kepingan salju pertama musim ini. Ny. Xuan berseru gembira.
Lihat! Pohon apelnya sudah berbunga!
Teriakan gembiranya menarik semua anak dari lingkungan sekitar ke arahnya. Mereka berkumpul di sekitar pohon itu, mata mereka lebar dan berbinar, seolah-olah mereka sedang berdiri di hadapan sebuah keajaiban.
- Cantik sekali!
Ukurannya sangat kecil, persis seperti kepingan salju sungguhan!
- Teruslah berjalan, pohon apelku sayang!
Lebah madu yang bersarang di rongga pohon itu juga berkicau dan berbisik kepada pohon apel.
- Berkat perlindunganmu, kami memiliki tempat yang tenang untuk membangun sarang kami. Sekarang, izinkan kami membantumu menyerbuki bunga-bunga!
Pohon apel itu menerima cinta itu dengan tenang, hatinya dipenuhi rasa syukur yang hangat.
Hari demi hari, di bawah sinar matahari keemasan yang lembut, kuncup bunga kecil tumbuh membesar, akhirnya membentuk apel yang montok dan bulat. Di musim gugur, mereka mewarnai seluruh pohon dengan warna merah yang cerah, aroma manisnya terbawa angin, memenuhi taman.
Untuk pertama kalinya, pohon apel berbuah bukan karena harus menyesuaikan diri dengan pola pohon lain, tetapi karena ia telah diam-diam mencintai, diam-diam melindungi, dan diam-diam memberikan segala yang dimilikinya melalui musim-musim yang tak terhitung jumlahnya di bawah sinar matahari dan angin.
Pada musim gugur itu, di bawah pohon apel, Ibu Xuan dan anak-anak mengadakan pesta kecil yang hangat. Apel merah cerah dipotong kecil-kecil dan dibagikan diiringi tawa riang. Apel pertama musim itu manis, manis seperti rasa syukur, manis seperti kenangan masa kecil yang jernih dan lembut.
Pohon apel itu berbisik lembut diterpa semilir angin musim gugur yang sejuk.
- Ternyata aku tidak perlu menjadi seperti orang lain. Cukup jalani hidup yang layak dan bersabar, maka keajaiban akan terjadi dengan sendirinya.
Matahari terbenam memandikan taman dengan cahaya keemasan. Pohon apel berdiri di sana dengan tenang, bersinar dengan caranya sendiri yang unik, seperti lagu lembut yang dikirimkan kepada semua hati yang tahu bagaimana mencintai, menunggu, dan berharap.
Sumber: https://baophuyen.vn/sang-tac/202505/chuyen-ve-cay-tao-c281d9a/






Komentar (0)