Dengan banyaknya programmer yang kehilangan pekerjaan, CEO Nvidia menyarankan Generasi Z untuk berhenti belajar pemrograman.
Dengan AI yang mampu menulis kode dalam hitungan detik, CEO Jensen Huang percaya bahwa kaum muda seharusnya mempelajari keterampilan pemecahan masalah, bukan hanya belajar coding.
Báo Khoa học và Đời sống•29/01/2026
Pasar teknologi global sedang menyaksikan gelombang PHK besar-besaran karena ratusan ribu programmer, sebagian besar di tingkat junior, terpaksa meninggalkan dunia kerja. Data dari Layoffs.fyi menunjukkan bahwa pada tahun 2023 dan awal 2024 saja, lebih dari 300.000 pekerjaan di bidang teknologi dihilangkan karena tugas-tugas berulang digantikan oleh AI.
Dalam konteks ini, CEO Nvidia Jensen Huang memicu kontroversi dengan menyarankan Generasi Z dan Generasi Alpha untuk tidak fokus pada pembelajaran pemrograman, tetapi berkonsentrasi pada keterampilan pemecahan masalah. Goldman Sachs juga memprediksi bahwa AI dapat menggantikan atau mendukung hingga 300 juta pekerjaan penuh waktu secara global dalam waktu dekat.
Karena alat-alat seperti ChatGPT atau GitHub Copilot dapat menulis kode lebih cepat dan lebih akurat daripada manusia, nilai dari sekadar mengetahui cara memprogram semakin menurun drastis. Menurut Forum Ekonomi Dunia, pemikiran analitis, kreativitas, dan penalaran logis adalah keterampilan prioritas utama bagi bisnis pada tahun 2027. Generasi muda perlu belajar bagaimana merancang sistem, merumuskan masalah yang tepat, dan menggunakan AI sebagai alat, bukan sekadar menjalankan perintah.
Di era AI, para ahli di masa depan bukanlah para pemrogram terbaik, melainkan mereka yang memahami manusia dan mampu memecahkan masalah di dunia nyata. Pembaca diundang untuk menonton video berikut: Pembersihan sampah bertenaga AI | Hanoi, 18.00
Komentar (0)