Setiap kali ia duduk untuk menulis, rasanya seperti ia mencoba melarikan diri dari dirinya sendiri, melarikan diri dari kekosongan di hatinya. Jari-jarinya meluncur cepat di atas keyboard, matanya mengikuti kata-kata yang bergulir di layar, tetapi pikirannya melayang ke momen-momen dalam hidupnya, saat-saat ketika ia membutuhkan berbagi, membutuhkan cinta dari pasangannya.
Suami yang dulu dianggapnya sebagai pasangan hidupnya kini seperti orang asing. Perasaan dingin saat ia pulang larut malam, tanpa sapaan atau pelukan hangat, menusuk hatinya. Setiap malam, ia duduk di mejanya, menulis laporan yang menyentuh hati tentang kehidupan dan nasib orang-orang, namun dalam hidupnya sendiri, dialah yang terlupakan. Ia menunggunya pulang, berharap akan ada percakapan singkat, tatapan penuh kasih sayang, tetapi yang ia terima hanyalah keheningan. Ia kurang pengertian dan empati, selalu menyalahkannya.
***
Seperti banyak reporter lainnya, Mien sangat akrab dengan hari kerja yang melelahkan, malam tanpa tidur, dan perjalanan terburu-buru ke tempat-tempat yang menantang. Dia tidak hanya menghadapi tekanan dari pekerjaannya tetapi juga harus menerima risiko memasuki daerah berbahaya untuk mengumpulkan informasi dan mengungkap kebenaran. Jurnalisme bukan hanya tentang menulis atau merekam informasi; ini adalah pertempuran tanpa henti. Di balik setiap laporan dan artikel terdapat upaya, kesulitan, dan bahaya yang hanya sedikit orang yang mengetahuinya.
Salah satu saat Mien menghadapi bahaya paling nyata adalah ketika menjalankan misi ke sebuah desa terpencil yang mayoritas penduduknya adalah kelompok etnis minoritas, tempat banyak masalah negatif muncul. Itu adalah tugas yang dia tahu akan sangat sulit. Untuk mencapai sumbernya, Mien harus menempuh perjalanan di sepanjang jalan terpencil yang sepi, di mana jaringan komunikasi lemah dan tidak ada sinyal telepon. Segala sesuatu hanya dapat dikomunikasikan melalui penduduk setempat, tetapi mereka juga ragu untuk membantunya karena takut mendapat masalah.
Mien pernah menghadapi ancaman dari "kekuatan bawah tanah," dari mereka yang ingin mencegah kebenaran terungkap. Suatu kali, saat ia meliput kasus korupsi di industri tersebut, ia menerima panggilan anonim. Sebuah suara serak di telepon memperingatkannya: "Semakin banyak Anda menulis, semakin banyak masalah yang akan Anda hadapi. Jika Anda tidak berhenti, Anda akan menanggung akibatnya." Mien tahu ini bukan lelucon, tetapi ancaman serius. Namun, hati nurani dan etika profesionalnya mencegahnya untuk berhenti, karena keadilan menuntut agar kebenaran tidak boleh diputarbalikkan, tetapi kecemasannya juga nyata.
Tekanan itu bukan hanya berasal dari bahaya langsung, tetapi juga dari tekanan mental. Dia terus-menerus harus bekerja di bawah tenggat waktu yang ketat, memastikan ketepatan waktu sambil mempertahankan kedalaman dan akurasi. Panggilan tanpa henti dari editor, yang meminta pembaruan dan koreksi, terkadang membuat Mien merasa sesak napas. Ada kalanya dia baru saja menyelesaikan sebuah artikel, hampir tidak punya waktu untuk beristirahat, dan kemudian harus segera berangkat untuk perjalanan bisnis lain, bahkan tanpa sempat makan.
Selain itu, Mien juga menghadapi kesulitan dalam mengumpulkan informasi. Orang-orang tidak selalu bersedia berbagi cerita mereka, terutama ketika mereka takut akan konsekuensi atau pembalasan. Dia harus menggunakan semua kebijaksanaan, kesabaran, dan ketulusannya untuk membangun kepercayaan dengan orang-orang dan saksi, membujuk mereka untuk terbuka dan berbagi cerita mereka. Dia harus mendengarkan kisah-kisah yang memilukan dan menyakitkan yang banyak orang tidak berani ceritakan, dan terkadang, kisah-kisah itulah yang membuatnya tidak bisa tidur di malam hari.
Bagi seorang reporter seperti Mien, setiap hari kerja adalah tantangan, bukan hanya secara fisik tetapi juga mental. Ia hidup di bawah tekanan yang sangat besar untuk menyampaikan informasi yang akurat, menghadapi situasi berbahaya, dan menolak godaan sambil tetap menjaga objektivitas dan profesionalisme. Di balik setiap artikel dan laporan yang ia tulis terdapat upaya tanpa henti dan pengorbanan yang tak terlihat.
***
Setiap hari, Mien tenggelam dalam tulisannya, seolah-olah itu satu-satunya tempat di mana ia menemukan ketenangan. Kisah-kisah, penderitaan, dan pengorbanan yang ia tulis tampak seperti potongan-potongan kesepian di dalam hatinya. Tak peduli berapa banyak artikel bagus yang ia tulis di surat kabar, berapa banyak penghargaan yang ia menangkan dalam ujian, atau berapa banyak pujian yang ia terima, di rumahnya sendiri, Mien tetap menjadi sosok yang kesepian, tak diperhatikan dan tak dipahami.
Membaca tulisan Mien, seseorang melihat diri mereka sendiri tercermin di dalamnya, baik sebagai ibu tunggal yang berjuang, buruh miskin, atau wanita muda yang penuh ambisi. Setiap kata, lembut namun tajam, bagaikan sapuan kuas yang menggambarkan lanskap kehidupan yang genting, di mana mimpi dan penderitaan saling terkait tanpa henti. Rasa sakit terbesar Mien adalah konflik batin. Ia menyampaikan laporan investigasi yang menarik dan kisah-kisah yang menginspirasi, membantu orang memahami penderitaan dan ketidakadilan masyarakat, namun ia sendiri tidak dapat menemukan jalan keluar.
Dengan kecantikan dan bakatnya, Mien selalu dipuji oleh semua orang, tetapi di balik pujian itu tersembunyi seorang wanita yang harus menghadapi begitu banyak kesedihan, menyembunyikan air matanya di malam hari. Selama lebih dari sepuluh tahun, Mien hidup dalam pernikahan yang rapuh, acuh tak acuh, dan dingin. Namun demikian, Mien tidak pernah menyesal memilih jurnalisme. Itu adalah jalan yang bisa ia tempuh untuk mencari kebenaran, mengungkap kebenaran, dan membela keadilan. Ia bangga dengan profesinya, meskipun di balik kemewahan itu terdapat pengorbanan yang besar.
Sumber: https://baothainguyen.vn/van-hoa/van-hoc-nghe-thuat/202504/con-duong-da-chon-f4b0bb1/






Komentar (0)