Masyarakat Vietnam menikmati musik dengan dua cara: musik sebagai sebuah peristiwa untuk dialami, dibagikan, dan diekspresikan, serta musik sebagai seni untuk dirasakan dan didengarkan.
Berikan yang terbaik di konser!
Hanya dalam beberapa tahun, pasar konser langsung di Vietnam telah memasuki fase yang sama sekali berbeda: harga tiket tidak lagi diukur dalam "ratusan ribu," tetapi dimulai dari jutaan – bahkan mencapai puluhan juta dong. Angka-angka ini tidak hanya mencerminkan daya tarik para artis, tetapi juga menunjukkan struktur ekonomi baru yang terbentuk di balik musik.

Malam musik di ruang teh Ben Thanh (Kota Ho Chi Minh). Foto: HA THANH PHUC
Konser langsung "See The Light" milik My Tam adalah contoh utamanya. Harga tiket berkisar dari sekitar 1,5 juta hingga 12 juta VND untuk kategori tertinggi – harga yang dulunya dianggap "tak terbayangkan" untuk pasar domestik. Yang menarik, semua tiket terjual habis dengan cepat, bahkan kategori premium pun terjual habis sebelum pertunjukan dimulai.
Sementara itu, konser "Sketch A Rose" Ha Anh Tuan di Vietnam biasanya memiliki harga tiket berkisar antara 1,5 juta hingga 6 juta VND. Namun, ketika pertunjukan tersebut diadakan secara internasional, harga tiket tertinggi mencapai 450 USD (sekitar 11,7 juta VND). Jelas, tingkat harga tiket konser di Vietnam saat ini mendekati – atau bahkan mencapai – tingkat harga tiket pertunjukan internasional.
Konser "Brother", pertunjukan yang sangat dinantikan di tahun 2024-2025: tiket VIP selalu habis terjual sebelum pertunjukan dimulai. Konsep "berburu tiket untuk melihat idola" dimulai dengan pertunjukan pertama dari seri konser langsung "Brother Says Hi" dan "Brother Overcomes a Thousand Obstacles". Hingga saat ini, setiap pertunjukan telah menggelar malam ke-9, tetapi fenomena "berburu tiket" tetap intens. Menurut data pasar tiket, tiket SVIP (premium) untuk konser-konser ini berkisar antara 10 juta hingga 12 juta VND per pasang dan "habis terjual hanya dalam beberapa menit." Ini jelas mencerminkan sebuah realitas: tiket premium selalu yang pertama terjual habis, dan pembelinya bukanlah mayoritas melainkan kelompok dengan daya beli tinggi.
Sebelumnya, konser di Vietnam sering dianggap "lebih murah daripada di kawasan ini." Namun, kesenjangan ini sekarang dengan cepat menyempit. Tiket untuk konser domestik berkisar antara 1,5 juta hingga 12 juta VND; tiket untuk konser artis Vietnam di luar negeri berkisar antara 3 juta hingga 11,7 juta VND, dan tiket untuk acara fancon penyanyi muda juga berkisar antara 1,5 juta hingga 4 juta VND per tiket. Beberapa konser internasional di Vietnam, seperti K-pop, harganya sekitar 8 juta hingga 9,8 juta VND per tiket VIP. Ini menunjukkan bahwa pasar Vietnam tidak lagi memiliki "kesenjangan harga" tetapi mendekati standar regional di segmen kelas atas.
Bersantai dan rileks di ruang teh.
Sementara pasar konser arus utama terus memecahkan rekor harga tiket, sebuah pergeseran yang tenang namun signifikan sedang terjadi: penonton mulai mencari tempat-tempat yang lebih kecil – dari kedai teh hingga panggung akustik – di mana musik hampir seluruhnya dimainkan secara langsung. Pergeseran ini tidak hanya mencerminkan perubahan selera tetapi juga mengungkapkan perspektif budaya yang lebih dalam tentang bagaimana masyarakat Vietnam mengonsumsi musik dalam konteks baru ini – terutama karena pihak berwenang semakin menindak tegas praktik lipsync.
Di kedai teh besar di Kota Ho Chi Minh, seperti Khong Ten atau Ben Thanh, harga tiket biasanya berkisar antara 300.000 hingga 800.000 VND untuk malam musik biasa, dan 1 juta hingga 2 juta VND untuk artis terkenal atau malam spesial. Dibandingkan dengan konser yang harganya beberapa juta hingga lebih dari 10 juta VND, kisaran harga ini lebih "terjangkau". Namun, yang membuat kedai teh tetap menarik penonton bukanlah harga yang murah, melainkan pengalaman yang unik. Ruang yang kecil (100-300 kursi), band live, minim atau tanpa playback, dan interaksi yang erat antara penyanyi dan penonton – di sini, musik bukan hanya "pertunjukan," tetapi pengalaman mendengarkan yang sesungguhnya.
Sementara konser adalah "peristiwa langka," kedai teh beroperasi dengan logika yang sama sekali berbeda: pertunjukan berlangsung setiap minggu, bahkan setiap malam; artis dapat tampil terus menerus selama beberapa malam dalam sebulan; penonton kembali berulang kali, bukan hanya "pergi sekali karena penasaran"... Permintaan akan "pendengaran otentik" di antara sebagian penonton juga meningkat, dengan kedai teh memprioritaskan kualitas vokal daripada visual.
Menurut sumber internal, pasar musik Vietnam sedang membentuk tren baru dalam cara musik didekati dan dinikmati: ruang teh yang nyaman dan konser-konser megah. Dalam konteks di mana "mendengarkan secara otentik" menjadi standar baru, mungkin pertanyaan krusialnya bukanlah "Di mana kita mendengarkan?" tetapi lebih tepatnya "Mengapa kita mendengarkan?".
Biayanya cukup besar.
Konser modern merupakan "proyek produksi" sejati dengan panggung berskala besar (pertunjukan stadion dengan 40.000 penonton seperti My Tam), orkestra simfoni, band pengiring, paduan suara (dalam pertunjukan Ha Anh Tuan); teknologi pencahayaan, layar LED, efek visual, dan biaya operasional, asuransi, logistik... (dalam pertunjukan seperti "Brother"). Elemen-elemen ini mendorong biaya hingga puluhan miliar VND, memaksa produser untuk menetapkan harga tiket yang lebih tinggi untuk menyeimbangkan biaya. Tiket konser bukan lagi sekadar produk hiburan tetapi telah menjadi bentuk "pengalaman yang bernilai sosial".
Sumber: https://nld.com.vn/concert-bung-no-phong-tra-thang-hoa-196260506195103112.htm










