Banyak orang tua saat ini fokus mengajarkan anak-anak mereka keterampilan hidup, bahasa asing, teknologi, dan lain-lain, tetapi lupa mengajarkan sesuatu yang sangat penting: mencintai dan bertanggung jawab terhadap keluarga mereka. Ketika kakek-nenek sakit atau orang tua menua, banyak anak menjadi bingung, acuh tak acuh, atau percaya bahwa merawat kerabat adalah tanggung jawab "orang dewasa".
Ketika anak-anak tumbuh besar dengan dilayani secara satu arah.
Banyak keluarga mendapati diri mereka dalam situasi di mana orang dewasa di rumah berfokus melayani anak-anak mereka. Anak-anak hanya perlu berkonsentrasi pada belajar, sementara segala sesuatu lainnya diurus oleh kakek-nenek dan orang tua mereka. Mulai dari makanan dan pakaian hingga membersihkan kamar dan mengingatkan mereka tentang jadwal belajar, semuanya disiapkan terlebih dahulu.
Seiring waktu, anak-anak mengembangkan pola pikir bahwa "mendapatkan perhatian adalah hal yang sudah pasti." Mereka kurang memperhatikan perasaan, kelelahan, atau kebutuhan orang yang mereka cintai.

Psikolog Duong Thu Ha (Direktur Institut Psikologi Kehidupan)
Psikolog Duong Thu Ha (Direktur Institut Psikologi Kehidupan) percaya bahwa kurangnya kepedulian di antara sebagian anak-anak saat ini bukan sepenuhnya karena sifat egois mereka, melainkan berasal dari pola pengasuhan mereka. Ketika anak-anak tidak pernah diberi tanggung jawab dalam keluarga, tidak didorong untuk berbagi pekerjaan rumah tangga atau merawat kerabat, mereka akan kesulitan untuk mengembangkan rasa bakti kepada orang tua secara alami.
Berbakti kepada orang tua bukanlah tentang menghasilkan banyak uang untuk menafkahi orang tua di masa tua mereka. Itu dimulai dengan mengetahui keadaan kakek-nenek Anda, mengambilkan segelas air untuk ibu Anda, mengingat ulang tahun kerabat Anda, atau mengetahui cara duduk dan mendengarkan ketika orang tua Anda lelah.
Ajari anak-anak Anda melalui hal-hal sederhana sehari-hari.
Ada sebuah kisah mengharukan tentang seorang gadis berusia 9 tahun bernama Linh. Setiap malam sebelum tidur, dia pergi ke kamar neneknya untuk memijat punggung neneknya. Terkadang neneknya berkata, "Tidurlah!", tetapi Linh hanya tersenyum dan berkata, "Aku akan memijatnya sedikit untuk mengurangi rasa sakitmu."
Ibu Linh menceritakan bahwa ia tidak pernah "memaksa" putrinya untuk berbakti. Sejak kecil, ia membiarkan putrinya membantunya merawat neneknya: mengingatkannya untuk minum obat, mengajaknya jalan-jalan, dan menjenguknya ketika ia lelah. Dengan mengamati bagaimana ibunya memperlakukan neneknya, anak itu secara alami belajar untuk menyayanginya.
Anak-anak tidak mempelajari bakti kepada orang tua melalui ceramah panjang lebar, tetapi melalui bagaimana orang tua mereka menjalani kehidupan sehari-hari. Jika anak-anak sering menyaksikan orang tua mereka bersikap mudah marah kepada kakek-nenek mereka dan menghindari tanggung jawab mereka dalam merawat orang tua, mereka akan kesulitan memahami nilai rasa syukur dan kasih sayang. Sebaliknya, ketika orang tua secara proaktif menelepon untuk menanyakan kabar kakek-nenek mereka dan meluangkan waktu untuk merawat kerabat yang sakit, anak-anak secara bertahap akan mengembangkan gagasan bahwa merawat keluarga adalah hal yang wajar.
Banyak orang tua mengeluh bahwa anak-anak mereka acuh tak acuh, tetapi mereka sendiri terlalu sibuk untuk membangun hubungan keluarga dengan anak-anak mereka. Di beberapa rumah tangga, semua orang asyik dengan ponsel mereka, dan bahkan waktu makan pun menjadi waktu yang minim percakapan. Anak-anak tumbuh dikelilingi oleh kenyamanan materi tetapi kurang memiliki pengalaman cinta yang tulus. Orang tua perlu membantu anak-anak mereka memahami bahwa merawat keluarga bukanlah kewajiban yang memberatkan, tetapi cara untuk mengungkapkan cinta.
Mengajarkan anak-anak tentang bakti kepada orang tua terkadang dimulai dari hal-hal yang sangat kecil: meminta mereka mengambilkan segelas air untuk kakek mereka, membantu ibu mereka memasak makanan untuk nenek mereka, mengajak mereka mengunjungi kerabat di akhir pekan, atau mengajari mereka untuk mengucapkan terima kasih.
Bakti kepada orang tua adalah hadiah bagi anak itu sendiri.
Banyak orang berpikir bahwa mengajarkan anak untuk berbakti adalah untuk kepentingan orang tua di kemudian hari. Namun kenyataannya, yang lebih berharga adalah anak-anak akan tumbuh dengan semangat penyayang, suka berbagi, dan bertanggung jawab.
Anak-anak yang menunjukkan perhatian dan kepedulian terhadap keluarga mereka cenderung lebih berempati, baik hati, dan lebih mampu membangun hubungan yang langgeng sebagai orang dewasa.
Seorang ibu pernah bercerita kepada psikolog Thu Ha bahwa hal yang paling membahagiakannya bukanlah keberhasilan akademis anaknya, melainkan saat ia lelah dan berbaring untuk beristirahat, lalu anaknya dengan tenang menyelimutinya dengan handuk dan berkata, "Bu, tidurlah, aku bisa belajar sendiri."
Bakti kepada orang tua dimulai sejak seorang anak belajar memikirkan orang lain di luar dirinya sendiri. Dan untuk mencapai hal itu, keluarga perlu menabur benihnya hari ini, melalui tindakan kasih sayang yang kecil namun terus-menerus.
3 hal yang dapat diajarkan orang tua kepada anak-anak mereka tentang bakti kepada orang tua di masyarakat modern.
1. Berikan tanggung jawab yang sesuai kepada anak-anak Anda di dalam keluarga.
Libatkan anak-anak dalam pekerjaan rumah tangga, merawat kakek-nenek, dan menanyakan keadaan kerabat untuk menumbuhkan kebiasaan berbagi alih-alih hanya menerima pelayanan.
2. Ajari anak-anak Anda melalui cara Anda memperlakukan kakek-nenek mereka.
Anak-anak belajar lebih banyak melalui pengamatan daripada melalui kata-kata. Rasa hormat dan perhatian orang tua kepada orang tua adalah pelajaran paling langsung tentang bakti kepada orang tua.
3. Ciptakan waktu berkualitas untuk mempererat ikatan keluarga.
Makan bersama, percakapan, kunjungan ke kampung halaman, atau membantu merawat kerabat akan membantu anak-anak memahami nilai ikatan keluarga dan rasa syukur.
DEPARTEMEN KEBUDAYAAN RAKYAT, KELUARGA DAN PERPUSTAKAAN - KEMENTERIAN KEBUDAYAAN, OLAHRAGA DAN PARIWISATA MENGKOORDINASIKAN PELAKSANAANNYA!
Sumber: https://phunuvietnam.vn/day-con-hieu-thao-tu-ung-xu-hang-ngay-238260630142149618.htm










