Menurut para ahli, teknologi ini menawarkan banyak keuntungan seperti tingkat keamanan yang lebih tinggi, waktu konstruksi yang lebih singkat, kemampuan penerapan yang fleksibel, dan integrasi yang mudah dengan sistem energi terbarukan. Ini juga merupakan tren yang sedang diteliti oleh banyak negara untuk memenuhi tujuan netralitas karbon jangka panjang mereka.
Sementara itu, Jepang berencana untuk mengganti beberapa reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir pada tahun 2040 untuk memastikan pasokan energi yang stabil dan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil. Tokyo memperkirakan akan mengganti antara 2 hingga 5 reaktor dengan total kapasitas 2,2-5,5 GW pada tahun 2040-an dan 9 reaktor lainnya pada tahun 2050-an.
Menurut Rencana Induk Energi Nasional, tenaga nuklir akan menyumbang 20% dari bauran pembangkit listrik nasional pada tahun 2040. Namun, angka tersebut hanya mencapai 9,4% pada tahun 2024.
Untuk mencapai tujuan ini, Jepang tidak hanya harus menghidupkan kembali reaktor yang telah dinonaktifkan, tetapi juga mengganti reaktor yang telah mencapai masa operasional 60 tahun sebagaimana diatur dalam peraturan yang berlaku, serta membangun reaktor baru atau memperluas kapasitas di pembangkit listrik yang sudah ada.
Namun, skala dan ambisi kekuatan nuklir Jepang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sekutu terdekatnya, Amerika Serikat.
Presiden Donald Trump baru-baru ini mengeluarkan serangkaian perintah eksekutif untuk memulai kembali penggunaan tenaga nuklir di Amerika Serikat, termasuk pembangunan puluhan reaktor canggih. AS adalah produsen tenaga nuklir terbesar di dunia, menyumbang sekitar 30% dari produksi global. Tenaga nuklir menyumbang 19% dari total produksi listrik AS, dan negara ini bertujuan untuk melipatgandakan kapasitas tenaga nuklirnya menjadi 400 GW pada tahun 2050.
Menjelaskan kebangkitan kembali tenaga nuklir yang kuat, pada KTT energi nuklir internasional yang diadakan di Prancis pada bulan Maret di tengah konflik Timur Tengah, Presiden tuan rumah Emmanuel Macron menekankan bahwa tenaga nuklir tidak hanya membantu negara-negara memperkuat kemandirian energi mereka tetapi juga memainkan peran penting dalam mengurangi dampak fluktuasi geopolitik .
Macron berpendapat bahwa memulihkan dan mengembangkan tenaga nuklir dapat membantu menstabilkan perekonomian terhadap guncangan energi global. Meskipun perdebatan masih berlanjut, dalam konteks dunia yang menghadapi ketidakpastian energi yang semakin meningkat, tenaga nuklir tampaknya kembali menjadi pusat strategi energi nasional.
Sebagai contoh, Indonesia telah menyatakan akan menjadikan tenaga nuklir sebagai bagian sentral dari strategi energi jangka panjangnya, tidak lagi menganggapnya sebagai "pilihan terakhir" tetapi sebagai pilar keamanan energi nasional. Jakarta menargetkan pengoperasian pembangkit listrik tenaga nuklir pertamanya pada tahun 2032 dan memperluas kapasitasnya menjadi 44 GW pada tahun 2060. Pangsa energi nuklir dalam bauran energi nasional diperkirakan akan mencapai 5% pada tahun 2030-an dan 11% pada tahun 2060.
| Amerika Serikat memimpin dunia dalam produksi energi nuklir dengan 97 GW, diikuti oleh China (66 GW), Prancis (63 GW), Jepang (32 GW), Rusia (28 GW), Korea Selatan (26 GW), dan Ukraina (13 GW). Namun, dalam hal pangsa dalam struktur kelistrikan nasional, Prancis memimpin dunia dengan lebih dari 67%. |
HARI NASIONAL (Kompilasi)
Sumber: https://baocantho.com.vn/dien-hat-nhan-len-ngoi--a206445.html








