Di balik anak-anak yang "baik"
Seorang siswi kelas delapan di Hanoi selalu menjadi kebanggaan keluarganya karena prestasi akademiknya yang luar biasa, kesopanannya, dan jarang menimbulkan masalah bagi orang tuanya. Namun, ketika guru wali kelasnya berbicara dengannya secara pribadi, ia mengakui bahwa ia sering stres karena tekanan akademik tetapi tidak ingin menceritakannya karena takut membuat orang tuanya khawatir.
Kisah itu bukanlah kasus terisolasi. Di banyak keluarga, anak-anak diajarkan sejak usia dini untuk patuh, belajar giat, dan tidak mengecewakan orang tua mereka. Namun, terkadang penekanan yang berlebihan pada kepatuhan dapat menyebabkan perasaan sejati anak-anak terabaikan.

Banyak orang dewasa masih terbiasa mengatakan hal-hal seperti, "Tidak ada yang perlu ditangisi," "Tetaplah kuat," "Jangan terlalu banyak berpikir," atau "Jangan mengecewakan orang tuamu." Seiring waktu, banyak anak mengembangkan kebiasaan menyembunyikan emosi mereka, memilih diam ketika menghadapi tekanan akademis, konflik dengan teman, atau kesulitan dalam hidup.
Dalam konteks perkembangan media sosial yang pesat, siswa masa kini juga menghadapi banyak tekanan dari perbandingan tak terlihat terkait prestasi, penampilan, atau kesuksesan. Banyak yang merasa lelah tetapi tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaan mereka.
Menyadari hal ini, banyak sekolah mulai lebih memperhatikan kesejahteraan mental siswa mereka. Di Sekolah Menengah Phuc Dien di Kelurahan Phu Dien, pelajaran GENZ diselenggarakan sebagai ruang bagi siswa untuk berbagi pikiran, mengekspresikan perasaan, dan lebih memahami diri mereka sendiri. Kegiatan seperti ini tidak hanya membantu siswa menjadi lebih percaya diri tetapi juga berkontribusi dalam membangun lingkungan belajar yang menyenangkan di mana mereka didengarkan dan dihormati.
Tidak hanya siswa, tetapi banyak orang tua juga secara bertahap menyadari bahwa yang dibutuhkan anak-anak mereka bukanlah kontrol atau nasihat terus-menerus, melainkan kehadiran dan pemahaman dari orang tua mereka. Dalam program "Pengasuhan yang Tepat" yang diselenggarakan oleh Institut Psikologi Sekolah, yang dihadiri hingga 500 orang tua, banyak yang merenungkan perjalanan pengasuhan mereka dan menyadari bahwa kesenjangan antara orang tua dan anak terkadang bukan berasal dari kurangnya kasih sayang, tetapi dari orang dewasa yang tidak benar-benar tahu bagaimana mendengarkan dan mendukung anak-anak mereka.
Kita perlu memandang anak-anak sebagai individu yang mandiri.
Banyak pakar pendidikan percaya bahwa anak-anak terkadang merupakan cermin yang merefleksikan kembali orang dewasa. Hal ini karena banyak harapan, kecemasan, atau reaksi yang tidak terkendali dari orang tua sebenarnya tidak berasal dari anak, melainkan dari pengalaman, trauma, atau pola yang terakumulasi dalam kehidupan orang dewasa itu sendiri.
Dalam perjalanan membesarkan anak, banyak orang tua berharap anak-anak mereka akan lebih sukses daripada diri mereka sendiri, mencapai hal-hal yang belum mampu mereka lakukan, atau menghindari pengulangan kesalahan yang telah mereka buat. Keinginan ini berakar dari kasih sayang. Namun, ketika harapan berubah menjadi tekanan, orang tua cenderung memandang anak-anak mereka melalui lensa keinginan pribadi mereka sendiri, alih-alih melihat mereka sebagai individu yang mandiri dengan kemampuan, minat, dan emosi mereka sendiri. Dalam hal ini, anak dengan mudah menjadi sasaran harapan daripada seseorang yang pantas didengarkan dan dipahami.

Senada dengan pandangan tersebut mengenai peran empati dalam mendidik anak, Dr. Nguyen Thi Ngoc Minh, Dosen di Fakultas Sastra, Universitas Pedagogi Hanoi, percaya bahwa banyak orang tua saat ini terlalu banyak hidup di dunia informasi dan melupakan dunia nyata. Banyak yang menghabiskan waktu meneliti metode pendidikan atau kisah sukses di media sosial tetapi kurang waktu untuk mengamati, berbicara, dan mendengarkan anak-anak mereka.
Menurut Dr. Ngoc Minh, ketika orang tua memandang anak-anak mereka melalui lensa harapan dan stereotip kesuksesan, mereka dengan mudah mengabaikan karakteristik unik anak-anak mereka. Banyak orang tua tidak benar-benar memahami kekuatan atau minat anak-anak mereka, namun mereka dengan tergesa-gesa memilih jalan bagi mereka, berharap anak-anak mereka akan berhasil seperti panutan yang mereka kagumi. Belajar melepaskan harapan dan melihat anak-anak sebagai individu yang unik merupakan tantangan yang signifikan, tetapi juga merupakan syarat penting untuk membangun pemahaman dan hubungan dalam keluarga.
Dari perspektif pendidikan emosional, Ibu To Thuy Diem Quyen, Spesialis Pendidikan Kreatif Unggulan Microsoft, percaya bahwa banyak siswa saat ini kesulitan berbagi perasaan mereka dengan keluarga dan guru karena mereka selalu takut mengecewakan orang tua mereka. Ketika mereka ingin mengungkapkan kelelahan atau stres, mereka sering memilih untuk menderita sendirian. Menurut pakar ini, alih-alih terburu-buru menghakimi benar atau salah atau memberikan nasihat, orang tua perlu belajar mendengarkan dan mendukung anak-anak mereka. Ketika anak-anak merasa aman dan dihormati, mereka akan lebih terbuka untuk berbagi perasaan dan kesulitan yang mereka hadapi.
Dalam perjalanan setiap anak menuju kedewasaan, mempelajari pengetahuan dan mengembangkan keterampilan sama pentingnya. Tetapi yang terpenting, anak-anak perlu diakui sebagai individu yang mandiri dengan emosi, pikiran, dan kebutuhan mereka sendiri. Hanya ketika mereka didengarkan dan dipahami, anak-anak dapat berkembang secara sehat, percaya diri, dan bahagia. Dan itulah juga titik awal dari kemitraan yang benar-benar bermakna antara orang tua dan anak-anak.
Sumber: https://hanoimoi.vn/dong-hanh-cung-con-tu-su-thau-hieu-1207827.html






